Membaca Pokok-Pokok Geostrategi Cina di Jalur Sutra (3)

Bagikan artikel ini

Bahwa implementasi suatu ideologi, niscaya memiliki karakter, ada ciri, atau mempunyai pola bersifat khas yang membedakan dengan ideologi lain terutama ketika menjalankan suatu misi (geostrategi) dalam rangka meraih visi (geoekonomi).

Bagi pakar —ahlinya ahli— cukup dengan mencermati isu atau fenomena di permukaan, biasanya ia bisa langsung menebak, “Ah, si Anu lagi bermain. Nanti prosesnya begini, ujungnya pasti begitu, dan seterusnya”. Ya karena insting sang pakar, sebuah agenda dan skema sebuah penjajahan terhadap suatu negara tertentu bisa dibaca sejak permulaan, atau setidaknya terdeteksi meski permainan baru mulai di tahapan awal (penyebaran isu, contohnya).

Pola kapitalisme yang kerap dimainkan oleh Barat cq Amerika Serikat (AS) dan sekutu di panggung geopolitik global adalah, “Peran negara/militer berada di depan membuka kavling-kavling, sedang donatur (pengusaha/partikelir) mendukung di belakangnya.” Pola ini kerap berulang dan hampir menjadi suatu kredo. Contohnya adalah penyerbuan militer koalisi pimpinan AS ke Afghanistan (2001), Irak (2003) dan lain-lain merupakan geostrateginya di tataran praktis. Kenapa? Usai pemimpin kedua negara target dijatuhkan secara militer, maka kekayaan alam negara target pun menjadi bancaan Multi-National Corporations (MNCs) bidang migas dari negeri mereka.

Pola (kapitalisme) di atas, kebalikan dari pola komunisme, dimana justru pengusaha yang maju di depan membuka ladang-ladang investasi di luar, namun ada back up negara dan/atau militer di belakang mereka. Itu perbedaan pola keduanya secara sepintas.

Dalam geopolitik, tata cara memainkan pola-pola baik komunisme maupun kapitalisme itu disebut “geostrategi” atau istilah lainnya ialah “perilaku geopolitik”.

Untuk menandai siapa bermain di belakang geostrategi, lazimnya ada perilaku yang khas/spesifik daripada sekedar hal-hal yang diurai sekilas di atas. British Geopolitics (BG), misal, pada pola kapitalisme, memiliki ke-khas-an tersendiri yakni mencaplok dahulu simpul-simpul transportasi baik bandara udara, pelabuhan laut atau infrastrukur lain yang dinilai strategis, kemudian baru merangsek ke aspek-aspek lain.

Selanjutnya bila mereviu kembali perilaku BG sewaktu mengkoloni Cina melalui pintu Perang Candu I (1839 – 1842) dan Perang Candu II (1856 – 1860), tersurat dua perilaku khas dari geostrategi atau perilaku geopolitik Inggris.

Pertama, mencaplok dulu simpul transportasi, kemudian merambah ke sektor (geoekonomi) yang lain. Dalam hal ini, Cina tempo doeloe dipaksa menyerahkan sebelas pelabuhannya termasuk Hongkong setelah kalah perang;

Kedua, meracuni bangsa jajahan melalui penyebaran narkoba (candu) untuk menghancurkan kesadaran warga serta melemahkan daya juang dan daya lawan generasi muda atas kolonialisme di negaranya. Poin yang dapat dipetik, bahwa narkoba ialah alat atau sarana termurah merusak bangsa.

Learning by doing. Pengalaman adalah guru yang baik, kata si bijak. Experiance is the best teacher. George Santayana (1863 – 1952), filsuf Spanyol berkata, “Mereka yang tak mengenal masa lalunya, dikutuk untuk mengulangi”. Tentang masa lalu, Bung Karno (BK) pun menyatakan, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” atau kerap disebut JASMERAH. Bagi kedua tokoh di atas, masa lalu atau sejarah dinilai urgen lagi sangat vital dalam kehidupan baik individu, entitas, bahkan bangsa dan negara. Begitu urgennya bab sejarah dan/atau masa lalu, sehingga BK memilih diksi: “jangan sekali-kali” untuk penekanan tingkat kevitalan, sedang Santayana memakai frasa: “dikutuk untuk mengulangi”. Akan tetapi, meski sejarah adalah masa lalu, namun tidak semua masa lalu dianggap sejarah. Kenapa? Charles Reith dalam buku The Blind Eye of History menyebut, bahwa sejarah bukanlah semua yang terjadi tetapi apa yang terjadi yang menjadi perhatian masyarakat. Nah, jika merujuk asumsi Reith, maka sejarah merupakan simpul-simpul peristiwa di masa lalu yang layak dijadikan hikmah serta momentum.

Dan agaknya, Cina menjadikan kolonialisme Barat terutama Perang Candu selain sebagai catatan kelam, juga memaknai momentum emas kebangkitannya setelah beberapa abad kemudian. Pertanyaannya, “Hikmah apa yang diambil untuk kebangkitan Cina akibat Perang Candu I dan II?”

(Bersambang ke Bag 4)

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments