Membaca Resonansi Politik di Bumi Pertiwi

Bagikan artikel ini

Catatan Kecil Geopolitik

Konstalasi politik di negara apapun, kapanpun, dan pada bangsa manapun — sesungguhnya hanya resonansi dinamika (geo) politik global. Ini prolog catatan. Ketika berkembang asumsi bahwa konflik lokal bagian dari konflik global, maka asumsi itu bukannya faktor kebetulan jika kedua frasa tadi tersambung.

Selanjutnya, diksi “resonansi” artinya, bahwa bergetarnya suatu benda akibat (pengaruh) getar dari benda lain. Semacam efek getaran atau getar yang sambung-menyambung karena terhubung dalam dan/atau satu frekwensi. Itu definisi ringkas dari resonansi.

Dengan demikian, tatkala mengamati dan mencermati politik praktis di suatu negara tertentu, secara resonansi —minimal— harus mengetahui terlebih dahulu seluk beluk (geo) politik global selaku epicentrum (titik pusat) getaran. Entah membaca perkembangan isu aktual di level global, entah mengenali dahulu tema/agenda yang tengah diusung para adidaya, atau mencoba memahami skema yang hendak dihamparkan dan seterusn. Hal ini mutlak, sebab resonansi itu keniscayaan. Kenapa? Tak lain agar telaah/kajian terhadap konstalasi politik di kawasan/negara tertentu, selain berbanding lurus dengan alur global atau pada frekwensi sama, juga kontekstual.

Tanpa mengikuti pola resonansi di atas, sang pemerhati meski ia senior sekalipun, selain kajiannya berpotensi tak matching, kehilangan jejak, atau terombang-ambing di lautan hoax, tertipu oleh false flag operation dan lain-lain, bangunan narasi yang dirumuskan nantinya juga dapat missing link. Ada semacam alur yang terputus. Tetapi, sebenarnya bukan terputusnya narasi, permasalahannya lebih kepada maqom atau cakrawala si pembaca dianggap belum matching ke epicentrum getaran.

Hari ini —sekedar contoh — di Bumi Pertiwi ada beberapa peristiwa tidak lazim. Seperti isu blackout, misalnya, atau pertemuan politik baik di MRT Lebak Bulus (13/7) maupun di Teuku Umar (24/7), ataupun Ijtima Ulama IV di Sentul, Bogor (5/8) dan lain-lain. Sekali lagi, tanpa pemahaman mekanisme resonansi, rangkaian peristiwa di atas bisa menimbulkan kejutan massal bagi pendukung masing-masing kubu di pilpres 2019, bahkan mengejutkan para elit itu sendiri. Kenapa? Karena narasi yang muncul tidak pararel dengan keinginan khalayak.

Pada konteks lain, di satu sisi, selain dianggap “seni” manuver segelintir publik figur dalam politik pragmatis (bukan sekedar implementasi “ilmu” politik). Dan untuk frasa ini nanti ditulis tersendiri pada topik lain perihal seni politik. Lanjut. Tetapi toh di sisi lain, publik harus diberi gambaran agar tidak merebak apa yang disebut “keapatisan berkala” atau sikap masa bodoh secara massal terhadap apa yang tengah berlangsung.

Nah, catatan di bawah ini mencoba mengurai fenomena dimaksud. Dengan kata lain, untuk menggambarkan resonansi geopolitik di atas, saya akan menerangkan selintas beberapa contoh isu di era kini, sedang agenda diambil di masa lalu —Perang Dingin, misalnya— atau sebaliknya. Jadi, fleksibel saja. Silahkan nanti disambungkan sendiri.

Pertanyaannya, “Apa agenda global pada Perang Dingin (Cold War) doeloe?” Clash of Ideology. Ya benturan ideologi antara komunis versus kapitalis. Pada konteks itu, kapitalisme diawaki Barat cq Amerika (AS) di satu pihak, sedangkan komunisme digawangi Uni Soviet di pihak lain. Rezim bipolar saling berebut skema kolonialisme (geoekonomi) di pelbagai pojok dunia melalui apa yang disebut sphere of influence. Itulah epicentrum getaran di tingkat global. Sumber resonansi. Ketika ada bias atau efeknya menjalar ke Indonesia, misalnya, atau ke Niragua, ke Korea, Vietnam, dan seterusnya —saat Cold War— pada kawasan tersebut marak dengan isu komunisme, sosialisme dst maka sejatinya cuma resonansi dari dinamika geopolitik melalui tema/agenda: “Cold War.”

Pada masa itu, isu-isu tentang fasisme, nazi, Hitler dan seterusnya sudah dianggap masa lalu karena merupakan agenda pada Perang Dunia II. Dan pada saat itu pula, isu demokratisasi, atau isu khilafah, terorisme, dan seterusnya masih belum muncul di permukaan. Dunia belum terpapar radikalisme, isu tentang islamophobia hampir tidak ada.

Pertanyaan berikutnya, “Apa agenda geopolitik global di era kini selaku epicentrum getaran?”

BERSAMBUNG BAGIAN KE 2

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI) 

Facebook Comments