Membaca Strategi Indo-Pasifik AS Bendung Cina di Asia-Pasifik

Bagikan artikel ini

Pada 26 Juni lalu, KTT ASEAN ke-34 berhasil menelorkan sebuah kesepakatan baru, yaitu the Outlook on the Indo-Pacific. Indo-Pasifik versi ASEAN. Konsepsi ASEAN yang diberi nama Outlook on the Indo-Pacific itu menegaskan pentingnya sentralitas dan kontribusi dari seluruh negara-negara yang yang berada di kawasan Asia-Pasifik, untuk menciptakan perdamaian dan kesejahteraan di Indo-Pasifik.

Wang Yinghui, Associate professor di Universitas di National Security College, National Defense University, menggambarkan the outlook on the Indo-Pacific versi ASEAN tersebut sebagai konsepsi tandingan terhadap konsepsi Indo-Pasifik versi Amerika Serikat.

Baca: US Indo-Pacific Strategy: hard to achieve goals

Apa yang salah dari konsepsi Indo-Pasifik versi AS? Pada 1 Juni lalu, Kementerian Pertahanan AS merilis the Indo-Pacific Report, dua tahun setelah Presiden Donald Trump mengajukan konsepsi Indo-Pasifik untuk pertama kalinya. Sejalan dengan National Security Strategy maupun National Defense Strategy, the Indo-Pacific Report menegaskan kembali adanya persaingan global dewasa ini. Yang mana Republik Rakyat Cina dan Rusia ditegaskan sekali lagi sebagai pesaing AS.


 

Namun demikian, sebagaimana analisis  Wang Yinghui dalam artikel di atas, the Indo-Pacific Report  setebal 78 halaman tersebut yang sangat bernada penuh permusuhan terhadap Cina dan Rusia tersebut, boleh dikatakan hampa kata-kata, tidak ada langkah-langkah konkret yang cukup memadai, dan juga tidak ada rumusan tujuan yang bisa jadi panduan sebagai tolok ukur keberhasilan.

Selain itu, the Indo-Pacific Report yang dirilis Kementerian Pertahanan AS itu materi yang ada di dalamnya penuh kontradiksi. Pada satu sisi, menegaskan pentingnya free and open Indo-Pacific yang diberlakukan bagi semua negara, namun pada saat yang sama menyingkirkan Cina, Rusia, dan Korea Utara dari skema kerjasama Indo-Pasifik. Dengan mencanangkan Rusia dan Cina sebagai musuh utama dan kekuatan revisionis untuk mengubah statusquo global.

Dengan kata lain, the Indo-Pacific Report menekankan Cina dan Rusia sebagai faktor ancaman yang destruktif bagi stabilitas kawassan, tanpa mengemukakan bukti-bukti nyata atas tesisnya tersebut.

Sebagai misal, the Indo-Pacific Report mengecam militerisasi Cina dan kegiatan-kegiatannya di grey area atau wilayah abu-abu di Laut Cina Selatan. Namun sama sekali tidak menyinggung semakin intensifnya pengerahan pasukan militer AS di kawasan Asia-Pasifik. Dengan dalih untuk latihan militer bersama dengan negara-negara sekutunya, maupun kebebasan untuk operasi pelayaran.

Bukan itu saja AS menerapkan pendekatan yang kontradiktif. Pada satu sisi menekankan pentingnya kesiapsiagaan, kemitraan maupun terciptanya jaringan terorganisir di kawasan Asia-Pasifik, namun pada saat yang sama skema AS tersebut diarahkan untuk memperkuat postur angkatan bersenjata maupun keberlangsungan pengaruh AS di kawasan Asia-Pasifik.

Rupanya, yang dimaksudkan dengan preparedness atau kesiapsiagaan oleh AS, adalah memperkuat kehadiran tentara AS di Indo-Pasifik dengan meningkatnya akses, latihan militer bersama, maupun investasi pengembangan  persenjataan canggih di kawasan ini.

Pada satu sisi menegaskan pentingnya free and open, peaceful and stable regiona. Kawasan Asia Pasifik yang bebas, terbuka, damai dan stabil. Namun pada saat yang sama AS menekannya pentingnya penggunaan sarana-sarana militer, dengan melakukan lebih dari 90 latihan militer bersama di kawasan Asia-Pasifik setiap tahunnya. Dalam konstelasi yang demikian, semakin meningkatnya eskalasi kehadiran militer AS di kawasan Asia-Pasifik, pada perkembangannya akan meningkatkan ketegangan militer antara AS versus Cina di kawasan ini. Seperti terlihat dengan semakin gentingnya situasi di Laut Cina Selatan dalam beberapa tahun belakangan ini.

Adapun partnership atau kemitraan maupun terciptanya jaringan yang terorganisir yang dimaksud AS, adalah upaya AS untuk meningkatkan hubungan kerjasama pertahanan dengan negara-negara sekutunya dengan melibatkan sekutu-sekutunya di kawasan ini melalui organisasi-organisasi berskala regional. Kerjasama dalam skema the Indo-Pacific Report itu, memperluas lingkup hubungan kerjasama dalam kerangka multi-lateral maupun trilateral.

Dengan demikian modus AS dengan mudah dapat dibaca. Pertama. Mengindentifikasi negara-negara di kawasan Asia-Pasifik atau Indo-Pasifik, termasuk pulau-pulau kecil di kawassan Pasifik, ke dalam persekutuan strategis dengan Amerika. Seraya menyingkirkan Cina, Rusia dan Korea Utara dalam skema kerjasama tersebut.

Kedua. Melalui strategi tersebut, tergambar tujuan strategis AS adalah menggalang negara-negara sekutu maupun negara mitra, sekaligus menambah keikutsertaan negara-negara baru sebagai sekutu atau mitra AS. Untuk kemudian membentuk jaringan kekautan membendung pengaruh Cina, Rusia dan Korea Utara.

Namun demikian, negara-negara di kawasan Indo-Pasifik, atau kami masih tetap menyebutnya Asia-Pasifik, belum tentu setuju dengan skema kerjasama AS berdasarkan the Indo-Pacific Report versi Kementerian Pertahanan AS tersebut.

Setiap negara di kawasan Asia-Pasifik, pada hakekatnya ingin kawasan ini tercipta situasi dan kondisi yang damai sehingga kondusif bagi pertumbuhan ekonomi. Dan negara-negara di kawasan ini menyadari sepenuhnya bahwa memihak salah satu dari negara-negara superpower atau adikuasa, untuk melawan negara adikuasa lainnya, sama sekali bertentangna dengan kepentingan nasional masing-masing negara tersebut.

Apalagi beberapa negara di kawasan Asia dan Pasifik, sudah menjalin kerjasama dengan Cina melalui skema Belt and Road Initiative. Dan lepas adanya pro dan kontra, banyak negara yang memandang skema kerjasama Belt and Road Initiative dengan Cina itu menghasilkan hal-hal yang cukup positif.

Menariknya lagi, India yang selama ini dipandang sebagai poros dari Strategi the Indo-Pacific Report, New Delhi menegaskan Indo-Pasifik hanya sekadar istilah geografis belaka. Sehingga India pun sama sekali tidak antusias untuk mendukung strategi AS itu. Dan tidak secara aktif mendukung langkah AS membendung Cina.

Baca juga:

Indo-Pasifik: Strategi Ekomomi-Politik dan Militer Baru AS-Inggris Untuk Bendung Pengaruh Cina di Asia Pasifik

Negara-negara yang tergabung di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) pun, juga skeptis dengan skema Indo-Pasifik AS tersebut. Meskipun berulangkali AS menegaskan peran penting ASEAN dalam strategi Indo-Pasifik AS, namun negara-negara ASEAN tidak terang-terangan mendukung maupun menolak Strategi Indo-Pasifik versi AS tersebut.

Apalagi saat ini beberapa negara ASEAN, termasuk Indonesia, telah menjalin kerjasama ekonomi dan perdagangan yang cukup solid dengan Cina. Sehingga rasanya ASEAN pun cukup enggan terang-terangan memihak AS dalam persaingan globalnya dengan Cina di Asia-Pasifik. Alhasil, negara-negara  ASEAN nampaknya saat ini secara aktif berkonsultasi untuk merumuskan sebuah consensus regional menyikapi skema the Indo-Pacific Repot AS itu. Besar kemungkinan dengan mengedepankan frase pentingnya sentralitas dan kontribusi negara-negara di Indo-Pasifik dalam ikut menciptakan perdamaian dan kesejahteraan, maka ASEAN bermaksud mematahkan skema the Indo-Pacific versi AS.

Menariknya lagi, tren global belakangan ini, khususnya sejak pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump, Australia dan Jepang pun  secara bertahap bermaksud menentang skema Indo-Pasifik AS. Gagasan Presiden Trump agar negara-negara sekutu AS berbagi memikul beban dengan ikut serta menanggung pengeluaran anggaran pertahanan, nampaknya mengundang protes dan penolakan dari beberapa negara sekutunya.

Lebih daripada itu, baik Tokyo dan Canberra nampaknya sulit secara total bersekutu dengan Washington memukul Cina. Mengingat kedua negara tersebut saat ini punya ketergantungan ekonomi dan perdagangan yang cukup mendalam dengan Cina.

Pada akhirnya, skema Indo-Pasifik AS itu tidak memberikan sebuah perencanaan yang konkret dan kebijakan yang cukup praktis dan aplikatif, untuk mengimplementasikan strategi Indo-Pasifik AS itu.

The Indo-Pacific Report hanya menjabarkan beberapa kerjasama pertahanan yang sudah dilakukan beberapa waktu lalu, yang mana sebagian besar atas prakarsa pemerintahan Presiden Barrack Obama. Seperti Souteast Asian Maritime Security Initiatives. Begitu banyak istilah yang dikumandangkan seperti “Kerjasama” dan Koordinasi”. Namun tidak tergambar suatu perencanaan yang jelas.

Konstruksi dan gambaran sebagaimana terpapar di atas, sepertinya akan bermuara pada sebuah kesimpulan penting. Bahwa AS telah melakukan kesalahan strategis, dengan menggalang kerjasama dan persekutuan strategis dengan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik, untuk membendung pengaruh Cina di kawasan ini.

Bagaimanapun juga,Cina merupakan negara adidaya di Asia Pasifik. Jika AS memang bermaksud ikut menciptakan perdamaian, Stabilitas dan Kesejahteraan di Asia-Pasifik. Maka AS harus menjalin kerjasama dengan semua negara-negara di kawasan ini, termasuk dengan Cina.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments