Membongkar Laporan PBB Tentang Irak Yang Disensor Amerika Serikat

Bagikan artikel ini

Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI) 

Jangan anggap remeh sebuah berkas atau dokumen penting sebagai sumber data dan informasi dari suatu peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Karena bisa jadi hal itu penting untuk memberi gambaran mengenai apa yang terjadi saat ini. Dan untuk itulah tulisan ini kami sajikan ke hadapan para pembaca. Untuk memberi gambaran sejelas-jelasnya watak politik luar negeri Amerika Serikat dulu, kini dan mendatang.

Mari kita mulai dengan merekam kembali kejadian pada 18 Desember 2002. Ketika itu, Andreas Zumach, koreponden harian Jerman Die Targezeitung, mengungkap sebuah rahasia yang cukup mengejutkan: Ada sekitar 24 perusahaan besar Amerika Serikat yang membantu Irak membangun program persenjataan dan roket sebelum perang teluk (Invasi AS ke Irak) yang bermuara pada kejatuhan Saddam Hussein.

Ini dia  sebagian besar dari perusahaan Amerika yang dimaksud:
1.    Bechtel, perusahaan kontraktor non-nuklir.
2.    DuPont, perusahaan bisnis yang bergerak di sektor nuklir.
3.    Eastman Kodak, perusahaan yang bergerak dalam produksi roket.
4.    Hewlett-Packard, perusahaan yang memproduksi roket non nuklir.
5.    Honeywell, juga di bidang roket dan produk-produk senjata non-nuklir.
6.    International Computer Systems , bergerak dalam usaha bidang nuklir, roket, dan produk persenjataan non-nuklir.
7.    Rockwell, non-nuklir.
8.    Sperry Corp, perusahaan yang memproduksi roket konvensional.
9.    Tektronix, roket dan produk persenjataan nuklir.
10.    Unisys, perusaahaan yang bergerak di sektor nuklir dan non-nuklir.

Menurut kesaksian Zumach, inilah inforrmasi sensitif yang terkandung dalam laporan PBB tentang Irak sehingga akhirnya disensor habis-habisan oleh pemerintahan Presiden George W Bush sebelum diumumkan kepada publik. Alhasil, laporan PBB yang awalnya setebal 12000 halaman itu, ternyata setelah disensor pemerintahan Bush, laporan PBB tersebut tinggal setebal 3500 halaman. Berarti, ada 8500 halaman yang hilang dari laporan PBB tersebut.

Kekhawatiran Bush muda ini nampaknya cukup beralasan. Betapa tidak. Dalam laporan PBB yang belum dipangkas Gedung Putih tersebut, terungkap bahwa Departemen Energi Amerika Serikat mengirim bagian non-fisslie (atom yang tidak dapat dibelah), yang sangat penting untuk program pembuatan senjata nuklir, ke Baghdad pada 1980-an.

Tentu saja pada era ketika George Herbert Walker Bush Sr masih berhubungan mesra dengan Saddam Hussein. Namun bagi George W. Bush yang kebetulan putra kandung Bush tua, jika laporan ini PBB ini diungkap ke publik, bisa memalukan bapaknya. Meski peristiwa ini terjadi pada 1980-an ketika Amerika-Irak masih menjadi sekutu.

Kedua, jika laporan PBB ini yang setebal 12000 halaman diungkap secara utuh ke publik tanpa dirubah satu huruf pun, maka akan terlihat betapa munafiknya Amerika dalam memperlakukan negara-negara sekutunya. Dulunya dianggap teman, maka sekarang ketika tidak dibutuhkan, seenaknya saja difitnah bahwa Irak menyimpan senjata pemusnah massal. Maka karenanya harus diserbu secara militer, dan Saddam Hussein sebagai presidennya harus digulingkan. Itulah yang terjadi pada 2003, dan misi pun berhasil.

Lalu bagaimana caranya Bush bisa-bisa memaksa Dewam Keamanan PBB menyerahkan laporan asli PBB tersebut padahal negara-negara lain hanya mendapat salinannya saja? Begini ceritanya.

Desember 2002, posisi Ketua Dewan Keamanan PBB dipegang oleh Kolombia, dari kawasan Amerika Latin. Pada 6  Desmber 2002, 12 anggota Dewan Keamanan PBB setuju untuk menyediakan salinan laporan lengkap bagi semua anggota Dewan Keamanan PBB, kecuali informasi berkaitan dengan cara merakit bom nuklir.

Namun Menteri Luar Negeri Colin Powell secara diam-diam membujuk Duta Besar Kolombia untuk PBB agar menyerahkan laporan asli tentang Irak khusus untuk Amerika. Lucunya Dubes Kolombia yang diberi amanat sebagai Ketua Dewan Keamanan PBB ini kok ya mau-maunya patuh pada permintaan Powell tersebut.

Maka 8 Desember, diserahkanlah laporan asli tentang Irak tersebut kepada Amerika. Dan sempat disimpan di Gedung selama 26 jam. Ditaruh begitu saja dilemari besi? Tentu saja tidak. Selama di tangan pemerintah Bush inilah, rupanya kemudian terjadilah pemangkasan besar-besaran aspek-aspek dari informasi yang menggambarkan betapa Irak yang terjadi menjelang kejatuhan Saddam Hussein, sebenarnya Amerika juga yang awalnya mendorong secara diam-diam program militerisasi dan pembangunan persenjataan militer Irak di bawah rezim Saddam Hussein.

Maka hasilnya, setelah disensor Amerika, Anggota Dewan Keamanan PBB dan publik hanya menerima laporan program senjata Irak yang sudah diseterilkan pemerintahan Bush. Sehingga dalam dokumen tersebut tidak menyebut-nyebut keterlibatan  Amerika dalam mempersenjatai Saddam Hussein.

Tentu saja. Karena Amerika ingin melalui laporan PBB tentang Irak ini, bisa dijadikan dalih pembenaran untuk menyerbu Irak karena adanya indikasi penyimpangan senjata pemusnah massal di Irak.

Tragedi Halabja

Bagi Bush muda, tragedi Halabja bisa mempermalukan habis-habisan masa kepresidenan bapaknya George Herbert Walker Bush pada 1980-an. Apalagi ketika itu nama Donald Rumsfeld, sempat disebut-sebut dalam laporan itu. Padahal Rumsfeld menjelang serbuan Amerika ke Irak pada 2003, menjabat Menteri Pertahanan.

Ironisnya, dokumen ini mengungkap konspirasi Amerika dan Saddam pada 1980-an, Donald Rumsfled ini juga ternyata yang jadi salah satu pemain kuncinya. Ceritanya begini. Pada 1983, lima tahun sebelum Saddam Hussein melakukan pembantaian terhadap suku Kurdi dengan gas beracun, sempat terjadi pertemuan rahasia di Baghdad antara Saddam Hussein dan Donald Rumsfeld, utusan khusus Presiden Reagan untuk Timur Tengah.

Pertemuan tersebut jelas mencurigakan mengingat pada waktu itu sudah santer tuduhan bahwa Saddam menggunakan senjata kimia. Ternyata, berdasarkan temuan dari berbagai sumber dan dokumen, terungkap bahwa pertemuan tersebut memang menjadi landasan persekutuan Amerika-Irak untuk menghadapi ancaman dari Iran. Karena waktu itu, dalam perang Iran-Irak, secara militer Irak sebenarnya sudah dalam posisi hampir kalah. Sehingga Amerika memutuskan untuk mencegah jangan sampai Irak kalah.

Maka pada Desember 1984, muncul berita dari United Press International bahwa Irak telah menggunakan gas mortar bercampur gas saraf untuk melawan tentara Iran dalam perang teluk Persia.

Inilah paradadx dari peran yang dimainkan Rumsfeld untuk menggambarkan standard ganda Amerika. Pada 2003 ketika hendak menyerbut Irak, Rumsfeld mengutip penggunaan gas beracun oleh Irak sebagai alasan menyerang Irak. Tetap pada 1984 Rumsfeld justru tutup mulut mengenai serangan gas tersebut.

Bahkan pada 1984 itu pula, jadi tak lama setelah pertemuan Saddam dan Rumsfeld pada 1983, Departemen Luar Negeri menggolkan penjualan 45 helikopter Bell 214 ST. Ke Irak. Keputusan itu diambil dengan dalih untuk meningkatkan penetrasi Amerika ke dalam pasar pesawat sipil yang sangat kompetitif.

Namun di tangan Saddam Hussein, kegunaan pesawat senilai 200 juta dollar ini jadi lain lagi ceritanya. Pada 1988, jadi lima tahun setelah berteme Rumsfeld, Saddam telah menghujani warga sipil Kurdi di utara Halabja dengan gas beracun dari helikopter dan pesawat Irak. Menurut berbagai observasi dan temuan yang dilakukan Los Angeles Times, narasumber intelijen Amerika itu sendiri yakin bahwa helikoptoer buatan Amerika tersebut ikut menjatuhkan bom maut tersebut. 5000 orang dilaporkan tewas dalam pembantaian maut Saddam tersebut. Dan Amerika, secara sadar memberi dan membuka jalan bagi Saddam untuk melakukan kejahatan perang terhadap Suku Kurdi yang notabene merupakan warga negaranya sendiri.

Mengapa Amerika bisa sedemikian munafiknya seperti itu? Inilah pelajaran penting bagi kita dalam mengenali watak dasar Amerika. Bisnis di atas segalanya.

Facebook Comments