Mengapa Ramai-ramai Jangan Suriahkan Indonesia?

Bagikan artikel ini

Tagar “#JanganSuriahkanIndonesia” kini ramai diusung oleh buzzer petahana. Entah insiatif atau merupakan bagian program kampanye, karena tidak jelas maksudnya. Tetapi melalui tagar tersebut, kesan yang dibangun seolah-olah kubu lawan, yakni pasangan PS-Sandi, dinilai sebagai ancaman dan dianggap sebagai potensi yang membahayakan terhadap keutuhan NKRI karena stigma ingin men-Suriahkan Indonesia. Mungkin saja banyak yang terkecoh oleh tagar ini. Karena isu-isu aktual yang digelorakan oleh rezim saat ini adalah soal HTI, radikalisme, Khilafah, anti kebhinekaan dan isu lain yang digiring atau dijejalkan ke publik agar disamakan atau dimirip-miripkan dengan isu-isu di Timur Tengah.

Narasi yang ingin dibangun dalam benak publik Indonesia dengan tagar “JanganSuriahkanIndonesia” adalah bahwa Suriah, Libya, Irak, dan mungkin negara di kawasan Teluk, yang kini luluh lantak dan hancur lebur seolah-olah akibat isu-isu agama seperti isu khalifah, politik identitas dan sejenisnya. Padahal, hancurnya Libya itu karena serangan NATO, porak-porandanya Irak akibat serangan koalisi militer Barat pimpinan AS, atau leburnya Suriah adalah karena perang sipil antara tentara Suriah versus pemberontak yang didompleng oleh Barat dan Arab Saudi. Jadi, hancurnya Suriah, Libya dan kawan-kawanya, lalu kemudian bukanlah akibat isu agama, melainkan karena perebutan geo-ekonomi yakni kebutuhan dan kepentingan akan sumberdaya minyak dan gas.

Tagar tersebut sangatlah berlebihan, karena isu khilafah yang diusung HTI baru sebatas konsepsi (wacana) bukan sebuah gerakan bersenjata seperti DI/TII dulu, atau PKI di medio masa kepemipinan Bung Karno. Ini rupanya yang disebut demonologi politik, rekayasa sistematis guna memproduksi kecemasan, ketakutan dan kekhawatiran di publik tetapi tidak akurat, karena data-datanya invalid. Sehingga memaksa publik agar percaya stigma negatif yang dibangun; perang terhadap khilafah dan HTI. Mau bicara PKI musuh bersama tidaklah mungkin, karena PKI hanya musuh Orde Baru. Di orde ‘Sontoloyo’ ini harus diciptakan musuh yang lain, yang tidak ada di orde-orde sebelumnya, maka jadilah HTI yang dibikin bulan-bulanan.

Keberhasilan tagar diatas akhirnya memproduksi rasa takut atau kecemasan di tengah-tengah masyarakat, atau disebut “trick deception”, walaupun sebenarnya isu yang dilempar ke publik, misalnya, hanyalah rekaan yang sengaja diproduksi guna menutupi kegagalan sebuah rezim. Lantas yang terjadi adalah orang dihasut-hasut, dipengaruhi terus agar ribut. Dengan demikian, Arogansi ini yang membuat kondisi sosial politik tidak pernah ‘adem’. Sampai sekarang.

Malika Dwi Ana, Network Associate Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments