Menghentikan Penempatan THAAD di Korea Selatan, Tolok Ukur Keberhasilan Pertemuan Trump-Kim Jong-un

Bagikan artikel ini

Pertemuan babak kedua antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin  Korea Utara Kim-Jong-un dalam akhir Februari mendatang, nampaknya merupakan fase yang sangat menentukan dan krusial. Bukan saja dalam upaya mengakhiri konflik berkepanjangan antara Korea Selatan dan Korea Utara sejak berakhirnya Perang Dunia II. Melainkan juga dalam menciptakan perdamaian dan stabilitas politik di Semenanjung Korea khususnya , dan Asia Pasifik pada umumnya. Di tengah semakin memanasnya persaingan global AS dan Cina di kawasan Asia-Pasifik.

Salah satu isu krusial dalam pertemuan kedua kepala negara tersebut adalah tentang isu senjata bermuatan  nuklir. Bukan saja terkait diuji-cobakannya Rudal Balistik Antar Benua (ICBM) yang dilancarkan pemerintah Pyongyang. Tapi juga terkait pemasangan dan penempatan Sistem Pertahanan anti rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) oleh Amerika Serikat di Korea Selatan, sebagai dalih untuk menangkal serangan Korea Utara terkait beberapa kali uji coba rudal antarbenua ICBM yang dilakukan Korea Utara.

THAAD sejatinya merupakan Balistic Missile Defense atau Sistem Pertahanan anti rudal yang mulai dikembangkan AS sejak 1992. Sekadar informasi. Yang ditugaskan untuk mengembangkan Sistem Pertahanan anti rudal AS tersebut adalah  Lockheed Martin Corp yang langsung berada dalam tanggungjawab dan kewenagnan Badan Pertahanan Rudal AS, yang langsung berada dalam kendali komando Kementerian Pertahanan AS (Pentagon). Perangkat ini merupakan sebuah sistem pertahanan anti rudal yang sangat mudah untuk ditempatkan atau dipindahkan penempatan lokasinya. Sehingga punya mobilitas yang cukup tinggi.  Sistem pertahanan ini berfungsi melindungi  ancaman berupa serangan rudal balistik dari negara musuh yang bersifat taktis dalam jarak 200 kilometer dan dengan ketinggian 150 kilometer.

Kapasitas Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) THAAD terdiri dalam beberapa bagian diantaranya:

  1. Peluncur (Launchers)
  2. Misil (Missiles/interceptor)
  3. Kontrol Penembak/pusat kendali (Fire Control)
  4. Radar
  5. Alat-alat pendukung (Support Equipment) THAAD memiliki panjang 6,17 meter dengan disertai mesin roket pendorong, berat dari THAAD sendiri mencapai 900 kilogram. Dalam bertahan, rudal THAAD menggunakan energi kinetik. Instalasinya terdiri dari sembilan peluncur, dua pusat pengendali, dan sebuah Ground-based radar. kendaraan peluncur THAAD memiliki panjang 12 meter dan lebar 3,25 meter.

Saat ini THAAD merupakan salah satu sistem anti rudal terbaik buatan Amerika Serikat, yang mana sejak tahun 2005 hingga 2014 THAAD sudah melakukan dua belas kali percobaan, dengan tingkat keberhasilan hingga angka sebelas kali.

THAAD merupakan salah satu sistem pertahanan anti rudal yang paling modern.  Selain mudah dalam penempatannya dan sangat mudah untuk mengubah posisinya, THAAD juga dilengkapi dengan radar yang sangat mumpuni untuk mendukung kinerjanya dalam mengantisipasi dan mengcegat serangan rudal dari pihak musuh. Bukan itu saja. THAAD juga dilengkapi dengan radar terbaik yaitu Army/Navy Transportable Radar Surveillance (AN/TPY-2).

Kapasitas THAAD uyang dilengkapi rada Army/Navy Transportable Radaqr Surveillance inilah yang nampaknya mengundang kegusaran dan kekhawatiran pemerintah Republik Rakyat Cina. Sebab pihak Cina memandang penempatan dan pemasangan THAAD di Korea Selatan, sejatinya bukan manuver militer AS dan Korea Selatan untuk menangkal serangan militer Korea Utara, melainkan untuk mendeteksi dan memonitor manuver militer Cina di wilayah perbatasan antara Cina dan Korea.

Merujuk pada beberapa studi para pakar hubungan internasional maupunh militer terkait THAAD,  Radar AN/TPY-2 , misalnya, dikembangkan dengan tujuan untuk memberi peningkatan pada sistem pertahanan rudal untuk mampu mengetahui ancaman jarak jauh dan dapat memberikan solusi perlindungan dari ancaman tersebut. Dukungan dari kemampuan frekuensi Xband semakin memberikan radar ini peningkatan yang dapat membedakan seberapa besar ancaman yang akan datang dari pihak musuh. Selain itu, THAAD sebagai sebuah sistem pertahanan anti rudal merupakan salah satu sarana pertahanan yang paling direkomendasikan untuk memberikan kemampuan bertahan bagi penggunanya.

Adapun dari segi jarak jangkau radar, AN/TPY-2 memiliki perkiraan jarak yang dapat dijangkau oleh radar ini mencapai jarak1000 hingga 3000 kilometer.  Melalui gambaran sekilas tersebut di atas, sangat masuk akal jika penempatan dan pemasangan THAAD di daerah Seongju, Korea Selatan, sangat mengundang reaksi keras dari pihak Cina.

Seperti yang saya katakana tadi. Kekhawatiran Cina terkait pemasangan THAAD di Korea Selatan berkaitan dengan kapasitas radar dari AN/TPY-2 dengan X-band-nya. Inilah aspek yang mengundang protes Cina. Dengan estimasi jarak hingga 3000km, radar tersebut sudah dengan mudah dapat melacak persenjataan Cina secara langsung meskipun tidak secara keseluruhan.

Dalam penilaian strategis pihak Cina, dengan estimasi jarak deteksi dari radar THAAD wilayah bagian timur dan utara Cina, maka akan menjadi wilayah yang masuk dalam cakupan radar THAAD, sementara wilayah ini merupakan wilayah yang strategis sebagai lokasi dari sistem pertahanan dan penempatan perangkat-perangkat militer dari Cina.  Wilayah-wilayah seperti Nanjing dan Shenyang merupakan salah satu daerah yang menjadi daerah cakupan radar dari THAAD, sementara daerah tersebut merupakan bagian dari penempatan-penempatan perangkat militer dari Cina, bagian dari angkatan darat, udara, laut, bahkan pengembangan rudal jugal ada di daerah ini.

Alhasil, dengan pemasangan dan penempatan THAAD di Korea Selatan, maka kemampuan dari radar THAAD dari segi militer akan membuat posisi Cina melemah terhadap Amerika Serikat. Apalagi dengan cakupan jarak yang dapat dijangkau oleh radar AN/TPY-2 tersebut, pada perkembangannya dapat mendeteksi posisi dari rudal-rudal Cina yang dikembangkan di beberapa daerah yang diyakini berada di kawasan jangkauan radar AN-TPY-2.

Melalui gambaran dari keunggulan strategis THAAD khususnya radad AN/TPY-2, masuk akal jika pemerintah Cina beranggapan bahwa penempatan THAAD di Korea Selatan, dapat menjadi sumber informasi intelijen militer  yang potensial bagi Amerika Serikat dalam mendeteksi dan memonitor seberapa jauh pengembangan senjata nuklir yang sudah dilakukan dan dicapai oleh pemerintah Cina. Dan wilayah-wilayah Cina mana saja rudal-rudal Cina ditempatkan.

Menyadari kenyataan tersebut, jika pemerintah AS dan Korea Selatan tetap bersikukuh mempertahankan THAAD di Korea Selatan, maka bisa jadi pemicu ketegangan militer yang cukup berbahaya di Semenanjung Korea. Sebab pihak pemerintah Cina akan memandang penempatan THAAD AS di Korea Selatan sebagai sikap bermusuhan terhadap Cina. Sehingga Cina pada perkembangannya akan meningkatkan eskalasi kekuatan militernya di Semenanjung Korea.

Bahkan bukan saja Cina yang akan meningkatkan postur militernya secara lebih strategis. Jepang yang selama ini kekuatan militernya berada di bawah bayang-bayang Amerika Serikat sejak pasca Perang Dunia II, nampaknya sedang memanfaatkan momentum ketegangan AS versus Cina di Semenanjung Korea, untuk meningkatkan postur militernya secara lebih agresif. Misalnya dengan membeli sistem pertahanan anti rudal Aegis Ashore seharga 2 miliar dolar AS dari Amerika Serikat.

Hal ini mengindikasikan  bahwa Washington sedang mendorong Jepang untuk semakin meningkatkan postur pertahanannya secara lebih agresif. Apalagi dalam rencana pembelian Aegis Ashore ini, dalih yang digunakan Jepang adalah untuk mengantisipasi ancaman militer dari Korea Utara maupun Cina. Dengan kata lain, Jepang menggunakan ancaman dari Korea Utara dan Cina sebagai pembenaran untuk meningkatkan eskalasi militernya  sendiri di kawasan Asia Pasifik. Barang tentu hal ini cukup mengkhawaatirkan di masa depan.

 

Simak selengkapnya:

 

Pembelian Sistem Pertahanan Aegis Ashore, Mengindikasikan Semakin Agresifnya Militer Jepang

 

Maka kesediaan AS untuk menghentikan pemasangan THAAD di Korea Selatan dalam pertemuan Trump-Jong-un bulan ini, akan menjadi pintu masuk penyelesaian konflik di Semenanjung Korea bukan saja antara Korsel-Korut, melainkan antar negara-negara adikuasa yang berkepentingan di Semenanjung Korea yaitu, AS, Jepang, Rusia dan Cina.

Dengan kata lain, jika THAAD dan Pengurangan jumlah tentara AS yang berjumlah 28.500 personil belum ditindaklanjuti dengan berpedoman pada empat butir kesepakatan, maka pertemuan tingkat tinggi Trump-Kim secara substansial belum menghasilkan kemajuan yang cukup berarti.

 

Beberapa Tulisan Terdahulu:

 

Pertemuan Jilid II Trump-Jong-un Februari Mendatang, Harus Hentikan Penempatan THAAD di Korea Selatan

 

Kesepakatan Trump-Kim: Belum Menegaskan soal THAAD dan Pengurangan Jumlah Pasukan AS di Korsel

 

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI).

 

 

 

Facebook Comments