Mengungkap Reputasi Buruk Ukraina Dalam Perdagangan Senjata dan Peralatan Militer (Bag II)

Bagikan artikel ini

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Para pemangku kepentingan pertahanan RI, khususnya Kementerian Pertahanan, hendaknya berhati-hati dan waspada terhadap tawaran dan bujuk rayu para pedagang senjata yang punya jaringan dan jalinan kontak dengan Ukraina. Khususnya Techimpex dan para rekanan bisnis mereka lainnya.

Modus Operandi Techimpex Dalam Menjalankan Weapons Laundering Scheme

Ilustrasi berikut ini mungkin sangat bermanfaat mengungkap salah satu contoh kasus bagaiman cara kerja skema dan sistem pencucian senjata dimanikan oleh Techimpex Ukraina. Beberapa kendaraan lapis baja yang diproduksi Polandia, BRDM-2s, di atas kerja dipesan dan dibeli oleh Techimpex. Menurut kontrak kesepakatan pada 23 Desember 2014, Techimpex membeli 59 BRDM-2s dan BRDM-2RHs, termasuk senapan mesin, dari sebuah perusahaan bernam Army Trade.

Kemudian pada Februari 2015, pemilik Army Trade bernama Krzysztof Jozwik mengonfirmasi bahwa perusahaannya memiliki 59 persediaan kendaraan lapis baja. Menariknya, dia sama sekali tidak menyebut-nyebut suku cadang (spare parts) kendaraan lapis baja.

Pada April 2015, SSEC memberi izin pada Techimpex untuk mengimpor suku cadang kendaraan lapis baja dari Polandia untuk kebutuhan perusahaannya. Pada Desember, pengapalan dan pengiriman dimulai. Dengan kata lain, melalui kesepakatan di atas kerja tersebut tadi, Techimpex merupakan the end user. Dan tidak dibenarkan untuk diekspor ke negara-negara lain sebagai pihak ketiga.

Pada kenyataannya, pada 11 Desember, sehari sebelum pengiriman kendaraan lapis baja BRDM-2s melintasi perbatasan memasuki Ukraina, Techimpex menandatangani kontrak sebesar 776.000 dolar AS dengan Ukrinmash, untuk mengekspor 8 kendaraan lapis baja , kepada Uganda. Jadi, destinasi akhir (final destination) dari proses yang digambarkan dari awal tadi, adalah Uganda yang berada di kawasan Afrika.

Pada Februari 2016, Techimpex kembali menandatangani kontrak dengan Ukrinmash, untuk pengiriman 37 kendaraan lapis baja ke Uganda. Pada bulan yang sama, Ukrinmash memesan tambahan 14 kendaraan lapis baja BRDM-2s ke Burundi, juga di Afrika.

Tapi, apakah destinasi akhir memang ke Burundi? Ternyata tidak. Berdasarkan penelisikan lebih dalam, ternyata tidak dikirim ke Burundi di Afrika Timur. Melainkan ditujukan pada sebuah perusahaan di Uni Emirat Arab, International Golden Group (IGG). Untuk kemudian pada Mei dan Juni 2016, dikirim ke Uganda.

Sekadar informasi, total penjualan kepada Uganda mencapai nilai 4,9 juta dolar AS, sebagaimana merujuk pada Techimpex’s order book. Dan produk yang diekspor bukan kendaraan lapis baja, melainkan suku cadang kendaraan lapis baja.

Dari rangkaian seluruh cerita tadi, bisalah kita tarik kesimpulan, Ukraina punya rekam jejak yang buruk dan tidak bisa dipercaya sebagai eksportir dan pemasok peralatan militer maupun persenjataan.

Maka itu, para pemangku kepentingan pertahanan RI, khususnya Kementerian Pertahanan, hendaknya berhati-hati dan waspada terhadap tawaran dan bujuk raya para pedagang senjata yang punya jaringan dan jalinan kontak dengan Ukraina. Khususnya Techimpex dan para rekanan bisnis mereka lainnya.

Facebook Comments