Mengurai Kebohongan Barat Atas Nama Demokrasi dan Perdamaian

Bagikan artikel ini

Tulisan ini sedikit ingin mengungkap fakta di balik sepak terjang negara-negara penjahat dunia yang kerap mempertontonkan permusuhannya di negera-negara di Timur Tengah, Amerika Latin atau belahan dunia yang lain. Mereka terus menggunakan jargon kemanusiaan, demokrasi dan perang melawan terorisme untuk melancarkan segala aksi destabilitas politik di negara-negara target mereka. Padahal semua itu adalah kebohongan yang melandasi semua jargon yang selama ini mereka kampanyekan. Al Qaeda, misalnya, tidak bertanggung jawab atas penghancuran gedung-gedung World Trade Center di AS. Sebaliknya, mereka terus berupaya menciptakan “kebenaran” tanpa bukti untuk melayani agenda jahat dan anti-demokrasi yang selama ini mereka suarakan.

Kelompok-kelompok yang selama ini mereka musuhi sejatinya juga hasil ciptaan mereka sendiri. Sebagaimana diungkapkan mantan staf National Security Agency (NSA) Edward Snowden bahwa selain Amerika, dua negara lain yang bertanggungjawab terkait ISIS adalah Inggris dan Israel.

Pernyataan Snowden, yang telah membongkar banyak “rahasia dunia” menyangkut isu politik, ekonomi, dan keamanan tingkat tinggi, sedikit banyak menggoyahkan keyakinan pihak-pihak yang selama ini “meyakini betul” bahwa ISIS adalah gerakan yang berkaitpaut erat dengan agama.

Begitu pun kegoyahan tak lantas benar-benar membuat keyakinan tersebut ambruk. Asumsinya, bisa saja Snowden berkata bohong.

Apa yang dikemukakan Snowden memang bukan sekadar pepesan kosong, dalam sebuah wawancara dengan reporter Fox News, Greta Van Susteren, Hillary Clinton menyebut bahwa Amerika memiliki kepentingan sangat besar di Asia Tengah, kawasan yang dua dekade lalu hendak “dikuasai” Uni Soviet.

Dengan demikian, teranglah sudah bahwa Al Qaeda, ISIS dan kelompok yang selama ini dikaitkan dengan kelompok teroris tak lebih adalah kambing hitam yang digunakan untuk melindungi pelaku sebenarnya yang sejatinya digunakan sebagai “alat / proxy strategis” untuk menghancurkan negara-negara non-perang seperti Suriah, semuanya atas nama mengejar ISIS, yang juga merupakan “alat strategis” / proksi ”

Para musuh orang perlu mengalihkan perhatian dari diri mereka sendiri. Semua ideologi fasis dan imperialis menuntut ini. Mereka juga menuntut rasisme dan mereka mengarang ideologi supremasi. “Kita” lebih baik daripada “yang lain”, oleh karena itu, kita dapat menghancurkan yang lain untuk kebutuhan kita yang dipersepsikan, semua, lagi-lagi, atas nama kebohongan palsu: “kemanusiaan”, “kebebasan” dan “demokrasi”.

Gagasan bahwa Venezuela ada di “halaman belakang global” Kanada adalah ide supremasi klasik, imperialis, fasis, seperti yang diungkapkan oleh pemerintah Kanada, yang berupaya mengarang “kebenaran” tentang Venezuela sehingga kita dapat terus melakukan perang ekonomi kriminal melawan Venezuela dan rakyatnya dan agar kita dapat terus menghancurkan negara ini. Hal ini pun juga dilakukan oleh pemerintahan AS dari masa ke masa. Hal ini ditunjukkan dari sikap AS yang menolak Maduro sebagai presiden terpilih secara demokratis di Venezuela.

Sekali lagi, negara negara Barat selama ini mempertontonkan kejahatannya atas nama kemanusiaan, demokrasi dan penumpasan terorisme terhadap negara-negara targetnya di pelbagai belahan dunia. Padahal, semua yang dipertontonkan ini adalah kebohongan. Musuh sejati sengaja disembunyikan dari pandangan karena itu beracun. Musuh itu adalah kediktatoran predator yang dikangkangi oleh kapitalisme monopoli yang sepertinya memberi tahu kita bahwa membangun kapal perang lebih penting daripada membangun infrastruktur energi alternatif.

Sudarto Murtaufiq, peneliti senior Global Future Institute (GFI)

 

Facebook Comments