Menlu Anggota Asean Akan Bahas Krisis Kemanusiaan Myanmar di PBB

Bagikan artikel ini

Para Menteri Luar Negeri anggota Asean akan bahas krisis kemanusiaan yang terjadi akibat konflik antara kelompok militan Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA) dan militer di Rakhine State, Myanmar.

Retno LP Marsudi, Menteri Luar Negeri pada rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR RI di Jakarta, Senin (12/9) mengatakan, pertemuan itu akan dilakukan di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York, 23 September 2017.

Selain menyimak paparan tentang situasi terkini di Myanmar, para menteri luar negeri ASEAN juga akan mendiskusikan bagaimana setiap negara anggota bisa lebih berkontribusi terutama dalam penyaluran bantuan kemanusiaan kepada warga yang terdampak konflik di Rakhine State.

“Mengenai bantuan kemanusiaan ini akan menjadi salah satu isu utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut,” ujarnya.

Selain itu Menlu menjelaskan, penyaluran bantuan kemanusiaan bagi warga di Rakhine State masih terganjal aspek modalitas yang belum juga disepakati antara pemerintah Myanmar, Komite Internasional Palang Merah (ICRC), dan negara-negara pemberi bantuan termasuk Indonesia.

Namun Menlu Retno mengaku telah menghubungi Penasihat Keamanan Nasional Myanmar U Thaung Tun untuk mendorong percepatan proses pengurusan modalitas sehingga akses bantuan kemanusiaan dapat segera dibuka.

Sementara diplomasi kemanusiaan terus dilakukan oleh Indonesia, skema pemberian bantuan melalui Pusat Bantuan Kemanusiaan ASEAN (AHA Centre) juga akan diinisiasi meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama.

Prosedur pemberian bantuan melalui AHA Centre mensyaratkan pengajuan dari badan nasional penanggulangan bencana dari negara pemberi bantuan dan persetujuan dari negara penerima bantuan.

“Kalau sudah dilakukan semua prosedurnya baru akan ada pergerakan dari AHA Centre untuk mengumpulkan bantuan dari ASEAN maupun negara di luar ASEAN,” kata Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Jose Tavares.

Sementara itu, krisis kemanusiaan di Myanmar sebelumnya juga menjadi perhatian para kepala negara dalam Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Islam (KTT OKI) di Astana, Minggu (10/9/2017).

Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam sambutannya mendorong penyelesaian persoalan melalui kerja sama antara pemerintah Myanmar dan Bangladesh, negara tujuan para mayoritas Muslim Rohingya mengungsi untuk menghindari konflik yang terus memanas di Rakhine State.

Wakil Presiden RI Jusuf Kalla yang menghadiri konferensi tersebut mengatakan pemerintah Indonesia siap menjadi mediator dialog antara negara-negara Islam dengan pemerintah Myanmar. (TGR-007)

Facebook Comments