Menyatukan Kembali Peradaban Nusantara Dengan Hati

Bagikan artikel ini

Desil Viana(Echy). Pelaku Seni-Budaya dan Peminat Budaya Nusantara. Tinggal di Jakarta

Wahai para raja nusantara. Mana Hatimu. Mana Hartamu. Dan mana karyamu.

Bertemu dan membahas budaya dan peradaban nusantara bersama para raja-raja dari berbagai propinsi Jawa dan luar Jawa, memang sangat mengasyikkan dan menggairahkan. Seperti berlangsung pada Sabtu lalu, 30 Maret 2018, Menusantarakan kembali Indonesia? Waw, sebuah gagasan besar yang cukup menggugah. Namun, bagaimana caranya? Sedangkan masing-masing kerajaan yang ada di bumi nusantara khazanahnya begitu beraneka-ragam dan majemuk.

Tulisan singkat ini, sekadar renungan pribadi setelah mengikuti perbincangan dengan beberapa raja nusantara.

Kita sebagai bangsa memang mengenal semboyan Bhineka Tunggal Ika. Meskipun beranekaragam dan berbeda-beda dan majemuk, namun tetap sejatinya satu adanya. Sayang, ini baru pada tahap slogan dan retorika. Belum benar-benar jadi sumber inspirasi bagi bangsa Indonesia untuk berkembang maju dengan tetap melestarikan dan mempertahankan jatidirinya.

Bicara tentang niat untuk menusantarakan kembali Indonesia, berarti kita bukan sekadar menyinggung soal kebudayaan. Lebih daripada itu, ini soal membangun kembali peradaban nusantara.

Darimana niat ini harus dimulai sehingga jadi kenyataan. Menghargai budaya dan kearifan lokal, atau para pakar sering menyebut dengan istilah local genius, tentu saja wajib hukumnya, oleh sebab hal itu merupakan jalan kita untuk kembali mengenai jatidiri bangsa.

Namun amat disayangkan jika hasrat yang begitu menggebu-gebu untuk mempromosikan masing-masing budaya dan kearifan lokal dari masing-masing daerah, kemudian meruncing mengedepankan ego sektoral masing-masing daerah.

Salah satu pertunjukan seni tadi pada Pentas Seni Malam Puncak HUT IMAKTA. Foto Oky/IMAKTASalah satu pertunjukan seni tadi pada Pentas Seni Malam Puncak HUT IMAKTA. Foto Oky/IMAKTA

Itulah sebabnya dalam pertemuan antar raja-raja nusantara yang bersifat informal maupun resmi berskala nasional, hendaknya diarahkan untuk menyusun strategi membangun kembali peradaban nusantara.

Darimana semua itu dimulai? Mungkin beberapa kajian kawan-kawan dari Global Future Institute mengenai geopolitik bisa jadi sumber inspirasi bagi para raja nusantara. Betapa Indonesia sebagai negara nusantara, bukan dipersatukan oleh kesamaan agama atau suku. Bahkan juga bukan karena sama-sama dijajah olehy Belanda. Tapi dipersatukan oleh geopolitik. Meminjam istilahy kawan-kawan di GFI, takdir geopoolitik. Ya, takdir geopoolitik Indonesia lah yang menyatukan 26 propinsi di bumi nusantara.

 

Maka itu, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang secara resmi djadikan dasar falsafah dan sumber hukum tertinggi negara kesatuan republik Indonesia, mutlak harus jadi rujukan dan pedoman dasar untuk menghidupkan kembali peradaban nusantara.

Image result for foto khazanah nusantara

Di dalam salah satu pasal UUD 1945, dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan Kebudayaan Nasional, adalah puncak-puncak kebudayaan daerah. Menurut saya inilah yang semestnya menjadi titiktolak para raja nusantara untuk menggagas penyusunan strategi kebudayaan nusantara. Strategi kebudayaan nusantara yang didasari semangat/spirit kenusantaraan yaitu Bhineka Tunggal Ika,

Persenyawaan aneka budaya yang berbeda-beda namun bersumber pada karakter bangsa nusantara, dan gotong-royong. Gotong-royong menurut saya bukan semata soal tolong-menolong, tapi menggamarkan tekad untuk membangun satu gerak kesatuan usaha. Jadi ini adalah soal persenyawaan, bukan sekadar hasrat untuk bersatu.

Nah ini dia. Gotong-Royong sebagai kearifan lokal khas nusantara. Tolong menolong, salling menghormati, persaudaraan, cinta kasih, dan kebersamaan. Namun tetap dengan satu kesadaran bahwa masing-masing memiliki kekhasan dan kekhususan oleh sebab pengalaman yang berbeda-beda satu sama lain.

Begitupun Gotong Royong dalam bingkai Strategi Kebudayaan Nusantara, kekhasan dan kekhususan itu tadi justru makin memperkuat rasa tenggang-rasa/toleransi, asas keseimbangan/harmoni, serta keterbukaan.

 

Menurut hemat saya, inilah pekerjaan rumah atau agenda prioritas harus didalami kembali oleh para raja-raja nusantara. Sebab bagaimanapun juga para raja nusantara merupakan ahli waris sah budaya dan peradaban nusantara. Sebuah peradaban nusantara yang bertumpu pada Bhineka Tungal Ika sebagai saripati isi, dan Gotong-Royong sebagai sarana atau jembatannya.

 

Membangun kembali peradaban dan budaya nusantara memang mutlak perlu karena inilah sarana untuk lahirnya kembali jatidiri bangsa.

Berbagai kerajaan yang ada di nusantara mulai dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusatenggara, Bali, hingga Maluku dan Papua. Merupakan puncak-puncak kebudayaan daerah yang telah diakui secara tegas oleh para bapak pendiri bangsa, sebagai Kebudayaan Nasional.

 

Maka kembali ke jatidiri bangsa, berarti kembali ke rumah masing-masing. Ke daerah masing-masing yang memikul dan terpikul oleh kearifan lokal daerahya masing-masing.

 

Dan bicara tentang tekad dan usaha menghidupkan dan melahirkan kembali peradaban nusantara, maka hati dan kekuatan intuisi para raja nusantara harus menjadi jiwa keutamaan yang mengalahkan ego sektoral ke daerahannya masing-masing.

 

Bicara kekuartan intuisi dan hidupnya matahati, itulah harta sesungguhnya yang melahirkan karya-karya gemilang berbagai kerajaan nusantara di masa silam. Membangun Candi Borobudur dan Candi Prambanan, itu bukan sekadar ketrampilan dan kecakapan arsitektural. Tapi soal ketajaman mata hati dan intuisi seniman nenek moyang kita pada jamannya.

Karya gemilang sastra Jawa berjudul Serat Centhini pada masa Pakubuwono V, bukan sekadar kecakapan penulisan sastra para pujangga kraton Jawa jaman itu. Tapi soal ketajaman matahati dan penglihatan tembus pandang, sehingga melahirkan mahakarya yang begitu menggugah. Dan tetap jadi kajian para pakar sastra Jawa di dalam dan luar negeri.

 

Seni Tari Jawa Bedoyo Ketawang, atau Tari Saman di Aceh, juga merupakan karya seni tari yang lahir dan ketajaman matahati. Ya, matahati. Dimana hatimu, di situ pula hartamu. Dan Karyamu.

Maka, marilah kita menyatukan kembali nusantara dengan hati.

Facebook Comments