Menyingkap Misi Terselubung NAMRU-2 AS Dari Sudut Pandang Siti Fadilah Supari

Bagikan artikel ini

“Lambang hegemoni AS yang paling nyata di Indonesia adalah NAMRU. NAMRU adalah masalah kedaulatan. NAMRU adalah pangkalan militer yang bergerak di bidang kesehatan. NAMRU bagian grand strategy pertahanan AS.” (Siti Fadilah Supari, Menteri Kesehatan RI 2004-2009)

Terbongkarnya Naval Medical Research Unit 2 (NAMRU-2 AS) sebagai laboratorium bertujuan ganda merupakan jasa dari Siti Fadila Supari sebagai  Menteri Kesehatan pada periode pertama Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Adalah Siti Fadilah yang berhasil memaksa WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, Lembaga penelitian senjata biologi Pentagon (Kementerian Pertahanan AS).

Pada 16 Oktober 2009 nampaknya hari sial bagi Pemerintah Amerika Serikat, khususnya Kedutaan Besarnya yang ada di Jakarta. Sebab pada hari itu Siti Fadila yang sudah dapat informasi A-1 bahwa dirinya tidak akan dipilih kembali jadi Menteri Kesehatan, mengirim surat pemberhentian kerjasama Indonesia-AS terkait Kementerian Kesehatan-NAMRU, kepada Duta Besar AS, Cameron Hume.

NAMRU dicurigai sebagai bagian dari upaya AS untuk memata-matai Indonesia dengan kedok sebagai Lembaga Riset. Sehingga pada masa kepemimpinannya di Kementerian Kesehatan, Siti Fadilah melarang rumah sakit di Indonesia mengirimkan sampel virus flu burung H5N1 ke Lembaga milik Angkatan Laut yang kita kenal sebagai NAMRU-2 AS. Sebab berdasarkan penelitian Siti Fadilah, virus flu burung asal Indonesia yang dibawa ke luar Indonesia itu dimaksudkan untuk dibuat vaksin anti flu burung. Dengan dalih riset, sampel virus dari negara-negara yang terkena epidemic flu burung dibuat vaksin.

Selanjutnya, tanpa ijin dan kompensasi, vaksin dijual dengan harga mahal. Negara epidemic dipaksa WHO menyerahkan sample virus ke Global Influenza Surveillance Network (GISN).

Salah satu poin penting Siti Fadilah yang terangkum dalam buku memoarnya bertajuk Saatnya Dunia Berubah), Pemerintah AS dan WHO telah berkonspirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus flu burung.

Fakta yang berhasil diperoleh Siti Fadilah, data sequencing DNA H5N1 yang dikuasai WHO Collaborating Center (WHO CC) disimpan di Los, Alamos National Laboratory di New Mexico, AS. Laboratorium Los Alamos yang berada di bawah Kementerian Energi AS ini, diketahui telah melakukan riset mengenai senjata biologi dan bahkan, bom atom.

Menurut informasi yang berhasil dihimpun tim riset Global Future Institute pada Desember 2009, pemerintah AS sempat mendesak pemerintah Indonesia agar buku memoar Siti Fadilah tersebut ditarik dari peredaran. Sebagai imbalannya, AS akan memberikan suku cadang militer yang sebelumnya diembargo pemerintahan AS semasa Presiden Bill Clinton, menyusul penembakan TNI di Santa Cruz, Timor-Timur.

Pertanyaannya kemudian, apakah dengan dihentikannya kerjasama Indonesia-NAMRU-2 pada Oktober 2009 lalu, NAMRU-2 AS atau yang sejenis dengan itu, tidak akan beroperasi lagi di Indonesia?

Nah inilah yang masih tanda tanya besar. Bahkan Siti Fadilah Supari pun masih menaruh kekhawatiran besar akan hal ini. Apalagi pada kenyataannya, yang mengganti Siti Fadilah sebagai Menteri kesehatan adalah Endang Rahayu Sedyaningsih. Sebab  semasa Siti Fadilah menyelidiki keterlibatan NAMRU-2 sebagai virus transfer, terungkap bahwa Endang memiliki hubunga khusus dengan NAMRU-2 milik Angkatan Laut AS itu.

Kalau kita membuka kembali tumpukan berita-berita lama kala itu, terpilihnya Endang sebagai menteri kesehatan baru, memang cukup mengejutkan. Sebab sebelumnya sudah santer bahwa yang akan menggantikan Siti Fadilah, adalah Nila Anfasa Moeloek. Sehingga Siti Fadilah merasa khawatir bahwa Endang akan membawa agenda terselubung asing utamanya AS, seraya menghapus program-program Siti Fadilah semasa menjabat menteri kesehatan. Tentunya antara lain terkait keberadaan NAMRU-2 di Indonesia.

Dalam sebuah wawancara Bersama Majalah Intelijen terbitan Desember 2009, Siti Fadilah berkata: “Saya tegaskan bahwa yang menggantikan saya itu neolib. Mengapa Endang yang dipilih, padahal pejabat eselon 2 Kementerian Kesehatan cukup banyak. Itu menjadi indikasi bahwa kabinet Indonesia Bersatu II pro neolib. Indonesia masih di bawah kekuasaan AS.”

Secara khusus terkait NAMRU-2 AS, Siti Fadilah berkata: “Lambang hegemoni AS yang paling nyata di Indonesia adalah NAMRU. NAMRU adalah masalah kedaulatan. NAMRU adalah pangkalan militer yang bergerak di bidang kesehatan. NAMRU bagian grand strategy pertahanan AS.”

Membaca misi terselubung NAMRU-2 AS dari sudut pandang Siti Fadilah Supari, nampaknya kita masih cukup beralasan untuk mewaspadai potensi beroperasinya kembali NAMRU-2 AS sebagai laboratorium yang bertujuan ganda. Atau dengan meminjam istilah Siti Fadilah,  merupakan pangkalan militer AS yang bergerak di bidang kesehatan.

Maka itu, skema maupun modus operandi ala NAMRU-2 AS harus terus-menerus dalam pantauan berbagai pemangku kepentingan kebijakan luar negeri di Indonesia. Seperti Kementerian Politik dan Keamanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertahanan, Lembaga Ketahanan Nasional, maupun Badan Intelijen Negara (BIN) maupun Badan Intelijen Strategis (BAIS).

Hendrajit, pengkaji geopolitik Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments