Menyingkap Sepak-Terjang Tentara Bayaran Binaan Inggris dan Prancis di Timur-Tengah, Afrika dan Amerika Latin

Bagikan artikel ini

Namanya sih cukup keren. Private Military Companies (PMCs). Tapi sejatinya ini merupakan perusahaan pemasok personil tantara yang siap ditugaskan dalam kancah peperangan di berbagai kawasan, bukan atas dasar kesetiaan pada bangsa dan negaranya. Melainkan uang. Menariknya, kebanyakan personil rekrutan PMCs itu merupakan masih merupakan perwira aktif.

Jejak-jejak tantara bayaran Inggris yang kerap disebut sebagai mercenaries, bisa ditelisik melalui kiprah  Michael Ancram, saat ini anggota Majelis Tinggi/House of Lord, Inggris. Meskipun beberapa waktu lalu Ancram mendesak pemerintah Inggris, khususnya the British government’s Foreign and Commonwealth Office (FCO), untuk mengusut kegiatan PMCs Rusia di Zimbabwe, Afrika. Namun belakangan terungkap bahwa di balik desakan Ancram untuk mengusut kegiatan PMCs Rusia, ada kepentingan pribadi Ancram terkait PMCs miliknya sendiri. Yaitu Middle East Consultants International (MECI).

Usut punya usut, MECI rupanya mempekerjakan beberapa mantan pejabat FCO dan mantan agen-agen badan intelijen Inggris MI6. Dengan demikian, desakan untuk menyingkirkan PMCs Rusia di Zimbabwe itu, rupanya sarat kepentingan untuk menyingkirkan pesain bisnis yang mana Ancram merupakan pimpinan dari MECI.

Selain itu, reputasi Ancram dalam kiprahnya merekrut tantara bayaran ternyata sudah berlangsung sejak awal Perang Dingin pada awal 1950-an. Ketika memimpin sebuah satuan tugas siluman bernama Le Cercle, yang dibentuk oleh Perdana Menteri Prancis Antoine Pinaydan seorang agen intelijen Prancis Jean Violet pada 1952.

Menurut sebuah artikel menarik yang ditulis Wayne Madsen bertajuk:

London and Paris Hypocritical on Private Military Firms 

Le Cercle, sebagai sebuah komunitas intelijen, beranggotakan aparat pemerintah dan aparat intelijen dari 25 negara Eropa Barat. Bertemu dua kali dalam setahun. Dan diyakini sumber dananya berasal dari badan intelijen AS CIA. Beberapa tahun yang lalu, Le Cercle tidak segan-segan untuk mendukung digunakannya para personil tantara bayaran, terutama di beberapa negara Afrika yang merupakan wilayah jajahan Prancis, Spanyol, Portugis dan Inggris.

Jadi kalau menelisik jaringan dan relasi Ancram, maka dirinya boleh dibilang merupakan pusat penghubung dan pemersatu antara komunitas intelijen Inggris dan Prancis. Sekaligus menjadi the connecting dot ke sumber pendanaannya (British and French link funding). Adapun di Amerika Serikat, jaringan ini juga punya pelobi andalannya, yaitu  the International Stability Operations Association.

Anehmya, seperti halnya yang disuarakan oleh Ancram di Inggris ihwal PMCs Rusia yang berkiprah di Afrika, di Washington juga ada manuver tebar isu yang sama yang dikumandangkan oleh kroni-kroni Presiden Donald Trump, yaitu tentang keberadaan Wagner Group, PMCs ala MECI Inggris. Yang kabarnya berkiprah dalam operasi militer dan bantuan logistik Suriah, Kongo, Libya, Yaman, Sudan, Sudan Selatan, Venezuela, Chad dan Zimbabwe.

Namun lucunya, para kroni neokonservatif pemerintahan Trump di Gedung Putih seperti menteri luar negeri Mike Pompeo yang mantan Direktur CIA, dan Penasehat Keamanan Nasional John Bolton, sepertinya menutup mata dan pura-pura tidak tahu terkait kiprah PMCs  Reflex Responses (R2) yang berkiprah di Libya, Yaman, Kolombia, Somalia, dan Malta. Mengapa Pompeo dan Bolton diam saja dan tidak bertindak apa-apa terhadap perusahaan kontraktor militer yang berbasis di Amerika itu?

Karena R2 dikelola oleh Putra Mahkota Kerajaan Uni Emirat Arab, Pangeran Mohammed bin Zayed. Dan ada sangkut-pautnya dengan perusahaan kontraktor militer Black Water, yang terkenal dengan reputasi buruk dalam pelanggaran hak-hak asasi manusia di Afghanistan dan Irak. Ketika tantara AS menginvasi kedua negara pada 2001 dan 2003. Bahkan juga di Pakistan.

Pemilik Blackwater, Erik Prince, merupakan saudara laki-laki dari Betsy DeVos, Menteri Pendidikan dalam kabinet pemerintahan Trump.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments