Miami, Basecamp Badan Intelijen AS CIA, untuk Operasi Menggulingkan Presiden Nikolas Maduro

Bagikan artikel ini

Miami yang berlokasi di Florida, Amerika Serikat, sejak awal Perang Dingin antara Amerika Serikat versus Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina pada dekade 1980-an, merupakan tempat perlindungan bagi para mantan pejabat tinggi negara dan para pengusaha besar beberapa negara Amerika Latin dari sasaran pemerintahan berhaluan sosialisme kerakyatan seperti di Kuba, Venezuela, Guatemala, Chile dan sebagainya.

Bahkan sekarang di era pasca Perang Dingin, Miami masih tetap jadi basecamp ribuan korporasi yang berada dalam binaan dan arahan badan intelijen AS CIA. Maupun beberapa kontraktor militer. Bebebrapa pesawat tanpa kejelasan identitasnya terbang dari bandara Florida menuju Amerika Latin di bawah kendali The US Southern Command (SOUTHCOM). Bertujuan melakukan aksi destabilisasi di beberapa negara Amerika Latin yang jadi sasaran Amerika untuk digulingkan dari tampuk kekuasaan.

Dalam kerangka misi tersebut, Miami, atau dalam artian lain adalah MIAMI,  Military Intervention and Mercenaries, Inc, merupakan sarana penghubung (nexus) dari berbagai jaringan terorganisir, untuk digalang sebagai kekuatan-kekuata politik terorganisasi untuk menggulinkan beberapa pemerintahan Amerika Latin yang membangkang terhadap arahan skema dan kebijakan strategis Washington, IMF dan Bank Dunia.

Antara lain terkait dengan upaya yang digalang AS dan Kanada untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nikolas Maduro. Dalam kasus ini, lagi-lagi Miami merupakan sarang persembunyian para operator CIA yang ditugaskan untuk menggalang aksi destabilisasi terhadap Presiden Maduro. Hal itu terungkap ketika lima warga negara AS, plus dua orang berkebangsaan Serbia, ditangkap aparat kepolisian Haiti gara-gara kedapatan bawa senjata, peralatan komunikasi, dan peralatan militer.

Tentu saja insiden ini mengundang kecurigaan jangan-jangan merupakan bagian integral dari operasi intelijen CIA untuk menekan Presiden Haiti Jovenel Moise dan Perdana Menteri Jean Henry Céant agar memutuskan hubungan diplomatik dengan pemerintah Venezuela. Seperti kita ketahui, Presiden AS Donald Trump berupaya keras dengan berbagai cara, agar Maduro dilengserkan, dan memunculkan presiden boneka, Juan Guaido sebagai penggantinya.

Fakta yang terungkap melalui sebuah artikel menarik yang berjudul:

Military Intervention and Mercenaries, Inc. (MIAMI) 

Kelima warga AS yang diduga agen intelijen CIA itu, ternyata kemudian dikirim kembali ke Miami, atas perintah dari Menteri Kehakiman Haiti Jean Roody. Atas jaminan pemerintahan Presiden Trump bahwa ketujuh orang asing yang secara resmi berstatus kriminal tersebut akan diadili di AS. Namun ketika sudah sampai di Miami, kantor kejaksaan agung Miami, yang mendapat perintah dari Jaksa Agung federal AS William Barr yang punya kedekatan personal dengan pucuk pimpinan CIA, menolak memproses hukum ketujuh orang yang ditangkap di Haiti tersebut.

Ternyata gara-gara mengembalikan ketujuh tersangka tersebut kembali ke AS, mengundang protes keras dari beberapa anggota parlemen Haiti. Seraya mempertanyakan peran yang dimainkan Menteri Kehakiman Jean Roody dalam memerintahkan aparat kepolisian nasional Haiti mengirim ketujuh tersangka yang disinyalir agen intelijen CIA itu ke Miami.

Pihak pemerintah Haiti sendiri secara resmi menggambarkan ketujuh tersangka itu sebagai teroris dan tantara bayaran. Tapi apa benar? Faktanya, dua orang Amerika itu, Christopher Michael Osman, dan Christopher Mark McKinley, merupakan mantan perwira intelijen angkatan laut Navy Seal. Sedangkan rekannya yang lain seperti Kent Leland Kroeker, merupakan mantan perwira angkatan laut AS. Adapun orang Amerika lainnya Talon Ray Burton, merupakan mantan polisi militer angkatan darat. Dan juga mantan pegawai sebuah perusahaan kontraktor militer Blackwater.

Oh ya fakta lain yang tak kalah menarik, Erick Prince, pemilik Blackwater, merupakan saudara dari Menteri Pendidikan Betsy DeVos. Berarti ada indikasi kuat bahwa ketujuh orang yang dikirim ke Haiti itu merupakan operasi intelijen atas arahan Gedung Putih.

Adapun Dustin Porte, juga eks militer, merupakan Presiden Patriot Group Services, sebuah perusahaan kontraktor pertahanan yang berada di bawah kendali Homeland Security Department, atau Kementerian Dalam Negeri AS.

Singkat cerita, sejak 1960-an Miami dikenal sebagai tempat pengasingan bagi para tokoh politik dan pengusaha sayap kanan dari berbagai negara Amerika Latin. Yang mana sebagian besar dibina oleh CIA.

Kehadiran SOUTHCOM di Miami, telah memfasilitasi para agen CIA dalam mendapatkan tempat sebagai basis operasi untuk melakukan penggulingan kekuasaan terhadap rejim yang dipandang Washington sebagai musuh seperti Venezuela dan Kuba. Dan sasaran AS saat ini selain Venezuela, adalah Nicaragua, Haiti, Kuba dan Bolivia.

Diolah kembali oleh Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments