Mimpi Pak Ndul Tentang People Power

Bagikan artikel ini

Pola asymmetric warfare (peperangan nirmiliter) mengisyaratkan, bahwa terminologi people power (disingkat: “Pepo”) kendati sudah berhembus kencang dan menjadi atensi publik baik lokal/nasional, regional maupun global, tetapi tatarannya baru sebatas tema atau agenda. Geliat Pepo belum masuk ke ranah skema atau tujuan. Atau, apabila dikaji dari perspektif geopolitik, ia hanya geostrategi belum merambah apa yang disebut geoekonomi. Dan sudah barang tentu, ia —agenda— akan melaju ke (skema) geoekonomi. Itu keniscayaan perilaku dalam praktik geopolitik.

Lantas, apa yang sesungguhnya terjadi di Bumi Pertiwi? Di sini, saya coba mencermati dan nanti sifatnya hanya menerangkan hasil cermatan belaka. Tak lebih. Penilaian lanjut diserahkan kepada anda sekalian.

Dalam konteks Pepo, ada dua sudut pandang yang berhadapan. Pertama, Kepentingan Nasional RI (KENARI); dan kedua, sudut sebaliknya yaitu Kepentingan Negara Asing (KENARA). Ya, intinya KENARI versus KENARA.

Lalu, sejauhmana kekuatan dan kelemahan masing-masing, dan apa peluang serta kendalanya? Mungkin terlalu lebar serta meluas. Kita batasi saja tanpa mengurangi esensi. Saya akan melihat Pepo dari aspek sistem. Kenapa? Karena apapun entitas dan/atau organisme baik skala kecil hingga besar, kiprah mereka bisa diurai melalui sisi ke-sistem-an. Warung kaki lima, contohnya, itu sistem, atau korporasi tambang, korporasi bidang pangan dan seterusnya itu pun sistem. Sebuah negara, apalagi, bahkan PBB (United Nations) ialah sistem. Ya. Sistem ada dimana-mana. Sedang definisi sistem itu sendiri silahkan di googling.

Dalam sistem ada beberapa tingkatan, level atau tahap. Jumlah tahapannya bervariasi tergantung skala. Tahap paling atas lazimnya disebut: “(top) manajemen”, sedang yang terbawah disebut: “Metode”. Kemudian di antara manajemen dengan metode terdapat tahapan (level) dengan jumlah bervariasi tergantung konteks dan teori.

Selanjutnya untuk membatasi bahasan, pada skenario Pepo kali ini, saya coba menerangkan kondisi atas jalannya sistem dari KENARA, yakni Kepentingan Negara Asing.

Jujur harus diakui. Secara metode, sistem KENARA terkait Pepo telah gagal. Saya tidak akan menjelaskan detail perihal apa, siapa, bagaimana dan mengapa gagal. Bisa berlembar-lembar. Ini hanya poin-poin inti saja.

Lanjut. Demikian pula ketika person di tataran metode diganti oleh person di tahapan man power —level di atas metode— juga mengalami kegagalan akibat diketahui serta ditolak oleh publik. Dan agaknya person di tahapan mesin (tahapan di atas man power) pun tampak galau besar. Ketakutan atas kegagalan membayang di depan mata. Dan sepertinya memang gagal meski dengan ‘langkah bayangan’ sekalipun. Ya, sistem KENARA telah gagal sampai tataran mesin. Ini cermatan saya.

Sekarang membahas konsekuensi atas langkah KENARA yang cenderung blunder. Dalam operasional sebuah sistem, jika gagal di metode maka (top) manajemen terguncang. Itu konsekuensi logis. Hanya top manajemen yang mampu melihat operasional sistem secara totalitas. Mau contoh? Metodenya warung kaki lima itu berjualan di pinggir jalan. Coba, gusur warungnya dari jalanan, pasti owner (top manajemen)-nya panik. Itu contoh kecil.

Dan bila gagal di man power (tahap di atas metode) maka marketing menjadi kacau. Marketing ini level di bawah manajemen. Artinya ia tak mampu mengendalikan pasar. Ketika tak mampu menguasai pasar, biasanya marketing bermain di level persepsi, mengaduk-aduk opini publik. Memainkan kembali menu kuno seperti isu sentimen tentang agama, suku, kedaerahan dan seterusnya. Tetapi akan sia-sia. Selain tak mempan mengacau/mengalihkan situasi, juga isu tadi justru men-downgrade ketokohan si penyebar isu. Sudah terjadi toh? Iya.

Selanjutnya, ketika gagal pula di tahap mesin (level di atas man power), maka money (level di bawah marketing) pun selain hancur (cenderung bangkrut), ia juga bisa “lari” akibat jaminan operasional sistem tidak mampu membuat kepastian-kepastian. Pak nDul terbangun, jangkrik! Jangkrik! Katanya sambil mengelus kumisnya. Mau menyulut rokok, eh adzan subuh sudah terdengar. Batal ngrokok dia.

Ada yang bertanya, “Pak nDul, money berlari (capital outflow) itu mimpi atau riil. Lantas, jika lari ia bakal terbang kemana?” Pak nDul tidak menjawab. Mana kutahu, batinnya. Namanya juga mimpi ..

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments