NAMRU-2, Isu Kesehatan Yang Meluas Jadi Isu Politik-Keamanan

Bagikan artikel ini

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

 The U.S. Naval Medical Research Unit Two (NAMRU-2), kalau merujuk pada situs Kedubes Amerika Serikat dinyatakan bahwa NAMRU-2 ebuah laboratorium penelitian biomedis yang meneliti penyakit menular demi kepentingan bersama Amerika Serikat, Departemen Kesehatan RI, dan komunitas kesehatan umum internasional. NAMRU-2 didirikan pada tahun 1970 sesuai permintaan Departemen Kesehatan RI.

Pakar intelijen dan mantan Kepala Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) pada 1996-1998, Laksamana Muda (Purn) Subardo, meyakini bahw NAMRU-2 merupakan sarana yang digunakan untuk operasi intelijen angkatan laut AS. Hal ini berdasarkan pengamatan dan pengalaman Laksamana Muda Subardo selaa 30 tahun berkiprah di bidang intelijen.

 

Baca: NAMRU II dan Perjuangan Ibu Siti Fadilah Supari melawan konspirasi USA (Vaksin Flu Burung di-Indonesia)

 

Meski pernyataan Laksamana Muda Subardo tersebut diutarakan pada tahun 2008 lalu, namun mengingat kompetensi dan otoritas beliau yang begitu lama berkecimpung di dunia intelijen, penilaian bahwa NAMRU-2 AS sejatinya merupakan sarana operasi intelijen angkatan laut AS berkedok lembaga penelitian penyakit-penyakit menular, kiranya masih tetap relevan hingga kini dan patut jadi bahan pertimbangan penting untuk mencegah laboratorium-laboratorium ala NAMRU-2 AS aktif dan beroperasi kembali di Indonesia.

 

Desakan dan seruan Laksamana Muda Subardo agar masalah NAMRU-2 AS ditangani oleh pemerintah dan Badan Intelijen Negara (BIN) menurut Global Future Institute (GFI) sangat tepat. Sebab kasus NAMRU-2 AS pada perkembanganya kemudian, bukan sekadar isu kesehatan, melainkan telah meluas lingkupnya menjadi isu politik dan keamanan nasional.

sitifadilah

 

Apalagi dalam konsideran yang dinyatakan oleh Menteri Kesehatan Siti Fadila Supari ketika memutuskan penghentian NAMRU-2 AS pada Oktober 2009, mengaskan bahwa “Keberadaan NAMRU-2 AS telah mengganggu kedaulatan Indonesia.Sebab pusat penelitian NAMRU-2 itu telah digunakan untuk meneliti virus yang dilakukan angkatan laut AS.”

 

Seperti penuturan mantan Menteri Kesehatan Supari dalam bukunya yang bertajuk Saatnya Dunia Berubah,  Siti Fadilah tidak sungkan menuduh pabrik farmasi AS dapat membuat senjata biologi melalui virus Flu Burung ini.

 

Saatnya-dunia-berubah

Sebagai dokter yang lebih banyak aktif sebagai peneliti, Supari mulai mencium gelagat tidak beres ketika banyak negara (termasuk Indonesia) dilanda bencana virus Flu Burung. WHO mewajibkan negara-negara yang menderita virus Flu Burung untuk menyerahkan virusnya ke laboratorium mereka.

 

Namun anehnya, hasil penelitian dari virus tidak diberikan kepada negara penderita (affected countries). Tiba-tiba vaksinnya sudah ada dan dijual secara komersial. Vietnam, contohnya, memiliki banyak penderita penyakit Flu Burung. Vietnam pun memberikan sampel virusnya ke WHO. Tidak ada vaksin yang didapat malah terpaksa untuk membeli vaksin Flu Burung dari salah satu perusahaan farmasi AS dengan harga mahal. Darimana vaksin itu berasal kalau bukan dari sampel virus flu burung Vietna.

 

Sejak menyadari adanya ketidakberesan ini, maka Supari mulai menolak permintaan WHO agar menyerahkan sample virus Flu Burung tanpa syarat kepada Badan Kesehatan Dunia itu. Supari mencium adanya aromo kapitalisme dan kolonialisme di balik sepak-terjang WHO ini.

 

Betapa tidak. WHO justru menjual kembali virus itu kepada perusahaan farmasi AS untuk dibuatkan vaksinnya yang akan dijual secara komersial kepada negara-negara yang menderita pandemi Flu Burung.

Hal ini semakin jelas ketika pihak WHO yang diwakili Dr. Heyman mendatangi Ibu Menteri Kesehatan memaksa Ibu Siti Fadilah untuk memberikan sampel virus Flu Burung Indonesia kepada WHO.

 

Dari hasil sebuah penelitian, virus Flu Burung ala Indonesia memiliki tingkat keganasan yang sangat tinggi. Vaksin flu burung yang sudah ada waktu itu tidak mampu mengatasi virus Flu Burung ala Indonesia. Ibu Menteri Kesehatan menyadari bahwa virus Flu Burung ala Indonesia ini yang sangat dibutuhkan oleh WHO.

 

Setelah melalui perjuangan yang berat dan berliku-liku, termasuk tentangan dari kalangan elit pimpinan nasional kita sendiri, akhirnya pada 16 Oktober 2009 berakhirlah keberadaan NAMRU-2 AS di Indonesia, yang dimulai sejak 16 Januari 1970.

 

Namun, mengingat begitu besar pertaruhan kepentingan korporasi-korporasi farmasi global maupun kepentingan strategis militer AS melalui proyek NAMRU-2 AS, sudah saatnya seluruh elemen strategis bangsa mewaspadai kemungkinan beroperasinya kembali laboratorium-laboratorium penelitian kesehatan ala NAMRU-2 di Indonesia. Seraya memikirkan dan merumuskan strategi menangkal terulangnya kembali proyek NAMRU-2 AS di tanah air.

 

 

 

 

 

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com