AS-NATO Terapkan Sanksi Ekonomi “Tebang Pilih” Terhadap Negara-Negara Pengimpor S-400 dan SU-35 Rusia

Bagikan artikel ini

Baru-baru ini AS dan negara-negara Eropa Barat yang tergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara(NATO) memperingati hari jadinya yang ke-70. Adakah sisi menarik yang layak sorot di balik persekutuan AS-NATO sejak pasca Perang Dunia II itu? Ada. Pada 3 April lalu, Wakil Presiden AS Mike Pence memperingatkan Jerman dan Turki, dua negara anggota NATO, supaya jangan menjalin kerjasama erat dengna Rusia.

Oleh sebab peringatan Wakil Presiden Pence ini dinyatakan secara eksplisit, tentu saja menarik. Kepada Jerman, Pence mendesak Jerman supaya tidak menghentikan kerjasama dengan Rusia terkait pembangunan the Nord Stream 2 pipeline. Sebab melalui skema kerjasama pembangunan tersebut, Pence berpandangan Jerman akan berada dalam kendali Rusia. Istilah Pence, a captive of Rusia.

 

Baca : Hypocrisy Inc: Washington’s Selective Sanctions

Kepada Turki, Pence mempertanyakan niat baik negara anggota NATO itu apakah seterusnya akan menjadi mitra NATO yang kritis sehingga akan merusak persekutuan Turki dengan negara-negara anggota NATO lainnya?

Sekadar informasi. Beberapa negara anggota NATO termasuk Turki, pada 2011 lalu telah berhasil melancarkan serangan militer terhadap pemerintahan Libya pimpinan Moammar Khadafi. Sehingga akhirnya Khadafi berhasil ditumbangkan melalui model campur tangan asing yang bertumpu pada skema persekutuan AS-NATO. Keberhasilan persekutuan AS-NATO di Libya tersebut kemudian dijadikan model campur-tangan dalam upaya menggulingkan pemerintahan yang tidak sejalan dengan kepentinganj global AS.

Hanya saja, model campur-tangan ala AS-NATO Libya tersebut gagal total diterapkan dalam menggulingkan pemerintahan Presiden Bashar al Assad di Suriah.

Kembali pada peringantan Wakil Presiden Pence kepada Turki. Nampaknya bertumpu pada keputusan Turki membeli Sistem Pertahanan antirudal buatan Rusia S-400. Yang dipandang AS dan NATO bisa berbahaya. Selain fakta bahwa Rusia dipandang sebagai negara musuh oleh AS dan NATO. Sehingga Pence mengisyaratkan tidak akan tinggal diam jika Turki meneruskan niat membeli senjata aneka jenis dari Rusia yang dipandang sebagai musuh AS dan NATO.

S-400 Triumf memiliki sistem radar multifungsi terintegrasi, sistem deteksi dan target otonom, sistem anti-pesawat terbang, peluncur dan pusat komando. Sistem ini mampu menembakkan 3 jenis rudal untuk menciptakan lapisan pertahanan udara. Rudal ini mampu mengenai target udara berupa jet tempur, drone, hingga rudal dengan ketinggian maksimal 30 kilometer dan jarak maksimal 400 kilometer. Sistem S-400 ini dianggap lebih canggih dua kali lipat dibanding pendulunya dan bisa dipasang untuk Angkatan Darat, Laut, dan Udara.

Jadi pantaslah dan masuk akal jika AS dan NATO sangat khawatir ketika Turki memiliki S-400. Adapun Sistem rudal S-400 Triumf merupakan versi lanjutan dari S-300, yang juga merupakan sistem pertahanan udara rudal dari darat ke udara. Sistem rudal canggih ini mulai beroperasi pada April 2007 dan mulai digunakan dalam pertempuran pada Agustus 2007.

Maka dengan tiada ayal Turki terkena sanksi Washington dengan menunda penjualan 100 unit pesawat termpur F-35 buatan Lockheed Martin seharga 16 miliar dolar AS. Jelas ini merupakan tindakan yang sangat keras terhadap negara yang termasuk sekutu lama AS dan NATO seperti Turki.

Bahkan Cina, yang notabene pesaing AS, juga kena sanksi ketika Cina berencana membeli pesawat tempur SU-35 dan Sistem Pertahanan Udara antirudal S-400 produk Rosoboronexport.

Tak pelak lagi bahwa sasaran sesungguhnya adalah upaya AS dan NATO untuk melemahkan Rusia. Hal ini dipayungi oleh produk hukum bernama  US Public Law 115-44, the ‘Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act’ (CAATSA). Yang mana payung hukum tersebut dimaksudkan agar Kongres bisa melakukan telaah dan kontra agresi terhadap Rusia, Iran, Korea Utara, maupun negara-negara lain yang dipandang sebagai musuh AS.

\amun sasaran spesifik AS adalah menggunakan kongres untuk menghukum negara-negara yang membeli produk peralatan militer Rusia seperti S-400. Sehingga akan menciptakan ketakutan negara-negara yang bermaksud membeli peralatan militer Rusia seperti S-400. Sebab dengan mengimpor jenis-jenis senjata buatan Rusia yang dipandang sebagai ancaman berbahaya bagi NATO seperti SU-35 dan S-400, akan dikenakan sanksi ekonomi oleh AS.

Tapi jangan dikiran manuver pemerintahan Trump dan kongres melalui CAATSA ini menguntungkan AS. Akibat sanksi ekonomi AS itu, Turki mulai beranggapan AS merupakan sekutu yang tidak bisa dipercaya. Sehingga mulai mempertimbangkan untung-ruginya meneruskan persekutuannya dengan AS-NATO.

Sementara Cina, juga mendesak AS untuk meninjau kembali sanksi ekonominya kepada Cina. Seraya semakin mempererat persekutuan dan kerjasama strategisnya dengan Rusia dalam kerangka melawan kebijakan dominasi global AS.

Yang mengherankan, meskipun pemerintah India juga membeli sistem pertahanan udara antirudal S-400 dari Rusia, namun sanksi ekonomi yang diterapkan kepada India tidak sekeras terhadap Turki maupun Cina. Apakah hal ini disebabkan India masih tetap dalam naungan negara-negara Persemakmuran eks koloni Inggris? Bisa jadi.

Namun yang jelas, AS-NATO sepertinya menerapkan sanksi selektif atau tebang pilih terhadap negara-negara yang membeli SU-35 atau S-400 dari Rusia.

Diolah dari berbagai sumber oleh Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments