Novel Distopia Itu Berjudul ‘1984’

Bagikan artikel ini

M. Djoko Yuwono, Wartawan Senior dan Budayawan

Lewat 1984, George Orwell menyajikan satire yang tajam tentang luluhnya kehidupan masyarakat. Setiap gerak warga negara dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, setiap pemikiran dikendalikan.

Novel ini ditulis tahun 1949, tetapi bisa menggambarkan situasi kehidupan masyarakat sekian dekade kemudian, 1984. Futuristik. Semasa Orde Baru saya sering mengutip nukilan novel ini untuk materi tulisan satire, baik untuk kolom Colek Rileks di koran Harian Terbit maupun untuk kolom di tabloid AKSI.

Bergenre distopia, karya fiksi ini berkisah tentang kualitas masyarakat yang sangat buruk karena tekanan pemerintah atau pemimpin, dilanda wabah penyakit, dihantui teror dan intimidasi secara terus-menerus. Ya, begitulah situasi distopia. Hidup serba waswas dan menakutkan, tidak ada kesetaraan di antara warga, masyarakat selalu dalam keadaan tertekan dan hidup tidak layak, penuh nuansa negatif dan keputusasaan.

Orwell memprediksi bahwa suatu saat muncul kondisi seperti itu. Orwell meletakkan kekuasaan sebagai subjek yang menakutkan. Kekuasaan masuk ke dapur setiap warga, menunggu Anda yang sedang tidur nyenyak, mencatat setiap ucapan yang Anda katakan. Setiap suara yang berbunyi selalu direkam dengan baik dan teliti, aktivitas selalu dikontrol, desah napas direkam oleh penguasa.

Pada saat itu, kontrol kekuasaan adalah kontrol yang begitu ketat sehingga tidak ada aktivitas pribadi maupun kolektif yang lepas dari kontrol. Teleskrin menjadi alat canggih untuk mengetahui segala tindakan dan pikiran warga. Begitu ada yang bertentangandengan rezim penguasa, sang penguasa segera bertindak, tak satu pun ada yang bisa melawan.

Bagaimana selengkapnya? Silakan baca sendiri buku ini.

Facebook Comments