Pancasila vs Khilafah

Bagikan artikel ini

Tinjauan Kecil Geopolitik

Kecenderungan media massa kini terutama media mainstream, selain menjadi alat kekuasaan —berita berpihak dan kerap berbasis pesanan— dalam praktik, ia sudah semacam “industri tipuan” ke publik atas hasrat pemilik modal dan elit politik tertentu.

Model keberpihakan media ini bukanlah pola, karena dunia media punya pakem dan etika sendiri, tetapi sekedar tren atau kasuistis semata terutama di momen tertentu pada kasus tertentu pula. Hal ini dapat berlaku baik secara lokal, regional maupun global. Secara geopolitik, itu sah-sah saja karena di sekitar kekuasaan berkembang asumsi: “Kuasai media, lembaga keuangan dan pemerintah, maka agama apapun di bawah tapak kakimu”. Lantas, siapa mereka? Yaitu kaum kapitalis, baik kapitalisme berbasis negara seperti elit penguasa di Cina, Rusia, dan seterusnya maupun kapitalisme berbasis korporasi seperti segelintir elit partikelir di Amerika (AS) dan sekutu.

Seperti kata Sun Tzu, all warfare is deception. Semua peperangan adalah tipuan. Kenapa begitu? Memang begitu. Geopolitik mengajarkan, bahwa muara (tujuan) perilaku geopolitik ialah geoekonomi. Jika makna geoekonomi di masa penjajahan purba adalah rempah-rempah, sedang arti geoekonomi di era kini adalah minyak, emas, gas bumi, pangan, dan lain-lain. Control oil and you control nation, control food and you control the people, kata Henry Kissinger.

Jadi, dimana “tipuan”-nya seperti apa isyarat Sun Tzu di atas? Tipuan dimaksud bersembunyi pada apa yang disebut geostrategi itu sendiri. Bagaimana kolonialisme masuk dan mencengkram negara target melalui tipuan-tipuan tetapi ujungnya mencaplok geoekonomi. Jadi urutannya geopolitik-geostrategi-geoekonomi. Jangan dibolak-balik.

AS dan NATO contohnya, ketika mereka masuk dan merebut geoekonomi di Timur Tengah melalui isu terorisme, ISIS dan lain-lain. Jadi konflik/peperangan yang timbul akibat isu-isu tersebut itulah yang dinamai agenda/tema dari sebuah geostrategi.

Dalam perspektif geopolitik, sesungguhnya tidak ada perang agama, atau konflik suku, ras, golongan atau pertikaian antarmazhab dst melainkan karena faktor geoekonomi. Retorikanya simpel, “Jika Papua cuma penghasil koteka, apakah akan ada OPM disana?” Semua karena (emas dan gas) faktor geoekonomi di Papua.

Saya disini, cuma menerangkan dan sifatnya mengingatkan. Tidak lebih. Bangsa ini, jangan mau dijadikan korban dan tumbal politik sedang permainan politik itu sendiri banyak anak bangsa selain tidak paham atas kondisi yang sesungguhnya tengah terjadi, juga tak sedikit yang terjangkit “stockholm syndrome”, sebuah virus politik yang membentuk sikap mental menjadi membabi buta demi membela sosok, mendukung kelompok, bahkan jatuh cinta kepada kaum tertentu yang justru mereka akan merampok serta menghancurkan kehidupannya.

Maka ketika dihembuskan isu bahwa dalam pilpres (2019) ini yang berhadapan adalah Pancasila versus Khilafah, itu merupakan bagian dari geostrategi sebagaimana diurai selintas di atas, atau kata Sun Tzu ialah tipuan semata.

Jika AS dan NATO dahulu masuk ke Timur Tengah melalui isu terorisme, ISIS, Arab Spring dan seterusnya —itulah geostrategi— padahal tujuannya ialah geoekonomi. Demikian pula ketika isu khalifah ditebar ke publik maka ujungnya juga niscaya geoekonomi namun melalui pintu kekuasaan. Itulah tinjauan sekilas tentang maraknya isu Pancasila versus Khilafah agar anak bangsa ini tidak terombang-ambing oleh isu-isu yang ditebar dan berserak di masyarakat.

Demikian adanya, demikianlah sebaiknya.

M. Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments