Paradoks di Gedung Putih: Antara Trump, Bolton dan Pompeo

Bagikan artikel ini

Pada 3 Maret silam, selama satu setengah jam, Trump dan Putin melakukan pembicaraan telepon, yang dinilai Trump sebagai diskusi yang positif dan sangat produktif. “Bergaul dengan Rusia dan Cina, bergaul dengan mereka semua adalah hal yang sangat baik, bukan hal yang buruk, itu hal yang baik, itu adalah hal yang positif,”

Trump mengkonfirmasi bahwa ia terbuka untuk negosiasi terkait pengurangan stok senjata nuklir dengan Moskow dan Beijing dalam konteks kesepakatan trilateral (AS-Rusia-Cina). Tidak dapat dipungkiri, perjanjian semacam itu berpotensi merusak kestabilan program senjata nuklir Trump senilai 1,2 triliun dolar. Ini juga bisa berdampak pada pergerakan saham Aerospace and Defense (A & D), yang mengalami bonanza pasar pada tahun 2018.

Keduanya juga membahas mengenai pencabutan sanksi terhadap Korea Utara, Ukraina dan krisis di Venezuela.

Inisiatif komunikasi telepon antara Trump dan Putin diambil tanpa konsultasi sebelumnya dengan John Bolton dan Mike Pompeo, yang secara sistematis menolak adanya dialog normal dan pertukaran diplomatik dengan Moskow.

Persoalan yang muncul adalah, apakah komunikasi telepon kedua pemimpin negara adidaya tersebut ini bagian dari pertempuran internal yang sedang berlangsung antara Trump dan penasihat keamanan nasionalnya, belum lagi Wakil Presiden Mike Pence? Kalau demikian adanya, maka bisa dipastikan telah terjadi krisi politik dimestik di negara Paman Sam tersebut.

Hal ini bisa dimaklumi mengingat tawaran Presiden Trump ke Kremlin tampak bertentangan dengan pandangan Bolton dan Pompeo yang mengancam presiden Maduro agar terguling dari kursi kepresidenan Venezuela dan selanjutnya diserahkan kepada Guaido.

Lagi-lagi, standar ganda dilakukan oleh Trump di satu sisi, dia sendiri pendunkung pemimpin oposisi Guaido. Namun di sisi lain dia juga terkesan ambigu dengan kebijakan yang dinilai tidak selaras dengan penasehat keamanan nasionalnya Bolton dan Pompeo. Hal ini tampak pada sikap melunaknya terhadap Putin yang tidak mau terlibat terlalu dalam terhadap kondisi politik di Venezuela.

Perlu dicatat bahwa dua hari sebelum percakapan telepon Trump-Putin, Pompeo mengatakan kepada Lavrov (juga dalam percakapan telepon) bahwa “Intervensi oleh Rusia dan Kuba membuat kestabilan bagi Venezuela dan untuk hubungan bilateral AS-Rusia.”

Pemandangan ini menunjukkan adanya paradoks mengingat pernyataan telepon oleh Pompeo ini dibuat pada hari yang sama (1 Mei) sebagai “kudeta militer” yang gagal di Caracas.

Akankah dialog Trump dengan Putin berpengaruh pada ancaman Bolton-Pompeo yang ditujukan terhadap pemerintah Maduro? Apakah seruan Trump kepada Putin (3 Mei) dimaksudkan untuk mengesampingkan ancaman terbuka Pompeo (1 Mei) untuk campur tangan secara militer di Venezuela?

Lavrov dan Pompeo dijadwalkan bertemu awal pekan ini di Finlandia. Akankah Pompeo, mantan perwira angkatan darat, Kristen evangelikal dan untuk sementara waktu mantan direktur CIA mengubah pola dan pendekatannya setelah percakapan telepon Trump dengan Putin? Sepertinya tidak. Justru Mike Pompeo telah berkontribusi pada berbagai kesalahan kebijakan luar negeri sejak pengangkatannya oleh Trump pertama sebagai direktur CIA pada Januari 2017 dan kemudian sebagai Menlu AS.

Anggapan media arus utama dengan sedikit mengejek menyatakan bahwa Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat seharusnya mencari lampu hijau dari Bolton-Pompeo. Faktanya adalah bahwa kedua arsitek keamanan nasional ini sengaja terlibat dalam menyabotase hubungan AS dengan sejumlah besar negara.

Percakapan telepon dengan Putin, yang oleh Trump kemudian digambarkan sebagai “sangat positif,” tampaknya menjadi contoh lain dari sikap ambigu Trump yang sejatinya bertentangan dari kebijakan pemerintahannya sendiri. Sebagaimana dilaporkan bahwa penasihat keamanan nasional Gedung Putih, John Bolton dan Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo mengatakan bahwa Kremlin membujuk Maduro untuk meninggalkan Venezuela setelah pemimpin oposisi yang didukung AS Juan Guaido berusaha untuk mengakhiri rezimnya pada hari Selasa dengan menyerukan pemberontakan militer.

Dai gambaran di atas, tampak jelas bagaiamana Pompeo dan Bolton menjadi hambatan untuk menormalkan hubungan diplomatik AS dengan Rusia. Keduanya menampilkan dirinya sebagai pribadi yang berbahaya, psikopat, terlebih dalam pemahaman tentang geopolitik global, yang juga berpengaruh dalam hal sanksi dan intervensi militer. Mereka juga salah informasi sehubungan dengan konsekuensi dari penggunaan senjata nuklir, yang mereka anggap sebagai bom perdamaian.

Contoh konkrit dari terpak terjang Bolton dan Pompeo dapat dilihat dari peran pentingnya untuk melakukan sabotase terhadap KTT AS-Korea Utara di Hanoi baru-baru ini.

Facebook Comments