Pasca Berakhirnya Perjanjian Senjata Nuklir INF, AS Semakin Intensif Menempatkan dan Mengembangkan Rudal-Rudal Bermuatan Senjata Nuklir di Asia Pasifik

Bagikan artikel ini

Dalam seminar terbatas mengantisipasi peningkatan perlombaan senjata nuklir di kawasan Asia Tenggara 30 April lalu, pakar hubungan internasional Universitas Indonesia Dr Kusnanto Anggoro memprediksi bahwa sejak pasca berakhirnya Perjanjian Senjata Nuklir Jangka Menengah (INF),  perlombaan rudal di Asia Timur akan semakin meningkat, yang mana baik Cina maupun Korea Utara sama-sama berkeinginan untuk berada pada posisi yang menguntungkan dalam berhadapan dengan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Apalagi pusat kemajuan teknologi rudal saat ini sudah berada di luar kerangka kesepakatan INF baik dalam skala perluasan jenis senjata nuklirnya maupun negara-negara pemilik senjata nuklir. Sebab saat ini negara-negara pemilik senjata nuklir tidak sebatas Amerika Serikat, Rusia dan Cina saja. Melainkan juga Perancis, Jerman, Turki, India, Pakistan, Korea Utara, Iran dan Israel.

Catatan lain yang mengemuka dalam diskusi yang cukup menarik tersebut, beberapa narasumber menggarisbawahi bahwa kemampuan persenjataan nuklir di Asia Pasifik saat ini terkonsentrasi di Cina, Korea Utara, Jepang, Taiwan, dan Australia.

Kecuali Korea Utara yang merupakan sekutu Cina, Taiwan Jepang dan Australia tergabung dalam persekutuan strategis dengan Amerika Serikat.

Selain daripada itu, Dr Kusnanto juga memprediksi bahwa dalam konstalasi dan latarbelakang situasi global yang mana persaingan global semakin menajam antara AS versus Cina di Asia Pasifik, maka tanpa terikat lagi oleh Perjanjian INF, Amerika Serikat dapat mengembangkan dan menempatkan rudal di Asia Pasifik, terutama di beberapa negara sekutunya seperti Jepang,Korea Selatan, Taiwan. Dengan demikian, bisa dipastikan Cina akan melakukan respons yang lebih agresif, yang selama ini cenderung menahan diri (Self Restraint). Sebatas pada DF-10. DF-21, dan DF-26.

Analisis Dr Kusnanto Anggoro nampaknya cukup jeli dan sangat beralasan, apalagi jika diperkuat dengan adanya dua laporan yang berasal dari pemerintahan Trump beberapa waktu lalu. Yang mana dalam kedua laporan tersebut menyatakan bahwa AS sedang merencanakan perang dengan Rusia dan Cina, meskipun masih jauh dari kepastian apakah negera-negara adidaya tersebut benar-benar terlibat dalam perang itu secara langsung.

Laporan tersebut juga mengungkap bagaimana AS akan meningkatkan postur pertahanannya dengan anggaran yang sangat besar sebagai persiapan perang dan tidak lagi mempedulikan biaya sosial dan manusia dari kebijakan tersebut.

Laporan pertama berjudul “Providing for the Common Defense” (November 2018). Ini adalah laporan yang disiapkan dengan tujuan menilai dokumen Strategi Pertahanan Nasional yang dirilis pada awal 2018. Laporan itu menyatakan bahwa perubahan di dalam dan luar negeri berdampak pada menurunnya pundi-pundi keuntungan militer AS dan bisa memberikan ancaman bagi “kepentingan vital AS.”

Muara dari laporan ini jelas, bahwa untuk menghadapi Rusia dan Cina sebagai musuh utama AS, maka pemerintahan Trump akan meningkatkan anggaran militernya.

Laporan kedua dikeluarkan oleh Kantor Akuntabilitas Pemerintah Amerika Serikat (GAO) berjudul: National Security: Long Range Emerging Threats Facing the United States as Identified by Federal Agencies (December 2018.)

Laporan kedua ini tidak lebih banyak diliput dari pada laporan yang pertama. Alasan yang mungkin atas sikap diamnya media arus utama ini adalah karena laporan GAO sebenarnya merinci di mana Amerika Serikat tertinggal dalam kemampuan militer dari dua saingan utamanya, yaitu Rusia dan China.

AS nampaknya punya alasan kuat untuk khawatir dengan meningkatnya kekuatan militer Rusia dan Cina belakangan ini. Andrei Martyanov dalam bukunya Losing Military Supremacy (2018) memberikan analisis terperinci tentang mengapa teknologi militer Rusia lebih unggul daripada Amerika Serikat di beberapa bidang penting. Apa yang dikatakan Martyanov tentang Rusia sama persis dengan perkembangan teknologi China.

Argumen Martyanov diilustrasikan secara dramatis melalui pidato Presiden Putin pada 1 Maret 2018 di Parlemen Rusia. Reaksi awal Amerika adalah mengabaikan klaim Putin. Namun kenyataannya, kompleks industri militer AS menuntut lebih banyak dana yang harus digelontorkan demi ambisi AS untuk menyaingi keunggulan persenjataan Rusia sebagaimana disinggung dalam pidato Putin.

Terkait dalam mengantisipasi ancaman Rusia dan Cina ini, AS melihat bahayanya senjata hipersonik yang sedang dikembangkan kedua negara adikuasa pesaing berat AS tersebut.  China dan Rusia tengah mengembangkan senjata hipersonik yang mana kecepatan, ketinggian, dan kemampuan manuvernya dapat mengalahkan sebagian besar sistem pertahanan rudal, dan senjata dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan serangan konvensional dan nuklir jarak jauh. Dan AS nampaknya menyadari bahwa saat ini belum punya sistem penangkalnya.

Begitu dengan manuver militer AS dalam mengembangkan dan menempatkan rudal di Asia Pasifik, terutama di beberapa negara sekutunya seperti Jepang,Korea Selatan, Taiwan.

Nampaknya hal itu dipicu oleh kekhawatiran AS dengan semakin berkembangnya  teknologi rudal Cina dan Korea Utara yang dikhawatirkan AS dapat menyerang Amerika Serikat dengan cara-cara baru dan mampu menembus sistem pertahanan anti rudal AS, termasuk ICBM konvensional dan nuklir, rudal serangan darat yang diluncurkan dari laut, dan rudal berbasis ruang yang dapat mengorbit di bumi.

Singkat cerita, beberapa review para pakar strategi-keamanan maupun beberapa review yang dirilis Pentagon memang telah menetapkan Cina sebagai musuh utama AS di Asia Pasifik.

Kalau tadi Kusnanto memprediksi AS akan semakin gencar menempatkan rudal-rudalnya di beberapa negara sekutunya di Asia Pasifik seperti Taiwan, Jepang dan Korea Selatan, maka besar kemungkinan dalam menghadapi dan mengimbangi kekuatan militer Cina yang semakin agresif, AS akan menempatkan peluru kendali nuklirnya di negara-negara kawasan Asia Pasifik maupun kawasan-kawasan lainnya.

Maka dalam konstelasi dan latarbelakang global seperti itu, penempatan sistem pertahanan anti rudal Terminal Altitude Area Defense (THAAD) di Korea Selatan, sejatinya bukan untuk menghadapi ancaman dari Korea Utara. Melainkan Cina, yang sudah ditetapkan sebagai musuh AS berdasarkan ABM Pentagon Review maupun A New Pentagon Report. Dalam A New Pentaton Report bahkan sempat ditekannya dengan kalimat “Raises concerns about Chinas’s Growing Military Might. (Silahkan baca: https://time.com ).

Sumber lain juga memperkuat indikasi kuat bahwa AS memang telah menetapkan China sebagai musuh utamanya. Misalnya saja artikel yang ditulis McCoy A yang bertajuk “Is A Modern Chinese Navy a Threat to the United States? (baca The Nation April 2018, https://www.thenationa.com  )

Menyadari konstalasi global yang semakin krusial tersebut, maka perlu dicermati dan diwaspadai kemungkinan AS semakin meningkatkan dan menggembangkan Sisitem Rudal Antarbenua (Intercontinental Ballistic Missiles/ICBM).

Yang mana Sistem pertahanan anti rudal THAAD merupakan salah satu jenis turunannya. Dan bermuaran senjata nuklir. Bukan saja sebatas di Korea Selatan seperti sudah berlangsung. Namun juga di beberapa negara sekutu AS di Asia Pasifik seperti Jepang, Taiwan dan Australia.

Maka dari itu, adanya pangkalan-pangkalan militer AS di Semenanjung Korea maupun Pasifik Selatan, maupun pangkalan-pangkalan militer Cina yang ada di Laut Cina Selatan, nampaknya harus menjadi sorotan khusus para pemangku kepentingan kebijakan luar negeri dan pertahanan Indonesia.

 Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute.

 

 

Facebook Comments