Pasca Perjanjian INF: Perlombaan Senjata Nuklir Tidak Sebatas di Asia, Juga Meluas ke Timur-Tengah dan Teluk Persia

Bagikan artikel ini

Seminar Global Future Institute tentang potensi meningkatnya perlombaan senjata nuklir di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur, semakin terkonfirmasi dengan prediksi yang disampaikan Dr Kusnanto Anggoro, pakar hubungan internasional dan strategi-keamanan, Universitas Indonesia.

Dalam paparannya Kusnanto mengatakan, Kusnanto mengatakan, pusat kemajuan teknologi rudal saat ini sudah meluas di luar kerangka INF. Sehingga  tidak sebatas Amerika Serikat dan Rusia saja.Melainkan juga Perancis, Jerman, dan Turki. Bahkan beberapa negara Asia pun juga sudah punya senata nuklir seperti  India, Pakistan, Korea Utara. Sedangkan di kawasan Timur Tengah dan Persia adalah Israel dan Iran.

Kedua, pada era pasca perjanjian INF, perlombaan rudal di Asia Timur akan semakin meningkat, yang mana baik Cina maupun Korea Utara sama-sama berkeinginan untuk berada pada posisi yang menguntungkan dalam berhadapan dengan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Kusnanto juga mengingatkan bahwa Cina dan Korea Utara saat ini memiliki kapasitas rudal dan nuklir yang tidak bisa dipandang remeh. Apalagi kemampuan nuklir di Asia Pasifik saat ini terkonsentrasi di Cina, Korea Utara, Jepang, Taiwan, dan Australia.

Ketiga, dalam konstalasi dan latarbelakang situasi global yang seperti tergambar tadi, maka tanpa terikat lagi oleh Perjanjian INF, Amerika Serikat dapat mengembangkan dan menempatkan rudal di beberapa negara sekutu AS di Asia Pasifik (Jepang,Korea Selatan, Taiwan). Dengan demikian, dengan demikkian bisa dipastikan Cina akan melakukan respons militer secara  lebih agresif, yang selama ini cenderung menahan diri (Self Restraint). Sebatas pada DF-10. DF-21, dan DF-26.

Perkembangan terkini yang terjadi terkait hubungan AS-Iran yang semakin meruncing pada pemerintahan Presiden Donald Trump, nampaknya juga perlu dicermati secara lebih intensif. Khususnya setelah Iran beberapa waktu lalu telah mencanangkan untuk mengaktifkan kembali program persenjataan nuklirnya.

Selain itu, seperti juga dengan manuver militer AS di Laut Cina Selatan dalam menghadapi kehadiran militer Cina, di Timur-Tengah pun AS telah mengerahkan pewawat tempur pengebom B-52, menyusul peningkatan ketegangan AS-Iran. Selain dari itu, seperti berita yang dilansir harian Kompas pada Kamis16 Mei 2019 lalu, Gedung Putih memerintahkan gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dan pesawat tempur pengebom B-52 ke wilayah Teluk Persia pada 4 Mei 2019 lalu.

Foto yang dirilis Angkatan Udara AS pada Minggu 12 Mei lalu, menunjukkan sebuah pesawat pengebom B-52H Stratofortress yang ditugaskan pada Skuadron Bom Ekspedisi ke-20, terlihat berada di lokasi yang dirahasiakan di Asia Barat Daya.

Kedua jenis pesawat tempur pengebom B-52 dan B-52H merupakan pesawat tempur yang bermuatan senjata nuklir. Dengan demikian, perkembangan terkini yang ditandai semakin intensifnya tentara AS mengerahkan peralatan-peralatan militernya yang bermuatan nuklir, mengindikasikan semakin menguatnya perlombaan pengerahan senjata nuklir bukan saja di Asia Tenggara dan Asia Timur. Melainkan juga telah meluas di Timur-Tengah dan Teluk Persia.

Salah satunya, yang terang-terangan akan mengaktifkan persenjataan nuklirnya adalah Iran. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei, menegaskan Iran siap melanjutkan program persenjataan nuklirnya. Ia menekankan pentingnya menembus aras 20 persen dalam proses pengayaan uranium. Bahkan, para pejabat Iran mengkaliam mampu mencapai aras itu dalam empat hari. Mengerikan bukan?

Apalagi para ilmuwan Iran menyebut waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pengayaan 90 persen akan lebih pendek dibandingkan untuk mencapai aras 20 persen.

Meskipun Iran dengan AS semasa pemerintaha Barrack Obama telah menandatangani perjanjian nuklir (JCPOA) pada 2015, Iran memang tetap mempertahankan fasilitas pengayaan uranium. Hanya saja, aras tertingginya hanya 3,67 persen atau jauh di bawah ang dibutuhkan untuk membuat bom nuklir.

Namun setelah Presiden Donald Trump memutuskan untuk keluar dari perjanian JCPOA, Iran justru mendapatkan kembali momentumnya untuk mengaktifkan program senjata nuklirnya pada skala yang lebih besar dibandingkan ketika Obama berhasil mengikat Iran melalui perjanian JCPOA.

Dengan demikian, konstelasi global di era pasca perjanjian INF, eskalasi meningkatnya perlombaan senjata nuklir maupun rudal-rudal bermuatan senjata nuklir seperti rudal balistik antarbenuar (ICBM), bukan saja akan terjadi di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Melainkan akan meluas ke Timur-Tengah dan Teluk Persia.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute.

 

Facebook Comments