Pembatalan Sepihak Traktat INF AS-Rusia, Perlombaan Persenjataan Nuklir Marak Kembali

Bagikan artikel ini

Korporasi-korporasi AS yang bergerak di bidang manufaktur persenjataan dan Komplek Industri Militer, berhasil mendorong Presiden Donald Trump menarik diri dari keikutsertaannya dalam Intermediate Range Nuclear Forces-INF) yang disepakati AS-Rusia di era Perang Dingin pada 1987. Seperti halnya era George W Bush (2000-2008), para korporat bidang industri senjata mengendalikan arah kebijakan luar negeri AS.   

Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk membatalkan kesepakatan senjata nuklir jangka menengah atau Intermediate Range Nuclear Forces (INF Treaty) pada Oktoer 2018, nampaknya benar-benar dia laksanakan pada 1 Februari lalu. INF ditandatangani oleh Presiden Ronald Reagan dan Michael Gorbachev pada 1987.

Melalui INF Treaty tersebut, AS dan Rusia sepakat melarang seluruh rudal dan roket baik nuklir maupun non-nuklir, baik dengan jarak tempuh pendek maupun menegah. Dengan pengecualian yang tidak masuk dalam traktat ini, senjata yang diluncurkan dari laut.

Pada periode 1988-1991, AS dan Rusia sepakat untuk menghancurkan sekitar 2700 roket, dan kedua negara sepakat untuk saling mengawasi terhadap instalasi rudal masing-masing negara.

Namun pada 2002, di era George W Bush, AS secara sepihak mengundurkan dari dari kesepakatan Traktat Anti-Rudal Balistik. Sehingga Presiden Rusia Vladimir Putin menganggap Traktat INF kehilangan relevansinya.

Maka bisa dimengerti ketika Trump membatalkan keikutsertaannya terhadap Traktat INF, dengan tak ayal pada 2 Februari lalu, juga membatalkan komitmennya pada INF.

Padahal INF yang sejalan dengan Non-Proliferation Treaty (NPT), selain ditujukan untuk mengurangi secara substantial penyebaran hulu nuklir yang dimiliki AS dan Rusia, pada saat yang sama juga ditujukan untuk menciptakan perdamaian abadi di benua Eropa. Sehingga AS tidak menyebarkan persenjataan nuklirnya di Eropa yang ditujukan ke Rusia. Begitu pula Rusia tidak menyebarkan sistem pertahanan anti rudalnya di Eropa.

Maka, kalau kita telisik kesejarahannya, yang pertama kali memprakarsai diadakannya Traktat INF berasal dari negara-negara di Eropa. Yang khawatir jangan-jangan Eropa jadi tumbal perang nuklir AS versus Rusia pada era Perang Dingin. Ibarat dua gajah bertarung, landak mati di tengah.

Maka tak heran jika pada era Perang Dingin itu, dikenal adanya doktrin Mutually Assured Destruction (MAD), yang mana salah satu negara adikuasa tersebut dibenarkan untuk membalas serangan pertama yang dilancarkan oleh negara adikuasa pesaingnya.

Tentu saja meskipun ada INF maupun perjanjian senjata nuklir terkait rudal dan roket dengan jarak tempuh jauh (Strategic Arms Limitation Talks/Treaty-SALT), tetap saja masyarakat di kawasan Eropa dikecam ketakutan meletusnya perang nuklir yang disulut oleh kedua negara adikuasa tersebut.

Dan adanya Traktat INF, dimaksudkan sebagai langkah konkret mencegah kedua negara untuk meluncurkan persenjataan nuklirnya yang berakibat hancurnya kedua negara adikuasa tersebut, tapi juga membawa efek mematikan bagi negara-negara di benua Eropa.

Untuk aspek teknis lebih rinci dari seluk-beluk senjata nuklir terkait Traktat INF. Baca:

One Step Closer to Nuclear Oblivion: US Sabotages the INF Treaty

Dan sekarang, menyusul keputusan sepihak AS untuk membatalkan Traktat INF, bukan saja Eropa, tapi seluruh dunia dalam bahaya. Sayangnya, sebagaimana berita yang dirilis oleh situs https://www.strategic-culture.org/news/2019/02/06/one-step-closer-nuclear-oblivion-us-sabotages-inf-treaty.html ternyata kalangan Pentagon maupun Gedung Putih, maupun para CEO beberapa perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur persenjataan, bersorak-sorai dengan keputusan Presiden Trump menarik dari dari keikutsertaannya dalam Traktat INF.

Rupanya keputusan Trump tersebut mereka pandang sebagai keberhasilan lobi politik mewakili kepentingan kalangan pebisnis dan pejabat pemerintahan Gedung Putih yang mewakili kepentingan bisnis The Military Industrial Complex. Memuji langkah kebijakan Trump seraya mengecam Rusia sebagai pihak yang melanggar kesepkatan INF.

Namun, manuver Trump tersebut justru menyingkap tabir di balik keputusan tersebut, yaitu untuk menghadapi postur pertahanan Cina yang semakin agresif dan tidak terikat dengan Traktat INF. Dengan demikian, motif geopolitik Trump dan klan politik garis kerasnya seperti  Penasehat Dewan Keamanan Nasional John Bolton, tersingkap sudah.

Sebagaimana terangkum melalui liputan media arus utama di AS seperti MSNBC, CNN dan Fox News, nampaknya mengembangkan wacana bahwa Traktat INF pada kenyataannya justru memasung AS untuk membendung Cina di kawasan Asia Pasifik.

Kalau kita membaca jalan berpikir Trump maupun para klan politik berhaluan neo-koservatif menyusul pembatalan sepihak INF, nampaknya semua kesepakatan yang dibuat pemerintahan sebelumnya, terutama terkait perjanjian pertahanan baik dengan sesama negara adikuasa maupun dengan negara yang dipandang sebagai ancaman seperti Iran, dinilai sebagai konsesi yang merugikan kepentingan strategis AS. Sehingga dianggap sebagai pertanda kelemahan di pihak Amerika.

Maka itu, para jenderal di Pentagon begitu Trump berkuasa, meerilis National Defense Posture, menegaskan kembalinya situasi seperti di era Perang Dingin, dan menegaskan pula bahwa Rusia dan Cina sebagai musuh utama Amerika.

Padahal di balik dalih kembalinya situasi Perang Dingin seperti era 1950-an, hanya untuk meningkatkan postur pertahanan AS secara lebih agresif. Hal ini semakin memperkuat sinyalemen sebelumya, bahwa kebijakan luar negeri Trump dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan bisnis yang terkait dengan the Military Industrial Complex, Kompleks Industri Militer.

Sehingga histeria anti Rusia semakin digembar-gemborkan kepada publik Amerika sebagai pembenaran bagi Gedung Putih dan Pentagon meningkatkan pengadaan senjata-senjata strategis, yang berarti memberi keuntungan bisnis bagi perusahaan-perusahaan manufaktur senjata.

Nampaknya Trump punya kesamaan dengan ulah George W Bush pada 2002, ketika mambatalkan secara sepihak the Anti-Ballistic Missile Treaty (ABM Treaty), dengan dalih bahwa Traktat ABM telah memasung AS membendung ancaman militer yang Bush mengistilahkannya sebagai the Axis Evils (Korea Utara, Iran dan Irak).

Padahal agenda tersembunyi Bush kala itu untuk mengerahkan the Aegis System atau Sistem Pertahanan anti rudal baik yang diluncurkan dari darat (land based) maupun yang dari laut (sea based) di beberapa lokasi strategis yang masuk dalam wilayah kedaulatan Rusia. Sehingga mampu menghancurkan kemampuan Rusia dalam menangkal serangan nuklir AS, dan tidak mampu melancarkan serangan balasan terhadap serangan nuklir AS.

Romania maupun Polandia, nampaknya jadi basis AS untuk memasang senjata corak aegis system tersebut sejak 2002. Maka itu tidak heran jika kedua negara dari kawasan Eropa Timur dan eks sekutu Rusia pada era Perang Dingin, justru menyambut gembira keputusan Trump menarik diri dari Traktat INF.

Alhasil, dengan batalnya Traktat INF, bukan saja Eropa yang cemas, melainkan juga dunia internasional. Sebab tidak ada aturan main yang mengikat untuk mencegah meningkatnya kembali perlombaan persenjataan nuklir.

Padahal, desain besar di balik pembatalan sepihak Traktat INF oleh AS, adalah para pengusaha yang bergerak di bidang manufaktur persenjataan maupun Kompleks Industri Militer.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments