Pembelajaran dari Pertarungan Khabib Vs Mc Gregor: The Power of Sentimen itu Raksasa Tidur

Bagikan artikel ini

M. Arief Pranoto, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Hari ini, di media sosial (medsos) kembali gaduh membahas pertarungan Khabib Versus McGregor yang ditayang oleh TV One (7/10) kemarin. Pemicunya adalah tindakan Khabib di luar ring. Setelah mangalahkan McGregor, ia justru meloncat keluar —tanpa rasa takut— menyerang rombongan official Gregor, sendirian. Heboh! Ada yang bilang jempol, ada yang teriak sebaliknya, norak, amoral, tidak ada etika, tak beradab perilaku Khabib – kata banyak orang-orang. Publik medsos pun gaduh berdebat, saling bully, saling ejek dll membela jagoan masing-masing. Kali ini, saya tidak membahas etika dan aturan main dalam pertandingan Mixed Matrial Arts (MMA), tetapi saya mencoba mengkaji dari perspektif lain.

Narasi yang ingin disampaikan disini adalah, itulah kekuatan sebuah (power) sentimen terutama sentimen agama. Tatkala ia disentuh maka seketika bisa berubah menjadi kekuatan super dahsyat. Layaknya banteng terluka atau ibarat tumpukan jerami kering dipercik. Api akan berkobar sulit dipadamkan. Hal inilah yang berlangsung dalam duel antara Khabib Versus Gregor. Tanpa disadari, ada nyala api membakar sentimen pada diri Khabib yang menjadi amunisi semangat dan fighting spirit super dahsyat di satu sisi, namun official Gregor menanggapi sebatas hiburan belaka di sisi lain. Dianggapnya cuma sekedar bunga-bunga sebelum pertarungan.

Ya biasanya kubu Gregor memang selalu memancing kemarahan pihak lawan melalui isu rasial, personal attack, dst. Itu memang bagian dari strategi pemenangan, sebab jika musuh marah selain hal itu menguras energi lawan, juga pihak lawan cenderung kurang waspada. Gilirannya akan mudah dikalahkan.

Tetapi kali ini, kubu Gregor salah melempar isu pancingan. Memang perihal personal attack, seperti biasanya, namun yang jadikan amunisi ke Khabib masalah sentimen agama, cacian terhadap orang tuanya, dst. Inilah penyebab kekalahan Gregor karena yang dihadapi bukan Khabib selaku individu, power sentimen telah melebur dalam dirinya, maka layaknya banteng terluka, Khabib bertarung laksana api yang tak kunjung padam.

Membahas sentimen, tidak dapat dipungkiri bahwa di kalangan kaum muslim, terutama muslim Indonesia, hidup dan berkembang apa yang disebut “sentimen”. Entah sentimen kedaerahan/pribumi, sentimen terhadap figur, dan khususnya sentimen agama. Tampaknya di Rusia, negerinya Khabib, hidup pula power sentimen ini. Kenapa demikian, sebab di Dunia Barat pada umumnya dan Amerika Serikat (AS) khususnya, selain tidak berkembang sentimen pribumi karena ia negara imigran, suku aslinya¬† orang Indian, juga di sana tidak hidup dan tak ada sentimen agama sebab negaranya sekuler. Agama hanya di ranah privat, tak boleh masuk di ruang publik. Nah, peradaban Barat memang cenderung sekulerisme. Kondisi inilah yang tak terbaca oleh kubu Gregor. Mereka abai.

Massa aksi menentang penistaan agama yang dilakukan Ahok / merdeka.com

Kembali ke Indonesia, seandainya dahulu Ahok tidak kepleset soal Al Maidah 51, barangkali ia tidak akan dipenjara dan mungkin menjadi Gubernur DKI Jakarta karena saat itu didukung oleh banyak media mainstream, kekuasaan, buzzer militan, bahkan dana tidak terbatas selaku “dewa” dalam demokrasi bermodel one man one vote. Seandainya Ahok tidak keselip lidah, mungkin tidak ada unjuk rasa 411 dan 212 berjilid-jilid. Tetapi, akibat pelecehannya terhadap Al Maidah, power sentimen bangsa yang selama ini tertidur lelap pun akhirnya menggeliat, bangun, serta menjadi saksi atas tumbangnya sebuah kekuasaan.

Agaknya think tank di belakang Ahok lupa dan lalai sejarah bangsa bahwa pemenang Perang Dunia ke-2 pun, karena faktor sentimen yang diramu menjadi semangat bertempur, pihak sekutu akhirnya kalah dan harus mundur dari medan pertempuran 10 Nopember 1945 tempo doeloe. Padahal secara teori, bila kalah dalam hal jumlah pasukan dan kalah canggih mesin perang, maka identik kalah perang. Tampaknya momentum 10 Nopember 1945 di Surabaya membalik semua teori perang modern, karena faktor the power of sentimen.

Maka jangan sekali-sekali menyulut power sentimen. Karena jika terpercik api akan sulit dipadamkan. Dan di Indonesia, ia seperti raksasa yang sedang tidur.

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com