Pemerkosaan Nanking: Mengapa Amerika Serikat dan Jepang Bersekongkol Menutupi Sejarah Hitam Tentara Jepang?

Bagikan artikel ini

Mereka yang tidak dapat mengingat masa lalunya akan cenderung mengulanginya.

(George Santayana). 

Simple Wikipedia

Indikasi bakal bangkitnya kembali militerisme Jepang di tengah persaingan global antara Amerika Serikat versus Republik Rakyat Cina yang kian memanas di Asia Pasifik, menyingkap kembali kejahatan perang tentara Jepang pada Perang Dunia II merupakan suatu keharusan.

Salah satunya, pembantaian warga sipil dan pemerkosan perempuan Cina di Nanking. Irish Chang, seorang jurnalis Amerika asal Cina, menulis buku yang sarat dokumen sejarah ihwal kejahatan perang tentara Jepang. Bertajuk The Rape of Nanking, the Forgotten Holocaust of World War II.

Pada 13 Desember 1937, Nanking yang ketika itu merupakan ibukota Cina Nasionalis, jatuh ke tangan bala tentara Jepang, dalam suatu invasi besar-besaran untuk menganeksasi Cina. Yang memilukan bangsa Cina dan juga negara-negara lain di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pembantian warga sipil dan pemerkosaan perempuan Cina masih tetap ditutup-tutupi fakta-fakta sejarahnya oleh dunia internasional.

Bukan saja oleh pemerintah Jepang itu sendiri, melainkan juga pemerintah Amerika Serikat yang sejak pasca Perang Dunia II, justru menjalin persekutuan strategis dengan pemerintah Jepang sebagai bekas musuhnya di era Perang Dingin sejak 1949-1950. Untuk  menghadapi Uni Soviet (Rusia) yang notabene merupakan sekutu AS semasa Perang Dunia II untuk menghadapi persekutuan Jerman, Italia dan Jepang.

Padahal kejahatan perang dan kekejian tentara Jepang di Nanking betul-betula tiada tara bandingannya. Sebagaimana terdokumentasi dalam buku yang ditulis  Irish Chang, ketika Nanking jatuh ke tangan Jepang, ibukota Cina nasionalis  itu berubah jadi neraka.  300.000 warga sipil Cina secara sistematik dan brutal: disiksa, diperkosa dan dibunuh. Tanpa pandang bulu, pria maupun wanita, dan anak-anak.

Menurut Irish Chang, International Military Tribunal of the Far East), memperkirakan sebanyak 260.000 orang bukan tentara tewas di Naking oleh kebrutalan serdadu Jepang antara 1937 akhir hingga awal 1938. Bahkan ada estimasi lebih dari 350.000 orang nontentara tewas di tangan tentara Jepang.  Fakta sejarah ini dengan sengaja ditutup-tutupi dan disangkal oleh Pemerintah Jepang. Baik kepada rakyat Jepang sendiri maupun kepada publik internasional.

Irish Chang bukan satu-satunya sumber referensi ihwal kebrutalan tentara Jepang di Nanking, Cina. Catherine Rosair, menulis untuk kantor berita Reuters pada 15 Oktober 1992, bertajuk For One Veteran, Emperor Vist Should be Atonement, memperkirakan antara 20.000 hingga 80.000 wanita Cina diperkosa. Hal diperkuat oleh seorang sejarawan Cina Li En-han, memperkirakan 80.000 wanita diperkosa dan dimutilasi.

Data-data yang dilansir beberapa penulis tersebut di atas, terlepas perbedaan jumlah korban secara kuantitatif, namun tiada keraguan sedikitpun betapa ini merupakan puncak kebiadaban dan kebrutalan tentara Jepang dalam menduduki negara-negara taklukkannya di Asia Timur, maupun Asia Tenggara.

Mari kita kilas balik sejarah invasi Jepang ke Nanking.  Pada November 1937, Jepang berhasil menginvasi Shanghai, yang kemudian melancarkan serangan besar-besaran ke ibukota Cina yang baru saja didirikan.

Ketika kota itu jatuh oada 13 Desember 1937, tentara Jepang kemudian mulai sebuah pesta kejam yang belum pernah ada bandingannya dalam sejarah dunia. Puluhan ribu pemuda dikumpulkan dan digiring ke wilayah luar kota, di mana mereka dibunuh dengan menggunakan senapan mesin, digunakan untuk latihan bayonet, atau disiram bensin dan dibakar hidup-hidup.

Bahkan seoarang sejarawan menggambarkan kengerian pembantaian tentara Jepang di Nanking dengan sebuah analogi: jika orang-orang mati di Nanking bergandengan tangan, mereka membentang dari Nanking ke kota Hangchow, dengan jarak sepanjang tiga kilometer. Bukan itu saja. Berat badan mereka mencapai seribu dua ratus ton. Dan tubuh-tubuh mati mereka akan mengisi dua ribu lima ratus gerbong kereta api. Kalau disusun bertumpuk, mayat-mayat ini akan mencapai gedung berlantai tujuh puluh empat.

Maka dengan mengacu pada jumlah korban yang tewas, pemerkosaan Nanking melebihi tindakan barbar paling buruk sedunia. Bahkan kekejaman Jepang melebihi tindakan Romawi di Cartago yang telah menewaskan 150 ribu jiwa dalam pembantaian warga sipil, maupun pembantaian angkatan bersenjata Kristen semasa inkuisisi Spanyol. Juga mengunguli kekejasam Timur Lenk dari Mongol, ketika membunuh 100 ribu tahanan.

Bahkan jikapun dibandingkan dengan kekejasam Adolf Hitler ketika membunuh 6 juta orang Yahudi, dan Stalin membunuh 40 juta orang Rusia, namun kematian-kematian tersebut  terjadi selama bertahun-tahun. Sedangkan dalam Pemerkosaan Nanking, pembunuhan tersebut dilaksanakan hanya memakan waktu beberapa minggu.

Pembantaian Nanking

Lebih daripada itu, jika dilihat dari standar perang paling menghancurkan dalam sejarah, tetap saja pembunuhan massal tentara Jepang tetap yang paling sulit digambarkan skala perbandingannya secara data statistik. Sebab korban tewas di Nanking, yang notabene hanya satu kota di Cina, melebihi angka korban warga sipil dari negara-negara di Eropa untuk keseluruhan perang.

Inggris Raya kehilangan 61 ribu warga sipil, Prancis kehilangan 108 ribu jiwa, Belgia 101 ribu jiwa, dan Belanda 242 ribu jiwa.

Tragisnya, Amerika Serikat yang dalam Perang Dunia II merupakan musuh utama Jepang, sepertinya hingga kini seakan bersekongkol dengan pemerintah Jepang menutup-nutupi Pemerkosaan di Nanking. Irish Chang dalam penelusuran buku-buku sejarah yang diterbitkan di Amerika, menunjukkan hanya sedikut yang menyebutkan adanya Pemerkosaan di Nanking. Apalagi catatan sejarah yang lengkap dan definitive mengenai Perang Dunia II yang dibaca pubik Amerika membahas pembantaian Nanking secara mendetail.

Pertanyaan dari Irish Chang, yang kiranya juga pertanyaan kita semua, termasuk para korban kekejaman Jepang di Indonesia, mengapa tidak ada penulis atau cendekiawan Amerika yang mengembangkan materi-materi terkait kekejaman dan kebiadaban tentara Jepang di Nanking?

Mengapa dunia internasional seakan abai terhadap desakan untuk menyingkap sejarah kelam yang tiada tara kejinya itu? Pertama tentu saja karen para korban yang masih tetap hidup tetap bungkam. Kedua, tirai yang menutup kembungkaman itu adalah politik. Republik Rakyat Cina, dan bahkan Amerika Serikat, rupanya ikut andil dalam mengabaikan pentingnya untuk menyingkap sejarah kelam di Nanking itu.

Amerika yang sejak 1949 justru memulai konflik global terhadap Uni Soviet, yang justru sama-sama berhadapan dengan Jepang pada Perang Dunia II, di era Perang Dingin itu Amerika justru ingin mengamankan persekutuan dan persahabatannya dengan Jepang pasca Perang Dunia II.

Ketegangan Perang Dingin yang membawa AS dan Jepang bersekutu bersama-sama menghadapi Soviet dan Republik Rakyat Cina, maka kekejaman dan kejahatan perang Jepang justru terbebas dari tanggungjawab hukum.

Di dalam negeri Jepang itu sendiri, diskusi dan bahasan terkait Pemerkosaan di Nanking oleh kalangan pakar dan cendekiawan, dicegah jangan sampai jadi diskursus publik. Bahkan karir akademik para ilmuwan dan cendekiawan perguruan tinggi pun bisa-bisa terancam. Alhasil, bahaya yang mudah menyebar ini mematikan semangat kalangan cendekiawan Jepang untuk melakukan penelitian sejarah mengenai peristiwa ini.

Pembantaian Nanking

Hal sama juga dialami para cendekiawan dan sejarawan Cina betapa sulitnya  untuk mengakses informasi-informasi terkait pembantaian Nanking. Begitu ketatnya tekanan pemerintah Jepang, sehingga para sejarawan sulit mengakses sumber-sumber kearsipan Jepang mengenai Pemerkosaan Nanking.

Para veteran Jepang yang terlibat dalam peristiwa Pemerkosaan Nanking, juga tidak bersedia diwawancarai mengenai pengalaman-pengalaman mereka. Karena mengalami tekanan dan ancaman kematian jika berani memublikasikan cerita-cerita mereka.

Peringatan Pembantaian Nanjing, Kisah Pilu Budak Seks JepangPuluhan perempuan China dan Malaysia dibawa dari Penang untuk dijadikan ‘wanita penghibur’ tentara Jepang. (Wikimedia/United Kingdom Government)

Yang lebih menyedihkan lagi, para guru maupun sejarawan Jepang secara sistematis melenyapkan referensi-referensi mengenai pembantaian Nanking dari museum, mengubah materi sumber asli, dan tidak pernah menyebutkan pembantaian ini berasal dari budaya negaranya yang terkenal itu.

Bahkan menurut kesaksian Irish Chang, para profesor terhormat Jepang malah bergabung dengan pasukan sayap kanan untuk melakukan apa yang mereka rasa sebagai tugas nasional mereka; mendeskreditkan laporan-laporan tentang pembantaian Nanking. Dengan kata lain, semua itu hanya ilusi dan karangan belaka.

Menghadapi usaha-usaha dengan sengaja dan sistematis dari kalangan orang-orang Jepang sendiri untuk membengkokkan sejarah itulah, yang kemudian mendorong Irish Chang menulis buku tersebut di atas. Mengungkap pembantaian warga sipil terbesar dalam sejarah dunia.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute

Facebook Comments