Penyesatan Informasi Beberapa Media Arus Utama Barat Terhadap Suriah dan Bashar al Assad

Bagikan artikel ini

April tahun lalu, tantara Amerika Serikat Bersama-sama Inggris dan Prancis melancarkan serangan udara ke Douma, Suriah. Atas dasar pertimbangan yang tergesa-gesa dan ceroboh, bahwa Presiden Bashar al Assad memiliki senjata kimia di Suriah. Sehingga serangan ketiga negara yang tergabung dalam NATO ke Dauma,  dimaksudkan sebagai serangan balasan terhadap kepemilikan senjata kimia oleh Suriah.

Melalui berita yang dilansir stasiun tv BBC yang ada di Beirut, Lebanon,  korban jiwa yang terdiri dari anak-anak yang menjadi korban serangan bom, sepertinya hendak menarasikan pemberitaan bahwa para korban akibat serangan militer tersebut berasal dari senjata kimia milik tentara Suriah yang digunakan untuk memerangi tantara pemberontak yang didukung dari belakang layer oleh AS, Prancis dan Inggris.

Namun demikian, tuduhan semacam itu sampai sekarang sama sekali tidak berdasar. Dan gagal membuktikan tudingan  bahwa serangan militer menggunakan senjata kimia tersebut merupakan ulah dari Presiden Assad.  Sebaliknya, serangkaian serangan-serangan yang dilancarkan para milisi pemberontak justru hendak membangun kesan bahwa serangan militer menggunakan senjata kimia dilakukan oleh tantara pemerintahan Assad.

Pemeberitaan media-media arus utama di Barat termasuk BBC London, yang cenderung bias/berat sebelah dan mem-framing Assad sebagai penyebab serangan senjata kimia, pada perkembangannya telah memicu ketegangan dan eskalasi konflik semakin menajam di Timur Tengah.

Padahal beberapa negara Arab siap memulihkan kembali hubungan baik dengan Suriah, termasuk siap membuka kembali kedutaan besarnya di Damaskus.

Akar soalnya sederhana, AS dan blok Barat memandang Assad tidak mau dijadikan presiden boneka negara-negara adikuasa tersebut, sehingga ditetapkan sebagai musuh yang harus disingkirkan. Celakanya, media-media arus utama di AS maupun Barat, cenderung membela kebijakan luar negeri AS-Inggris-Prancis yang memojokkan Assad dalam segala urusan.

Sehingga para redaktur dan pemegang desk luar negeri media-media arus utama di Washington, London dan Paris, bersedia dengan segala senang hati jadi corong kepentingan ketiga negara tersebut untuk melakukan penyesatan informasi. Bahkan sumber-sumber informasi yang menginformasikan adanya kepemilikan persenjataan kimia oleh pemerintahan Assad, ternyata berasal dari orang-orang Suriah yang dibina badan intelijen Inggris MI-6. Antara lain sebuah kelompok yang kerap disebut-sebut bernama  White Helmets.

Silahkan Simak Selengkapnya:

Douma Chemicals Attack: Is Western Media Bias Actually Enflaming the Syria War?

Sebaliknya terhadap para simpatisan Assad yang menentang validitas temuan beberapa sumber yang mengatakan bahwa penggunaan senjata kimia oleh tantara Suriah dalam membalas serangan militer AS, Inggris dan Prancis dan berasal dari tantara Suriah, beberapa media massa beramai-ramai melakukan karakter assassination untuk menjatuhkan kredibilitas pandangan dan opininya. Salah satunya adalah seorang aktivis asal Inggris, Vanessa Beeley.

Vanessa Beeley seperti kita ketahui, berhasil mematahkan validitas informasi beberapa sumber Barat maupun politik pemberitaan media-media arus utama Barat,  bahwa Assad bertanggungjawab terhadap kepemilikan senjata kimia Suriah.

Diolah oleh Hendrajit, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments