Perang Dagang: Saat Kebiasaan Mencuri Cina Mendapat Perlawanan Keras Amerika Serikat

Bagikan artikel ini

Bila dirimu mengundang seseorang dari luar kota ke rumahmu, kemudian barang-barang milik tamu itu malah dirimu curi dan hasil curian itu kemudian dirimu jual di wilayah orang itu berasal. Kira-kira apa pendapat umum dengan perilaku itu?

Kedua, bila suatu saat dirimu mohon untuk bertamu di rumah orang, diterima dengan baik, kemudian dirimu melihat lihat isi rumah orang dan mencuri isi rumah orang itu. Kira-kira apa pendapat umum atas perilaku itu?  Demikianlah gambaran moral pemicu utama perang dagang AS – Cina

Esensi Perang Dagang AS – Cina sebenarnya dipicu kegeraman luar biasa Presiden Trump atas perilaku Cina yang senang mencuri dan sudah dilakukan sejak tahun 1980-an, bahkan mungkin lebih lama dari itu untuk mendorong kemajuan ekonomi dan tehnologi Cina.

Dimulai dari promosi Cina jaman Deng Xiaoping tahun 1980 an, Cina mulai membuka pasar dalam negerinya kepada produk impor dan investasi asing dengan iming-iming potensi pasar dan pekerja murah dari 1,4 Milyar penduduknya.

Yang terjadi malah mulai saat itu juga terjadilah pencurian besar besaran terhadap Hak Kekayaan Intelektual (HAKI: Intelektual Property atau disingkat IP) dari produk semua negara yang berhubungan dengan Cina.

Paul Goldstein, seorang profesor di Stanford University Law School menerangkan secara historis bentuk-bentuk perampasan tertua barang-barang intelektual buatan Amerika dan asing adalah pembajakan film, rekaman, dan perangkat lunak (CD) , pemalsuan barang-barang mewah juga obat obatan farmasi.

Pencurian HAKI bukan hanya memalsukan produk akhir tetapi juga menyalin semua rahasia perusahaan asing yang berinvestasi di Cina, seperti meminta perusahaan-perusahaannya yang dikelola negara memiliki akses eksklusif ke modal perusahaan asing dan memaksa perusahaan asing untuk mentransfer teknologi mereka ke mitra lokal.

Padahal bila kita telisik lebih dalam dalam kalkulasi bisnis, pencurian IP seperti penggunaan paten, rahasia dagang, merek dagang, dan hak cipta tanpa izin itu bukanlah sekedar uang receh, tetapi uang yang sangat besar dan mewakili kemajuan ekonomi dan tehnologi suatu bangsa.

Kerugian AS atas Perilaku Pencurian Cina

Tak tanggung tanggung AS menderita kerugian yang luar biasa besar. Laporan Komisi Pencurian Hak Kekayaan Intelektual AS yang dikutip banyak media internasional mengungkapkan kerugian AS atas perilaku pencurian mencapai USD $225 Milyar hingga USD $600 Milyar per tahun untuk Hak Kekayaan Intelektual dan produk bajakan. Kerugian ini pun belum termasuk pelanggaran penuh atas patent.

Bila dalam kurs Rupiah 1 USD = Rp.14.000 berarti kira kira Rp. 3.150 T hingga Rp 8.400 T per tahun. Berlangsung hingga hari ini. (Bandingkan besarannya dengan jumlah utang Indonesia yang Rp 5000 T saja dimana Indonesia sudah kelabakan untuk bayar)

Kegeraman Trump dan pemerintah sebelumnya ini berlanjut tidak hanya itu, setelah mencuri HAKI milik AS, Cina meniru produk secara illegal , kemudian perusahaan perusahan Cina menjualnya lagi ke pasar AS dan memenuhi pasar AS dengan produk bajakannya , dan juga ke negara lain dengan harga lebih murah.

Dampaknya saat ini terjadi ketidakseimbangan perdagangan AS dan Cina yang mencapai $300 miliar per tahun, dan setiap hari barang-barang Cina yang berbiaya rendah masuk ke Amerika Serikat dengan tarif impor minimal yaitu 10 persen dari harga nilai produk

Sementara itu pada saat yang sama Cina membuat UU Hak Kekayaan Intelektual, dengan ketentuan dimana yang mendaftar pertama kali adalah yang diakui patennya. Otomatis produk produk hasil bajakan teknologi itu mendapat legitimasi dari negara, walau punya potensi melanggar ketentuan WTO.

Pengakuan model seperti ini yang memungkinkan perusahaan-perusahaan Cina untuk menuntut perusahaan-perusahaan Amerika seperti Apple, misalnya , karena pelanggaran paten meskipun produk Apple yang ditiru dan dibajak itu dirancang oleh perusahaan AS sendiri.

Perang terbuka perdagangan AS–Cina kemudian pecah setelah Trump memberlakukan tarif 25 persen untuk total barang-barang “made in China” senilai $50 miliar, dan Beijing membalasnya. Tidak gentar, Presiden AS Donald Trump sekarang malah mempertimbangkan untuk menambah lebih banyak produk Cina – setidaknya senilai $200 miliar – ke dalam daftar itu.

Ironisnya pada saat yang sama, ekspor produk AS ke Cina dihambat dengan ketentuan ketentuan kualitas dan kelegalan produk yang mengada ada.

Jenderal Keith Alexander, Kepala Badan Keamanan Nasional AS pada tahun 2012,menggambarkan pencurian kekayaan intelektual oleh Cina sebagai “transfer kekayaan terbesar dalam sejarah,” karena, katanya, Cina telah membangun seluruh industri menggunakan formula curian, rencana dan teknik yang perusahaan Barat menghabiskan bertahun-tahun dan miliaran dolar untuk berkembang.

Bagaimana cara Cina mencuri Hak Kekayaan Intelektual dan tehnologi negara lain? 

Pencurian ini bukan hanya dilakukan perorangan atau kelompok tertentu dengan berbagai cara, langsung melalui cara tradisional . Cara cara itu antara lain

1. Transfer teknologi paksa. Jika perusahaan asing yang berinvestasi di Cina menolak untuk menyerahkan rahasia teknologi, pemerintah akan sering melakukan penggerebekan polisi di kantor mereka dengan dalih menyelidiki pelanggaran hukum Cina.

2. Spionase di dalam perusahaan. Beijing merekrut orang kepada karyawan etnis Cina (warga negara setempat) untuk menjual rahasia ke Cina.

2. Spionase Cina menggunakan rakyatnya:
a. mahasiswa Cina yang belajar di AS dan negeri negeri lainnya.
b. turis dan pekerja Cina menyamar untuk mengumpulkan data disekitar lokasi target.
c. mantan tentara PLA Tiongkok.

3. Serangan dunia maya. Cina meluncurkan serangan dunia maya terhadap perusahaan untuk mencuri kekayaan intelektual. Serangan hacker Cina menjadi satu diantara ancaman yang ditakuti di dunia karena bukan hanya volumenya, namun juga target serangannya yang menyerang industri strategis sebuah negara.

Beberapa contoh kasus dari ribuan kasus yang terjadi antara lain:

1. Departemen Kehakiman mendakwa perusahaan Cina milik pemerintah, Fujian Jinhua Integrated Circuit Co., dan co-konspirator karena mencuri rahasia dagang dari perusahaan semikonduktor AS Micron Technology.

Menurut surat dakwaan itu, orang Cina berharap dapat masuk ke pasar untuk teknologi yang disebut memori akses acak dinamis, atau DRAM, yang digunakan dalam komputer elektronika.

“Tiongkok, seperti negara maju mana pun, harus memutuskan apakah ingin menjadi mitra tepercaya di panggung dunia atau apakah ingin dikenal di seluruh dunia sebagai rezim yang tidak jujur yang menjalankan ekonomi yang korup yang didasarkan pada kekuatan penipuan, pencurian, dan taktik senjata, ” Kata Jaksa Agung Jeff Sessions saat itu.

AS telah melarang Fujian Junhua mengimpor komponen-komponen AS, suatu tindakan yang mengancam akan membuat perusahaan Cina keluar dari bisnis.

2. Sebuah perusahaan Cina, Sinovel Wind Group, dihukum di pengadilan federal di Wisconsin karena mencuri teknologi – otak elektronik yang menjalankan turbin angin – dari mitranya di Amerika, AMSC, yang sebelumnya dikenal di American SuperconductorInc.

“Kami percaya bahwa lebih dari 8000 turbin angin – diperkirakan 20 persen dari seluruh turbin Cina yang sekarang berjalan menggunakan perangkat lunak yang dicuri AMSC,” demikian CEO Daniel McGahn mengatakan kepada penyelidik pemerintah AS.

“AMSC belum dikompensasi atas kerugiannya.” Kerusakan akibat pengkhianatan itu sangat parah: Saham Superkonduktor Amerika kehilangan nilai $ 1 miliar, dan perusahaan memangkas 700 pekerjaan, lebih dari setengah tenaga kerja globalnya. Itu, kata McGahn, kasus “percobaan pembunuhan korporasi.”

3. Seorang pengusaha Cina, Mo Hailong, yang tertangkap basah mencari-cari di ladang jagung Iowa dijatuhi hukuman tiga tahun penjara pada tahun 2016 karena mencuri rahasia dagang dari perusahaan jagung benih AS.

Lima tahun sebelumnya, penjaga DuPont Pioneersecurity telah menangkap Mo dan orang-orang Cina lainnya sedang menggali di ladang jagung yang berisi plot uji varietas jagung benih baru.
Tersangka lainnya melarikan diri dari Amerika Serikat sebelum ditangkap.

Jaksa penuntut mengatakan Mo telah melakukan perjalanan ke Midwest saat bekerja untuk Kings Nower Seed, anak perusahaan dari konglomerat Tiongkok Beijing Dabeinong Technology Group Co, untuk memperoleh benih jagung dan mengirimkannya ke Cina sehingga para ilmuwan dapat mencoba mereproduksi sifat genetiknya.

Pertanyaan sederhananya adalah Bisakah kita pecaya dan intens menjalin bisnis dengan negara yang terang sudah menghidupi rakyat dengan cara cara mencuri? Apakah kita bersedia mengundang pencuri ke rumah kita?

Hanya kebodohan yang bisa membenarkan kesediaan itu..

Sekian

Sumber: berbagai sumber


Adi Ketu, Pemerhati Geopolitik

 

Facebook Comments