Perang Energi di Kawasan Asia-Pasifik

Bagikan artikel ini

Indra Denni

Proxi war yang dibangun kubu Amerika Serikat, Inggris dan Perancis adalah narasi “lagu lama” isu senjata kimia, publik internasional masih mengingat peristiwa penghancuran kedaulatan Irak, Libya dan kini Suriah.

Clandestine Amerika Serikat, Inggris dan Perancis kewilayah kedaulatan negara Suriah, berawal dari lembaran proposal proyek pembangunan jaringan pipa minyak dari Qatar, yang memiliki volume panjang mencapai 1.500 kilometer melintasi Arab Saudi, Yordania, Suriah hingga Turki. Dengan nilai investasi 10 triliun dolar, dimana jalur pipa tersebut untuk menghubungkan pasar energi Eropa melalui Turki sebagai selter distribusi kewilayah Eropa.

Dan Uni Eropa berkepentingan dengan proyek pembangunan pipa Qatar-Turki tersebut, karena kebutuhan pasokan gas 30% Uni Eropa disuplay oleh Rusia.

Jaringan pipa gas Rusia untuk memenuhi kebutuhan Uni Eropa melalui Ukraina dan Belarusia. Importir terbesar gas Rusia adalah Jerman dan Italia, disusul Perancis, Hungaria, Republik Ceko, Polandia, Austria dan Slovakia. Selain Uni Eropa negara yang membutuh gas alam Rusia adalah Ukraina, Belarusia dan Turki.

Pada tahun 2010 Turki dan Rusia telah melakukan memorandum of understanding (MoU), dengan nilai investasi 10 miliar dolar untuk proyek Turkish Stream pembangunan pipa gas dikedalaman Laut Hitam dari Rusia ke Turki. Menargetkan 63 miliar kubik gas per-tahun gas alam Rusia, dialirkan melalui perbatasan Turki-Yunani untuk didistribusikan ke Eropa Selatan.

Serta penandatanganan kontrak antara Rusia dan Turki untuk proyek pembangunan pembangkit energi tenaga nuklir di Akkuyu, Provinsi Mersin, Turki. PLTN ini konon dapat menghasilkan energi mencapai 35 miliar kWh per-tahun.

Rusia memiliki ketersedian cadangan energi mencapai 87 miliar barel cadangan minyak, 1.163 triliun kaki kubik cadangan gas, dan 157 juta ton cadangan batu bara.

Rusia merupakan produsen terbesar kedua gas alam dan minyak setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Ekonomi terbesar Rusia dihasilkan dari ekspor energi dengan pendapatan minyak dan gas mencapai 52 persen seluruh pendapatan negara.

Murka Amerika Serikat dan sekutu-nya telah mengetahui pada tahun 2015 Iran, Irak dan Suriah telah melakukan kesepakatan perjanjian proyek pembangunan jalur pipa gas dari Teluk Persia menuju Laut Tengah, untuk membuka pasar energi panas bumi tersebut ke Uni Eropa.

Kepentingan geoekonomi Rusia, Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Uni Eropa di Timur Tengah khusus-nya di Suriah memiliki nilai yang strategis. Perebutan pasar energi terutama oil and gas untuk menguasai pasar di Eropa.

Mengapa Cina tidak agresif untuk terlibat dalam konflik di Suriah? Kepentingan geoekonomi Cina lebih terkonsentrasi pada proyek Jalur Sutera Modern atau One Belt One Road.

 

Proyek Ambisius Cina ini meliputi jalur darat yang memotong garis Eropa Timur berakhir di Eropa Barat, dengan jarak tempuh dari dari kota Yiwu Cina 18 hari perjalanan sampai di London, Inggris. Dan memiliki bentangan panjang mencapai 12.000 kilometer melintasi tujuh negara.

Untuk jalur maritim membelah Vietnam, Malaysia, India dan Indonesia. Dari Asia mengiris Afrika Timur melalui Kenya, Somalia tembus di Teluk Aden dan Laut Merah. Dari Afrika Timur dilanjutkan ke Afrika Utara via Terusan Suez berarkhir di negeri Pizza Italia.

Model skema dan strategi geopolitik dan geoekonomi Cina berbeda dengan Rusia dan Amerika Serikat. Lebih “shoft” halus dalam penetrasi kepentingan politik dan ekonominya.

Cover atau penyesatan kepentingan Cina untuk menguasai pasar energi dunia terlihat berhasil, Jalur Sutera Modern Xi Jinping secara virtual sebatas proyek infrastruktur darat dan laut untuk distribusi barang dan jasa semata.

Apakah para pemilik hak veto dunia tersebut sudah mengikuti style “kartel” dengan melakukan kesepakatan bersama dan pembagian peran pada waktu dinner di gedung PBB, untuk pembagian jatah kavling kepentingan ekonomi mereka di dunia?

Lalu bagaimana dengan posisi Indonesia di dalam perang energi abad 21 tersebut? Indonesia termasuk 10 besar yang memiliki cadangan gas alam terbesar di dunia. Saat ini Indonesia memiliki cadangan gas terbesar ketiga di wilayah Asia Pasifik setelah Australia dan Cina. Dan berkontribusi untuk 1,5% dari total cadangan gas dunia.

1. Amerika Serikat 767.3
2. Russia 573.3
3. Iran 192.5
4. Qatar 181.4
5. Kanada 163.5
6. China 138.0
7. Norwegia 117.2
8. Saudi Arabia 106.4
9. Algeria 83.0
10. Indonesia 75.0

Wilayah yang menjadi area produksi gas bumi Indonesia berlokasi di lepas pantai. Zona produksi gas bumi yang paling besar di antaranya adalah:

1. Arun, Aceh (Sumatra)
2. Bontang (Kalimantan Timur)
3. Tangguh (Papua)
4. Pulau Natuna

Melihat kekayaan Sumber Daya Alam yang dimiliki Indonesia khusus-nya gas alam, bersentuhan langsung dengan kepentingan geo-ekonomi Amerika Serikat, Inggris, Uni Eropa, Rusia dan Cina.

Skema dan strategi Indonesia di dalam mensiasati perang energi zona Asia-Pasifik kedepan, idealnya sudah ada blueprint atau grand design untuk melakukan antisipatif bila meletus perang energi di kawasan Asia-Pasifik.

Proxi war dan agent proxi akan bertebaran melakukan infiltrasi langsung atau-pun tidak langsung, semata untuk menguasai energi gas alam Indonesia.

“Dunia ini cukup untuk menghidupi seluruh manusia, tetapi tak akan cukup untuk satu orang yang serakah.” (Mahatma Gandhi)

Facebook Comments
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com