Perang Mata Uang AS–Cina: Gertak Kosong Cina Saat Malu Angkat Bendera Putih

Bagikan artikel ini

Perang perdagangan antara AS dan Cina memanas lagi, saat Presiden AS Donald Trump secara tiba-tiba umumkan rencana untuk mengenakan tarif 10% pada impor senilai 300 miliar dolar dari Cina yang sejauh ini belum tersentuh. Pihak berwenang Cina kemudian membiarkan mata uang mereka, renminbi, jatuh di bawah ambang simbolis CN ¥7 per dolar AS.

Pemerintahan Trump segera merespon dengan menyebut Cina sebagai “manipulator mata uang.” Ini pertama kalinya AS melakukan itu pada negara mana pun dalam 25 tahun. Benarkah pernyataan AS bahwa penurunan nilai renminbi baru-baru ini sama dengan manipulasi mata uang?

Mungkin akan lebih tepat untuk mengatakan bahwa Cina menyerah pada tekanan pasar. Sumber langsungnya tidak lain pengumuman Trump tentang tarif baru itu.

Bila mengacu teori para pakar ekonomi internasional maka teori ekonomi katakan bahwa tarif tidak meningkatkan neraca perdagangan suatu negara.

Ketika nilai tukar ditentukan pasar, secara otomatis nilainya bergerak untuk mengimbangi tarif.

Secara intuitif, jika tarif menghambat konsumen untuk membeli barang-barang impor Cina, maka permintaan untuk renminbi melemah, dan harga mata uang turun.

Apakah Cina akan terus mendevaluasi mata uangnya? sederhana jawabnya. Tidak akan. Ini gertakan kosong bilapun benar. Mengapa?

Karena devaluasi akan membawa risiko signifikan bagi Cina. Para pemimpin negara itu akan ragu untuk mengambil langkah ini.

Banyak perusahaan terbesar Cina telah meminjam dengan sejumlah besar pinjaman dalam mata uang dolar, dan renminbi yang lebih lemah akan sangat meningkatkan biaya pembayaran utang luar negeri ini.

Menurut data Bloomberg, sesaat setelah Cina mendevaluasi mata uangnya, swap default kredit lima tahun pada eksposur utang negara Cina langsung melonjak sebanyak sembilan basis poin, mencapai lebih dari 55 basis poin. Itu menandai kenaikan intraday terbesar sejak Juni 2013. Ini artinya utang Cina makin beresiko dibanding sebelumnya.

Potensi gagal bayar pengusaha akan meningkat. Dan tentu menurunkan kredibilitas Cina yang tengah mempromosikan negaranya sebagai negara berkembang yang maju dan membesar.

Lebih buruk lagi, prospek devaluasi dapat memicu pelarian modal besar-besaran dari Cina karena perusahaan dan individu yang cemas berusaha melindungi nilai aset mereka.

Itulah yang terjadi empat tahun lalu ketika renminbi dibiarkan melemah secara signifikan, dan pemerintah Cina kemudian harus menghabiskan $1 triliun cadangan devisanya untuk mencegah mata uangnya jatuh dari total cadangan devisa sejumlah $4 Triliun.

Karena itu, tampaknya tidak mungkin bahwa Cina akan mendeklarasikan perang mata uang habis-habisan. Cina bisa terpuruk bila ambil kebijakan ini dalam jangka panjang. Dan itu sekali lagi opsi yang dihindari oleh otoritas Cina. End

Sumber bacaan: berbagai sumber

Adi Ketu

Facebook Comments