Perang Mata Uang, Hubungan AS dan Cina Kian Memanas

Bagikan artikel ini

Baru-baru ini, Cina mengumumkan tidak akan membeli lebih banyak barang pertanian AS. Strategi perdagangan Trump-AS Neocon baru saja meledak. Seperti yang diprediksi Jack Rasmus, ambang batas sekarang sepertinya telah disahkan, dari perang tarif-perdagangan ke perang ekonomi yang lebih luas antara AS dan Cina di mana taktik dan tindakan lain sekarang sedang dilaksanakan.

Trump tidak akan ragu menyatakan bahwa Cina memanipulasi mata uangnya. Devaluasi Yuan memiliki efek meniadakan tarif Trump yang dikenakan pada Cina. Tetapi Cina tidak memanipulasi mata uangnya. Manipulasi didefinisikan sebagai upaya memasuki pasar uang global untuk membeli dan/atau menjual mata uang tertentu dengan imbalan dolar (mata uang perdagangan global) untuk mempengaruhi harga (nilai tukar) mata uang tersebut dalam kaitannya dengan dolar. Tapi Cina tidak melakukan itu, jadi Cina tidak melakukan manipulasi sebagaimana yang dituduhkan oleh Trump. Apa yang terjadi adalah dolar AS naik nilainya dan berdampak pada menurunnya nilai Yuan. Hal yang sama juga terjadi pada mata uang lain, ketika dolar naik. Mengapa dolar kemudian naik? Ada penyerbuan global AS demi menyelamatkan mata uangnya, dan tentu berdampak pula pada pembelian obligasi pemerintah AS yang sekarang bebas dalam hal suku bunga. Selain itu, peningkatan terhadap permintaan dolar juga berkontribusi mendorong nilai dolar, yang pada gilirannya menurunkan nilai, misalnya mendevaluasi mata uang Yuan dalam kaitannya dengan dolar.

Dengan kata lain, perlambatan ekonomi global yang didorong oleh perang perdagangan Trump peningkatan permintaan terhadap dolar dan upaya penyelamatan obligasi pemerintah AS. Kebijakan Trump adalah jantung dari perlambatan global (sudah berlangsung karena kekuatan fundamental yang menghambat investasi dan pertumbuhan). Perlambatan itulah yang mendorong dolar dan pada gilirannya menurunkan Yuan. Kebijakan Trump adalah ‘memanipulasi’ Yuan.

Cina tentu saja memungkinkan devaluasi terjadi. Sebelumnya, Cina memasuki pasar uang untuk membeli Yuan agar tidak mengalami devaluasi. Sekarang ini hanya memungkinkan proses itu terjadi. Ini adalah respon Cina terhadap Trump yang mengenakan tarif tambahan 10% pada $ 300 miliar impor Cina minggu lalu. Ini menandakan bahwa perang ‘perdagangan’ (sekarang menjadi perang ekonomi) telah bergerak melampaui tarif.

Dengan tindakan Trump baru-baru ini dan respon Cina sekarang, potensi untuk perjanjian perdagangan pada 2019 sepertinya akan menapaki jalan terjal berliku daripada sebelumnya.

Apa yang akan dilakukan Trump sekarang? Jika ia tetap kekeh pada perilakuka di masa lalu ketika mitra-mitra negara mengajukan penawaran, tentu ia akan mencoba menemukan cara untuk ‘menaikkan taruhan’ dan mengambil langkah tambahan. Misalnya, Trump dapat meningkatkan serangannya terhadap Huawei dan kemitraan serta investasi perusahaan Cina lainnya di AS. Tentu Cina tidak tinggal diam. Negara tirai bambu itu pada gilirannya akan memberlakukan pembatasan pada perusahaan AS yang melakukan bisnis di Cina. Misalnya Cina mempersulit terkait perizinan, melakukan lebih banyak pemeriksaan pabean, dan memaksakan lebih banyak hambatan non-tarif. Hal ini bisa mengganggu perusahaan-perusahaan AS melakukan bisnis di Cina untuk memiliki kepemilikan 51% dari operasi tersebut. Dan kemudian memiliki ‘opsi nuklir’, seperti yang mereka katakan: untuk memotong tajam atau berhenti membeli obligasi pemerintah AS dan dengan demikian mendaur ulang dolar AS kembali ke AS. Jika itu terjadi, pemerintah AS harus meminjam lebih banyak dari sumber lain untuk mengimbangi defisit anggaran tahunannya. Hal ini pastinya akan meningkatkan utang nasional setiap tahun bahkan lebih cepat daripada yang telah tumbuh – sekarang lebih dari $22 triliun dan diproyeksikan sekarang akan meningkat lebih dari $1 triliun tahun ini. Jika resesi terjadi, defisit dan utang bisa naik hingga $1,7 triliun, menurut Kantor Anggaran Kongres AS, CBO.

Tetapi dengan permintaan dolar untuk membeli obligasi yang melonjak, Departemen Keuangan AS dan The Fed akan lebih sulit menjual obligasi, sama dengan penurunan pembelian Cina, mengingat bahwa harga Treasury meningkat dan suku bunga turun.

Singkatnya, perang dagang AS-Cina, ekonomi global yang melambat (sekarang akan meluap ke ekonomi AS), defisit anggaran AS, dan suku bunga Fed semuanya saling terkait. Kebijakan Trump menciptakan kekacauan ekonomi di semua lini.

Apa saja kemungkinan respon Cina atas kebijakan AS yang gireakkan oleh kelompok neokonservatif (neocons) AS sejak Mei?

Neocons akan berupaya mencapai tujuan mereka, yang selalu menghentikan negosiasi dengan Cina kecuali jika yang terakhir menyerah pada masalah teknologi. Di balik tarif, di balik perang dagang, selalu ada perang atas teknologi generasi berikutnya (cybersecurity, 5G, dan AI). Sekarang jelas bahwa Cina tidak akan menyerah, jadi tidak ada kesepakatan perdagangan yang mungkin selama neocons AS tetap mengendalikan negosiasi perdagangan yang, pada titik ini, mereka masih lakukan. Neocons sekarang akan menjadikan respon kuat Cina terhadap tarif terbaru Trump untuk meyakinkan Trump mengambil tindakan tegas terhadap korporasi Cina di AS dan luar negeri dengan menggandeng sekutu-sekutunya yang patuh seperti Inggris dan Kanada.

Staf pemilihan ulang kampanye Trump akan melihat ini sebagai kesempatan untuk mulai menyalahkan Cina atas pelambatan ekonomi AS. Tema ‘Cina manipulator mata uang’ dan ‘Cina sumber opioid AS’ dapat menjadi mantra magis bagi Gedung Putih.

Bisnis besar AS dan perusahaan multinasional akan lebih termotivasi untuk menekan Trump untuk kembali ke meja perundingan dan menyelesaikannya. Namun hingga saat ini, mereka sebagian besar tidak berhasil mempengaruhi Trump dan negosiasi perdagangan. Pentagon, markas industri militer, dan industri perang AS seolah memiliki telinga Trump dan mereka meneriakkan ‘kapitulasi teknologi’ atau tidak (perlu) ada kesepakatan ‘.

Sektor Pertanian AS akan berada dalam kesulitan sekarang. Hampir dapat dipastikan bahwa dalam enam bulan ke depan Trump harus memberi mereka bailout ketiga, dengan biaya $20 miliar atau lebih. Itu berarti juga terjadi peningkatan biaya mencapai total $50 miliar biaya subsidi pertanian akibat perang dagang Cina-AS.

Secara global, ekonomi pasar yang berkembang cenderung menjadi sasaran yang paling dirugikan akibat memburuknya hubungan perdagangan antara AS dan Cina. Mata uang mereka akan menurun seperti Yuan. Tetapi mereka memiliki sumber daya yang jauh lebih sedikit daripada Cina jikalau harus menghadapi krisis. Penurunan nilai mata uang dalam ekonomi pasar berkembang (EME) akan berarti lebih banyak pelarian modal dari ekonomi mereka, mencari ‘titik aman’ di Departemen Keuangan AS, dalam mata uang lain, seperti Yen Jepang, atau dalam emas. Pelarian modal itu akan memperlambat investasi domestik mereka. Bank sentral mereka kemudian akan menaikkan suku bunga meski berdampak pula pada perlambatan ekonomi domestik mereka. Penurunan mata uang juga akan berarti kenaikan inflasi barang impor dan mendorong tingkat inflasi domestik mereka lebih tinggi, karena ekonomi mereka secara bersamaan juga melambat. EME akan menghadapi lebih banyak resesi di tengah meningkatnya inflasi.

Memburuknya perdagangan Cina-AS juga kemungkinan akan memperburuk konflik antar-kapitalis, seperti yang sudah mulai muncul dalam sengketa perdagangan Korea Selatan-Jepang saat ini.

Situasi AS-Cina yang memburuk juga akan memiliki efek negatif pada ekonomi Eropa, yang akan segera memasuki resesi. Lebih tergantung pada ekspor, terutama Jerman, akibat memburuknya perdagangan global yang akan mempercepat perlambatan Eropa.

Ketika ekonomi global melambat dan berkontraksi, pasar keuangan – yang sudah menurun tajam dari rekor tertinggi – dapat diperkirakan menjadi semakin tidak stabil. Yang tertinggi dalam daftar pasar keuangan ‘rapuh’ adalah pinjaman bank bermasalah di Eropa, Jepang, dan terutama di India. ‘Bank bayangan’ India khususnya tidak stabil. Hal ini juga berdampak pada pasar obligasi berbasis dolar korporasi di Amerika Latin. Dan di AS, obligasi sampah, obligasi korporasi kelas investasi triple B (juga sampah), dan pinjaman dengan leverage (misal Pinjaman sampah) adalah ekses dari ketidakstabilan keuangan setelah resesi AS berikutnya.

Singkatnya, Trump telah mengacaukan kebijakan ekonomi AS. Dan The Fed juga kebijakan moneter dari suku bunga yang lebih rendah tidak dapat ‘menyelamatkan’ ekonomi AS. Pemotongan suku bunga baru-baru ini hampir tidak berpengaruh pada ekonomi AS dalam beberapa bulan mendatang karena melambat. Dan Trump pada dasarnya meniadakan kebijakan fiskal sebagai sumber stimulus. Pemotongan pajak besar-besaran tahun 2018 ($4 triliun selama dekade berikutnya) telah memainkan peran utama dalam defisit anggaran tahunan US $1 triliun yang sekarang dimasukkan ke dalam ekonomi AS setiap tahun selama dekade berikutnya. Utang nasional AS akan mencapai $34 triliun dan, menurut CBO, bunga utang saja akan naik menjadi $900 miliar per tahun pada tahun 2027. Jadi, kebijakan fiskal seperti kebijakan pajak sekarang diperlakukan sama dengan kebijakan suku bunga bank sentral.

Selama dasawarsa terakhir atau lebih, kebijakan AS adalah menggunakan kebijakan moneter dan kebijakan pajak untuk mensubsidi pendapatan modal untuk sejumlah triliunan dolar setahun, setiap tahun. Dulu moneter (Fed) dan kebijakan fiskal digunakan untuk ‘menstabilkan’ perekonomian jika terjadi resesi atau inflasi. Sekarang, hal ini sudah tidak lagi. Sehingga menyebabkan pemerintah AS menyongsong ketidakstabilan ekonominya sendiri.

AS sekarang menuju resesi besar, dengan tidak ada ‘amunisi moneter’ atau amunisi fiskal yang dapat digunakan untuk merangsang ekonomi ketika memasuki resesi. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Tetapi konsekuensinya bisa sangat besar dan berpotensi mengalami durasi resesi yang akan datang.

Sudarto Murtaufiq, Peneliti Senior Global Future Institute

Facebook Comments