Pertempuran Para Dalang dan Wewe Gombel

Bagikan artikel ini

Malika Dwi Ana

Isu paling aktual baru-baru ini terkait Pilpres 2019 adalah laporan Asia Sentinel (selanjutnya ditulis: AS-nel) berjudul “Indonesia’s SBY Government: Vast Criminal Conspiracy” (Pemerintahan SBY: Konspirasi Kriminal Terbesar). Publik dunia maya sempat geger. Tetapi tercium aroma tak sedap, bahwa laporan AS-nel merupakan by design oleh konspirasi global Cina dalam rangka menjegal Prabowo Subianto (PS) di Pilpres, dengan jalan membusukkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Serangan tidak secara langsung menjegal namun melingkar melalui sasaran antara.

Jadi kenapa harus menyasar SBY untuk menjatuhkan PS?

Seperti diketahui bahwa di menit-menit terakhir Partai Demokrat akhirnya memilih mendukung PS-Sandi, dan itu mempunyai efek domino kemana-mana, salah satunya retaknya koalisi partai pendukung JKW-MA, Golkar terpecah, PKB, PPP pun terbelah secara senyap tapi jelas. Dan SBY konon katanya bakal turun gunung sebagai jurkamnya PS dalam Pilpres nanti. Artinya, jika SBY disasar maka akan membusuk pula koalisi partainya mengingat Partai Demokrat pernah menjadi the ruling party. Asumsinya kan gitu…

Substansi laporan AS-nel itu adalah, bahwa semasa kepemimpinan SBY terjadi pencucian uang negara sejumlah Rp 177 triliun di sejumlah bank internasional terkait kasus Bank Century. Dan dalam kasus ini, konon Weston Capital Internasional (WCI), perusahaan dari Mauritius, merasa dirugikan sekitar USD 620 juta dalam kurun 2008-2015. Uniknya, WCI tidak mengajukan gugatan ke pengadilan Indonesia atau ke Mahkamah Internasional sekalian, namun justru diajukan ke Mahkamah Agung (MA) di Mauritius. Padahal secara hukum, Mauritius bukan tempat kejadian.

FYI Mauritius adalah negara pulau di Lautan Hindia, sebelah Mandagascar, di Afrika. Konon populasi Mauritius hanya sepersepuluh bila dibanding penduduk Jakarta. Negara kecil, nyaris tak dikenal. Tetapi akibat laporan AS-nel, kini terkuak bahwa ternyata Mauritius merupakan negara di jajaran Afrika yang memiliki investasi terbesar di Indonesia. Ada sekitar 250 proyek ditanamnya senilai USD 567,5 juta pada 2016. Dan akhirnya terkuak pula, bahwa ada jalinan erat antara Cina dengan Mauritius di bidang ekonomi sebab Mauritius masuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk investasi Cina di Afrika. Logikanya, “Jangan-jangan semua investasi Mauritius di Indonesia itu duitnya Cina?” Cina hanya meminjam tangan. Sudahlah…saya tak ingin membahas soal tersebut karena minim data. Yang ingin saya sampaikan bahwa antara Cina dan Mauritius itu memiliki hubungan istimewa terkait ekonomi sejak 1990-an. Fakta-faktanya silakan dirica-rica ke mbah gugel.

Membincang AS-nel….. AS-nel merupakan media massa di Hongkong yang mengklaim diri independen tetapi gelagatnya memiliki hidden agenda. Karena kiprah AS-nel selama ini cenderung menjadi corong “jalur sutra abad ke 21”-nya Xi Jinping atau dikenal dengan istilah OBOR (One Government One System), yakni proyek ambisius antarnegara bahkan lintas benua.

Dari manuver AS-nel di Malaysia, sudah dapat dibaca arah kiblatnya. Awalnya mendukung Mahatir Muhammad untuk menjatuhkan Najib Razak sebab dinilai pro Amerika, setelah Najib lengser kini malah Mahatir diserang habis-habisan oleh AS-nel karena Mahatir sering mengkritisi proyek-proyek Cina terutama OBOR dan menghembuskan isu kebangkitan Melayu.

Jadi poinnya, bahwa motif serangan AS-nel kepada Mahatir karena selain Mahathir Mohamad kerap mengkritis OBOR-nya Xi, juga menggebyarkan isu kemandirian Melayu. Itu benang merahnya dan itulah yang menjadi kecemasan Cina.

Untuk saat ini, ladang-ladang investasi milik Cina maupun Mauritius dianggap aman dan nyaman di Indonesia dalam kepemimpinan JKW. Tetapi, mungkin trend pasar 2019 yang dibaca mereka, bahwa petahana bakal keok dalam Pilpres. Akibat suara ulama melalui ijtima ulama ke 2 memilih PS-Sandi, termasuk suara emak-emak dan generasi milineal yang merupakan keniscayaan lari ke kubu PS karena ada Sandi yang fenomenal. Hal ini sungguh-sungguh membahayakan bagi kelangsungan proyek-proyek mereka bila rezim berganti ke PS yang dikenal tegas, dan isu yang diusung hampir sama dengan Mahathir yakni soal kemandirian rakyat pribumi.

Maka, demi melihat tren pasar pemilu 2019 yang gravitasi suara pemilih bakal tersedot ke PS-Sandi, barangkali Cina mulai memainkan trik-triknya, rencana A gagal, maka rencana B, lalu C dan seterusnya. Pokokmen, cara apapun asal menang. Seperti yang sudah-sudah, rasanya sulit membusukkan PS lewat isu khilafah karena wakilnya bukan ulama, atau sulit juga menyerang melalui pelanggaran HAM dan kasus penculikan karena banyak testimoni para saksi mata bahkan testimoni korban penculikan itu sendiri (Desmond, Andi Arief, Pius, dan lain-lain) yang jadinya menganulir kasus pelanggaran HAM, maka serangan diarahkan pada pilar koalisi partai yakni SBY dan Partai Demokrat. Jika SBY remuk maka koalisi partai akan oleng pula. Begitulah yang sedang berlangsung.

Mauritius sebagai penjuru utama dan AS-nel selaku operator lapangan yang menggiring opini publik. Tampaknya, Pilpres kali ini lebih menarik daripada pemilu-pemilu sebelumnya, sebab selain karena yang dipilih atau dicoblos di TPS nanti antara lain caleg kota/kab, caleg prov, caleg/DPD pusat dan capres/cawapres. Juga soal skenario yang dimainkan AS-nel dan Mauritius yang merupakan cermin bahwa aktor-aktor global telah turun gunung, tidak cuma menyuruh “proxy agents”. Tidak lagi melalui agen-agen lokalnya. Tetapi sang dalang dan penanggapnya turun langsung memainkan jurus-jurus pamungkasnya. Ibarat pagelaran, bukan hanya wayang dan dalang yang kisruh sibuk memainkan tarian, tetapi si pemilik hajatan pun ikut turun melantai menarikan jurus-jurusnya langsung. Inilah pertempuran para Clash of Titans, pertarungan sang wewe gombel di medan tempur Kurusetra bertajuk Pilpres 2019.

Turunnya para wewe gombel ke gelanggang Pilpres ini mengindikasikan bahwa agen lokal atau para komprador, para cecunguk dan gedibal dianggap gagal karena isu seperti intoleransi, radikalisme, khilafah, isu antikebhinekaan, pluralisme dan lain-lain tak mampu menggiring opini publik agar pro petahana.

Facebook Comments