Pertemuan Jilid II Trump-Jong-un Februari Mendatang, Harus Hentikan Penempatan THAAD di Korea Selatan

Bagikan artikel ini

Menurut rencana, akan kembali digelar pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Korea Utara Kim Jong-un pada Februari mendatang. Di tengah-tengah semakin memanasnya hubungan AS-Cina di Asia Pasifik, penempatan sistem pertahanan anti rudal balistik Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Korea Selatan nampaknya merupakan isu krusial yang belum tercapai kesepakatan antara AS dan Korut.

Menurut dalih resmi pihak AS dan Korsel, penempatan THAAD di Korsel adalah untuk melindungi diri dari ancaman serangan rudal Korut.

Namun berbagai pakar kajian strategis dan hubungan internasional berpandangan bahwa THAAD justru bisa jadi pemicu ketegangan militer yang cukup berbahaya di Semenanjung Korea. Sehingga kesediaan AS untuk menghentikan pemasangan THAAD akan menjadi pintu masuk penyelesaian konflik di Semenanjung Korea bukan saja antara Korsel-Korut, melainkan antar negara-negara adikuasa yang berkepentingan di Semenanjung Korea yaitu, AS, Jepang, Rusia dan Cina.

Adapun Empat butir kesepakatan antara Trump-Jong-un pada Juni 2018 lalu tersebut :

  1. AS dan Korea Utara berkomitmen untuk membentuk hubungan baru AS-Korut sesuai keinginan rakyat kedua negara akan perdamaian dan kemakmuran.
  2. AS dan Korut akan menggabungkan upaya-upaya mereka untuk membangun perdamaian yang abadi dan stabil di Semenanjung Korea.
  3. Menegaskan kembali Deklarasi Panmunjom 27 April 2018 lalu, Korut berkomitmen untuk bekerja menuju denuklirisasi penuh di Semenanjung Korea.
  4. AS dan Korut berkomitmen untuk menemukan jasad-jasad para tahanan perang/yang hilang dalam tugas, termasuk pemulangan segera jasad-jasad yang telah teridentifikasi.

Kalau menelisik dari keempat butir kesepakatan tersebut, memang masih bersifat umum. Namun secara jelas mencerminkan itikad baik kedua negara untuk menyelesaikan akar konflik yang melanda Semenanjung Korea sejak awal Perang Dingin pada dekade 1950-an.

Namun mengingat poin 2 yang menegaskan komitmen untuk membangun upaya-upaya menuju perdamaian yang abadi dan stabil di Semenanjung Korea. Maka dalam pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Jong-un Februari mendatang, kesediaan AS dan Korsel untuk menghentikan penempatan sistem pertahanan anti rudal balistik THAAD, merupakan suatu keharusan sebagai itikad baik untuk mewujudkan poin 2 dari empat kesepakatan yang dicapai Trump dan Jong-un pada Juni 2018 lalu.

Dengan kata lain, jika THAAD dan Pengurangan jumlah tentara AS yang berjumlah 28.500 personil belum ditindaklanjuti dengan berpedoman pada empat butir kesepakatan, maka pertemuan tingkat tinggi Trump-Kim secara substansial belum menghasilkan kemajuan yang cukup berarti.

Khususnya Cina, nampaknya yang paling khawatir dengan adanya THAAD di Korea Selatan. Apa keunggulan THAAD sehingga begitu mengundang kecemasan Cina?

Kali pertama diusulkan pihak Angkatan Darat AS pada 1987. Lima tahun kemudian, pada 1992, Angkatan Darat AS memilih Martin Marietta, sekarang Lockheed Martin, sebagai kontraktor utama pembuatan kubah pertahanan itu. Uji coba baru dimulai pada April 1995 yang berakhir dengan sukses.

Rudal itu ditaruh dalam sebuah truk raksasa sehingga membuatnya mampu bergerak ke berbagai lokasi yang dianggap rawan.

Senjata ini memiliki berat 900 kg, panjang 6,17 meter dan diameter 34 cm. Jarak tembak dan jangkau rudal yang ditembakkan ini mampu mencapai lebih dari 200 km, dan melesat dengan kecepatan 8.24 Mach atau 2,8 km per detik.

Agar mampu mendeteksi rudal musuh, senjata ini menggunakan sistem, indium antimonide imaging infra-red seeker head. Alat ini diklaim mampu mendeteksi pergerakan benda yang sangat cepat di udara, lalu menggambarkan bentuknya dengan mudah.

Nah, disinilah kecemasan Cina. Sebab ini berarti pergerakan misil-misil dari Cina maupun Korut juga dapat dideteksi dengan mudah. Yang membuat Cina dan Korut was-was juga karena rudal ini belum pernah diketahui sebelumnya. Sehebat apa atau apa kelemahannya, lalu bagaimana cara mengatasinya? Mereka tak punya informasi dan gambaran sama sekali.

Silahkan Baca: Tentang THAAD, Senjata Supercanggih AS yang Bikin Beijing Gelisah

Lagipula, kalau  merujuk pada poin 3 yang menegaskan kembali Deklarasi Panmunjom 27 April 2018 lalu bahwa Korut berkomitmen untuk bekerja menuju denuklirisasi penuh di Semenanjung Korea. Maka AS dan Korsel pun harus berkomitmen menghentikan THAAD.

Sebab keberadaan THAAD di Korsel, berarti merupakan keuntungan bagi AS secara militer, khususnya dalam mengakses informasi pertahanan Cina. Misal, adanya THAAD di Korsel berarti pihak pasukan AS dapat melacak keberadaan rudal balistik milik Cina. Sehingga bagi Cina dipandang sebagai ancaman nasional.

Jika AS tetap ngotot mempertahankan THAAD di Korsel, bisa dipastikan ketegangan dan eskalasi konflik militer akan semakin meningkat di Semenanjung Korea. Sebab Cina pastilah akan meningkatkan kapasitas militernya untuk mengimbangi ancaman militer dari AS, Korsel dan Jepang.

Silahkan baca artikel kami sebelumnya:

AS Harus Berniat Baik Hentikan Penempatan THAAD di Korsel Sebelum Pertemuan Tingkat Tinggi AS-Korut

Sinyalemen tersebut terbukti, sebab selang beberapa hari setelah THAAD dinyatakan aktif di Korsel, Cina sontak melancarkan protes keras.

Melalui Geng Shuang, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, mengatakan: ”Kami menentang pengoperasian sistem THAAD di Korsel dan mendesak semua pihak terkait untuk segera menghentikan program tersebut. Kami tidak akan segan mengambil langkah tegas,” kata Geng Shuang.

Bisa diartikan bahwa istilah “tidak akan segan mengambil langkah tegas” berarti aksi militer yang bersifat agresif. Mengingat latarbelakang tersebut, maka good will atau niat baik AS untuk menghentikan pengoperasian dan pengaktifan sistem pertahanan rudal berbasis darat atau THAAD tersebut sangatlah mendesak sebelum pertemuan tingkat tinggi AS-Korut pada Februari mendatang  berlangsung.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments