Politisasi Asap dan Sikap Presiden SBY

Bagikan artikel ini

Toni Ervianto, alumnus pasca sarjana Kajian Strategik Intelijen, Universitas Indonesia 

Kebakaran hutan yang meliputi 265 titik di daerah Riau telah menyebabkan negara tetangga, Singapura dan Malaysia, diselimuti asap sejak pertengahan Juni lalu, bahkan kabut asap tersebut dinilai lebih buruk dari kejadian pada tahun 1997-1998 yang menyebabkan kerugian US$ 9 miliar.

Asap juga menyebabkan ketegangan diplomatik. Singapura dan Malaysia menuntut Indonesia berupaya lebih untuk menghentikan kabut asap. Indonesia juga didesak untuk meratifikasi perjanjian asap lintas batas ASEAN yang ditandatangani tahun 2002. Indonesia satu-satunya negara yang belum meratifikasinya. Pemerintah Indonesia mengatakan dokumen ratifikasi sudah ada di parlemen, setelah pernah ditolak tahun 2008 oleh DPR RI. Kebakaran tahun ini, menurut World Resources Institute, titik api paling banyak berada di wilayah anak perusahaan Sinar Mas dan Raja Garuda Mas pada rentang 20-23 Juni 2013.

Pasca kebakaran hutan tersebut, Pemerintah melalui BNPB dan TNI serta Polri melakukan aksi untuk melakukan pemadaman baik melalui darat dan udara, antara lain penyemaian awan, bom air, serta cuaca yang lebih baik. Dalam perkembangan terakhirnya, upaya ini menimbulkan hasil cukup positif dengan berkurangnya titik api.

Berdasarkan pemantauan satelit pengindraan jauh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) 18, di Riau saat ini hanya ada satu titik kebakaran hutan dan lahan alias hotspot. Titik kebakaran itu terletak di wilayah Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Padahal, pada awal pekan lalu, tepatnya 24 Juni 2013, titik api yang terpantau di daerah Riau masih sebanyak 265 titik.

Menyikapi dampak kebakaran hutan yang telah merepotan warga di Singapura dan Malaysia, maka beberapa hari yang lalu Presiden SBY menyampaikan permohonan maaf yang diyakini untuk meredakan ketegangan yang ada. Permohonan maaf telah diterima dengan lapang dada oleh PM Lee Hsien Loong.

Sikap Pemerintah Indonesia melalui Presiden SBY tersebut diapresiasi oleh negara tetangga, seperti dikemukakan mantan Perdana Menteri Singapura Goh Chok Tong memuji kemampuan Indonesia menangani kabut asap. Dalam pernyataan yang ditulis di Facebook-nya Minggu (30/6/2013), Goh berterima kasih kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Goh menyebut Presiden SBY telah memperlihatkan kepemimpinan yang kuat dalam menghadapi krisis transnasional ini.“Sahabat saya, Presiden SBY, merupakan sosok negarawan yang telah menunjukkan itikad yang tulus untuk menyelesaikan persoalan bersama ini,” tulis Goh.Yang menarik, Goh tidak lupa mengkritik sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II yang dinilainya memyampaikan pernyataan yang kasar, bermusuhan, dan tidak konstruktif. “Presiden SBY menunjukkan bahwa dia berbeda dengan sejumlah menterinya.”

Goh menyambut baik berkurangnya jumlah titik api di Provinsi Riau. Dia juga memuji pembuatan hujan buatan oleh Pemerintah Indonesia yang dinilainya sangat membantu. Goh mendesak Pemerintah Indonesia untuk lebih tegas mengimplementasikan penegakan hukum. Tentu saja, itikad politik yang kuat sangatlah dibutuhkan, tambahnya.

Sementara itu, sebuah jajak pendapat menunjukkan walau sangat cemas, mayoritas warga Singapura yakin mereka dapat melewati krisis kabut asap yang sedang mendera saat ini.Channel News Asia, Kamis (27/6/2013), melaporkan, hasil jajak pendapat menunjukkan delapan  dari 10 warga Singapura menunjukkan keyakinannya.Hampir 80 persen warga negeri kota itu menyatakan cemas menghadapi gangguan kabut asap ini. Meski demikian, 84 persen responden survei sangat yakin krisis kabut asap ini akan dapat dilewati.Jajak pendapat yang digelar lembaga Reach yang bekerja sama dengan pemerintah Singapura ini juga menunjukkan 97 persen warga Singapura juga mengetahui cara terbaik mencari informasi soal kabut asap ini.Sebanyak 76 persen mendapatkan informasi dari surat kabar, sedangkan 45 persen kerap memantau situs media online, termasuk situs web Lembaga Lingkungan Nasional (NEA). Sebagian besar warga Singapura juga memahami langkah-langkah pencegahan dan medis yang harus diambil jika menderita gangguan kesehatan akibat kabut asap.Mereka juga rutin memantau angka indeks polutan yang diperbarui setiap tiga jam sekali. Artinya, warga Singapura lebih dewasa menyikapi bencana ini dengan tidak mempolitisirnya.

Politisasi dan Kebablasan

Berbeda dengan sikap masyarakat Singapura yang dewasa dalam menanggapi masalah “asap” ini, kondisi berbeda ditunjukkan melalui reaksi yang berlebihan/kebablasan dan politisasi terhadap masalah ini. Politisi dilakukan salah satu parpol yang menilai permintaan maaf SBY melemahkan diplomasi Indonesia, sedangkan tindakan kebablasan dilakukan seorang hacker yang disinyalir berasal dari Indonesia membuat kehebohan, Kamis (27/6/2013), di negeri jiran, Singapura. Hacker yang menamai dirinya “bambu” ini berhasil menjebol situs Eu Yan Sang, perusahaan obat-obatan yang terkenal di Singapura. Dia mengecam tindak tanduk warga Singapura yang menyalahkan Indonesia sebagai biang kerok dari asap yang menyelimuti negeri mereka.”Jangan coba-coba menghina negara kami, Indonesia, hanya gara-gara kabut asap di negara kalian!” tulis hacker itu.Berdasarkan pernyataan yang ditulis, bambu menyatakan dia didukung oleh J.A.M.5 Team, sebuah kelompok yang berasal dari Tanah Air. Selain itu, bambu juga menuliskan bahwa dia telah menjebol situs-situs lain seperti studymusicinlondon.com dan ineltronics.com.Menutup tulisannya, bambu mengakhiri dengan “dari Indonesia, saya bukan hacker“.

Dalam konteks hubungan internasional, permintaan maaf Presiden SBY menurut Prof. Hikmahanto Juwana permintaan maaf dalam hubungan internasional memiliki banyak makna, tergantung pada konteks mengapa “maaf” diminta atau diberikan.Makna maaf bisa berkaitan dengan masalah kedaulatan. Semisal, pasca Perang Dunia II hingga saat ini China menghendaki Jepang agar meminta maaf atas kekejian yang dilakukan tentara Jepang. Sejumlah tokoh dan masyarakat Indonesia berpikiran demikian ketika mengkritik Presiden SBY atas pernyataan maafnya. Sedangkan, makna maaf Presiden SBY dalam rangka gestur atas ketidak-nyamanan yang ditimbulkan Indonesia ke negara lain. Untuk menjaga hubungan baik maka permintaan maaf disampaikan. Maaf yang disampaikan Presiden berbeda dengan maaf yg dikehendaki China terhadap Jepang, karena tidak ada tuntutan permintaan maaf tersebut baik dari Singapura dan Malaysia kepada Indonesia.Disamping itu, maaf yang disampaikan Presiden bukanlah atas suatu kebijakan yang secara sengaja dilakukan pemerintah. Ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Jepang dalam perspektif China. Last but not least, apa yang dilakukan oleh Presiden SBY agar hubungan antar negara terjaga dan semangat solidaritas ASEAN lebih dikedepankan.

Dari kasus asap ini, kita dapat membandingkan tingkat emotional quetion (EQ) dan intellectual question (IQ) antara Indonesia dengan Singapura. Kita harus belajar lebih banyak lagi dalam mengelola konflik dan masalah yang terjadi.

Facebook Comments