Presiden Trump Dukung Program Bioteknologi Bertujuan Militer Berkedok Strategi Pertahanan Biologis?

Bagikan artikel ini

Strategi pemerintah Amerika Serikat untuk mengembangkan senjata-senjata biologis nampaknya mendapat dukungan dan persetujuan dari Presiden AS Donald J Trump. Memorandum Presiden AS yang dirilis pada 18 September 2018 lalu, nampaknya akan dijadikan fondasi dan pintu masuk untuk program pengembangan bioteknologi bertujuan militer. Yang bermuara pada  pembuatan senjata-senjata biologis.

Segi paling mengkhawatirkan, pemerintah AS di bawah Trump akan mengembangkan bioterorisme melalui penyebaran berbagai rekayasa penyebaran penyakit menular melalui rekayasa berbagai jenis virus mematikan.

Baca:  https://www.whitehouse.gov/presidential-actions/presidential-memorandum-support-national-biodefense/

Sebelum saya ulas lebih dalam. Mari simak dulu beberapa poin penting memorandum Presiden Trump 18 September lalu.

Sejak paragrap  pertama memorandum tersebut, menegaskan pentingnya AS untuk mencegah berbagai ancaman serangan biologis baik di dalam negeri maupun di luar negeri. “Semua kementerian maupun instansi pemerintah harus berkontribusi dalam misi pertahanan biologis (bio-defense mission). Begitulah konsideran awal memorandum Presiden Trump.

Selanjutnya ditegaskan dalam memorandum presiden, semua instansi terkait harus berkoordinasi dalam mengelola semua kegiatan terkait pertahanan biologis/bio-defense. Seperti pemerintahan federal, negara bagian, sektor swastan maupun mitra-mitra internasional.  Baik terkait upaya pencegahan, kesiapsiagaan, merespons, maupun pemulihan terhadap timbulnya serangan-serangan biologis.

Adapun kebijakan strategis AS bertumpu pada tujuan untuk melindungi keamanan dan ekonomi nasional dengan mencegah timbulnya ancaman serangan biologis (biological threats).

Sehubungan dengan itu, pemerintah AS akan melakukan serangkaian tindakan untuk mencegah ancaman biologis yang akan menimpa umat manusia, hewan, pertanian, maupun lingkungan hidup, yang pada perkembangannya akan membahayakan keamanan dan perekonomian nasional AS.  Adapun fondasi dari kebijakan pemerintah AS tersebut adalah the National bio-defense strategy yang kemudian dijabarkan menjadi rencana aksi.

Memorandum presiden tersebut selain ditujukan kepada wakil presiden Mike Pence, juga kepada beberapa menteri antara lain: menteri luar negeri, menteri keuangan, menteri pertahanan, menteri dalam negeri, menteri pertanian, menteri perdagangan, menteri tenaga kerja, menteri kesehatan, menteri transportasi dan menteri energi.

Berarti, meskipun hanya terbatas pada lingkup penanggulangan ancaman biologis, nampak jelas ini merupakan prioritas program dan bersifat strategis. Serta melibatkan semua kementerian strategis yang dipandang presiden sebagai instansi terkait, maupun keikutsertaan sektor swasta.

Benarkah memorandum itu sekadar dimaksudkan sebagai upaya pencegahan dan penangkalan terhadap apa yang pemerintah AS istilahkan ancaman biologis/biological threats? Atau justru memorandum tersebut menyiratkan sebuah pesan berbahaya. Bahwa pemerintah AS  di bawah kepresidenan Donald Trump mendukung strategi baru dalam bidang pertahanan biologis/bio-defense sebagai payung hukum untuk mengembangkan Bio-terorisme atau program pengembangan bioteknologi bertujuan militer. Termasuk program-program derivasinya/program-program turunannya, seperti membangun laboratorium-laboratorium bertujuan ganda seperti NAMRU-2 AS. Yang mana muara atau tujuannya adalah, untuk membuat senjata-senjata biologis.

Sebuah kajian yang dilakukan oleh  Karen Graham dalam situs http://www.digitaljournal.com/tech-and-science/science/pentagon-s-project-called-insect-allies-is-it-a-bioweapon/article/533958  berkesimpulan bahwa proyek Pentagon (Kementerian Pertahanan AS) yang bernama INSECT ALLIES pada perkembanganya akan dikembangkan menjadi program rekayasa penyebaran aneka penyakit menular. Yang ujungnya akan bermuara pada pembuatan senjata-senjata biologis.

Menurut Karen Graham, program Pentagon yang saat ini masih berlangsung  tersebut, atas biaya dari the U.S. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA).

Dengan kata lain, Strategi Baru AS Dalam Bidang Pertahanan Biologis yang tersurat melalui memorandum Presiden Trump pada 18 September lalu terkesan bersifat defensif, pada perkembangannya bisa dikembangkan menjadi aksi yang bersifat ofensif. PROJECT INSECT ALLIES yang tersurat untuk menangkal serangan biologis, pada perkembangannya bisa dikembang-luaskan menjadi rekayasa penyebaran penyakit. Yang mana rekayasa penyebaran penyakit tersebut kemudian dijadikan dalih oleh Pentagon untuk membuat program bioteknologi yang bertujuan militer. Seperti merekayasa senjata-senjata biologis maupun berbagai aneka jenis senjata pemusnah massal.

Artikel lain yang ditulis Manlio Dinucci, mengisyaratkan berbagai kemungkinan rekayasa terciptanya penyebaran  infeksi akibat virus yang ditularkan ke sektor pertanian, yang dirancang oleh DARPA. Dengan demikian rekayasa penyebaran infeksi virus atau  genetically modified infectious viruses terhadap tumbuh-tumbuhan, sejatinya merupakan bentuk lain dari senjata biologis.

Jika memang itulah agenda terselubung pemerintahan Trump, berarti AS telah melanggar the Biological Weapons Convention yang diberlakukan sejak 1975. Namun sampai saat ini AS bukan saja tidak mengindahkan konvensi tersebut, bahkan bila memungkinkan, berusaha mencabut the Convention on the Prohobition of Development, Production, and Stockpiling of Bacteriological (Biological) and Toxin Weapons and on their Destruction. Aturan ini dikenal juga dengan nama Biological and Toxin Weapons Convention.

Baca lebih lanjut:  http://www.voltairenet.org/article203407.html

Program bioteknologi berupa rekayasa virus penyakit yang sedang digarap DARPA tersebut bukan saja dialamatkan ke sektor pertanian, bahkan ke berbagai lingkup lingkungan hidup maupun umat manusia pada umumnya.

Belajar dari kasus pengalaman pahit Indonesia ketika kecolongan masuknya laboratorium bertujuan ganda ala NAMRU-2 AS. Ternyata NAMRU-2 yang terkesan di permukaan merupakan lembaga penelitian penyakit menular, pada perkembangannya bakteri-bakteri yang jadi obyek penelitian tersebut digunakan untuk memicu penyebaran penyakit-penyakit menular. Seperti Virus Ebola, Bakteri Yersina Pestis, wabah demam berdarah dan sebagainya.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments