Ramadhan Kita: Realita yang Selalu Bikin Nangis

Bagikan artikel ini

Tubagus Soleh, Ketum DPN Babad Banten

Setiap menjelang ramadhan, semua pihak dibikin sibuk. Terutama para penimbun. Karena bulan suci ramadhan adalah momentum terbaik sepanjang bulan mencari keuntungan sepuas-puasnya. Segede gedenya. Sebebas bebasnya. Para pejabat sibuk menjelaskan kenaikan harga barang dan jasa. Para pedagang mengeluh suplai barang yang kurang. Para ibu-ibu kita mengeluh dan menangis karena harga harga kebutuhan pokok yang mencekek leher. Dan itu berulang-ulang menjadi rutinitas yang ‘menjengkelkan’ rutin tiap tahun. Yang membikin aneh, meskipun persiapannya terlihat sangat siap. Tetep saja harga-harga mencekek leher ibu ibu kita.

‘Ramadhan’ pula penyebab inflasi yang bikin keder. Namun semuanya bisa dijelaskan dengan baik oleh para pejabat. Semua kita nyaris tidak peduli akan dampak dari sebuah perilaku kita kebanyakan dalam ‘memuliakan’ ramadhan. Dampaknya jelas: Negara bisa bangkrut.

Ramadhan kita yang mulia telah tertutup oleh ‘napsu kita sendiri’. Nyaris tidak ada atsar bagi perbaikan bangsa sedikitpun. Malah sebaliknya menjadi pintu masuk bagi para ‘pemuas napsu’ untuk memeras keuntungan segede gedenya dari harga biasanya selama bulan ramadhan. Rakyat tak berdaya Pemerintah tak kuasa. Ramadhan telah berubah menjadi tontonan kemewahan duniawi. Panggung bagi pejabat agar dianggap peduli. Kebiasaan yang rutin bikin bukber di rumah-rumah dinas pejabat menjadi tradisi rutin pejabat negeri ini. Entah duit darimana sumbernya. Tapi itulah fakta yang nyaris rutin tiap bulan ramadhan.

Padahal Ramadhan merupakan Madrasah perbaikan Jiwa batin kita. Seandainya saja perbaikan jiwa batin kita setiap orangnya terjadi selama sebulan penuh. Dan seandainya setiap kita mendapatkan malam kemuliaan lailatul Qodr,–saya tidak mampu membayangkan– saya sangat yakin, Indonesia pasca ramadhan akan bermetamorfosis menjadi sosok negara Mercusuar Dunia.

Ramadhan yang seharusnya menjadi deposit kesabaran, kepedulian, ketulusan, serta meningkatkan kapasitas ruhani kita jangan sampai malah berubah sebaliknya: menjadi Madrasah defisit ruhani kita. Ramadhan kita harusnya menjadi berkah dunia akhirat bagi bangsa Indonesia. Ramadhan kita seharusnya menjadi deposit ruhani bangsa agar mampu keluar dari masalah rumit yang selalu menjerat kita sebagai bangsa.

Namun realita yang terjadi, Ramadhan menjadi isak tangis ibu-ibu kita karena harga-harga kebutuhan pokok telah berubah menjadi monster yang menakutkan. Ramadhan kita telah dicuri dan dirubah oleh kaum kapitalis sebagai mesin pencetak duit yang efektif untuk menghasilkan duit dalam jumlah yang tak terbayangkan

Ramadhan, di tangan kaum kapitalis diubah menjadi gadis cantik yang menggiurkan. Dengan segala aksesoris dunia yang mengkhilafkan. Hampir kebanyakan dari kita dibikin sibuk agar mempersiapkan diri dengan penampilan yang berbeda. Dipacu rasa harga diri agar minder ketika tidak menampilkan penampilan yang wah. Bagi yang rapuh iman, Ramadhan menjadi bulan yang mencekam dan menakutkan bila tidak mampu memenuhi permintaan kebutuhan keluarga diatas rata-rata rutin bulanan.

Di tangan kaum kapitalis, Ramadhan dijauhkan ruhnya dari umat. Kecuali hanya sekedar rutinitas yang bikin capek saja. Di tangan kaum kapitalis, Ramadhan sebagai bulan revolusi badar telah berubah menjadi bulan individualis yang tidak mampu melahirkan gerakan sosial yang mencerahkan.

Ramadhan aku rindu sosok sejatimu. Shollu ‘alannabi.

Facebook Comments