Revisi ICP Pengaruhi PNPB Migas

Bagikan artikel ini
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2016, target PNBP ditetapkan sebesar Rp273,8 triliun, di mana PNBP dari sektor migas menyumbang Rp78,6 triliun. Dengan asumsi turun 20 persen, maka setoran PNBP tahun ini diperkirakan hanya sebesar Rp62,88 triliun.
“Saya kira segitu angka yang realistis, setelah disepakati freeze produksi antara Arab Saudi, Rusia, negara-negara Amerika Latin sih harusnya punya dampak terhadap harga minyak. Dan saya kita harga US$30 sampai US$40 itu mungkin,” ujar Sudirman Said usai menjadi pembicara di sebuah diskusi di Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (24/2).
Sebelumnya, Direktur PNBP Kementerian Keuangan Anandy Wati menjelaskan asumsi yang dijadikan acuan untuk menghitung PNBP migas antara lain ICP, tingkat produksi (lifting) minyak dan gas, serta nilai tukar rupiah.
“Untuk ICP kita membuat asumsi US$30 per barel, US$35 per barel dan US$ 45 per barel. Sedangkan lifting minyak 780 ribu barel per hari (Bph), 790 ribu Bph, dan 810 ribu Bph,” ujar Anandy Wati.
Dengan asumsi kurs rupiah tetap Rp13.900 per dolar AS, jelas Anandy, PNBP Migas berpotensi menjadi minus Rp1,5 triliun untuk membayar utang pajak pertambahan nilai (PPN) jika ICP dipatok US$30 per barel dan lifting minyak 780 ribu Bph.
Indonesia-Iran Jajaki Kerjasama 
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, I.G.N Wiratmaja Puja mengatakan pemerintah Indonesia mengundang Iran untuk berpartisipasi dalam pembangunan kilang dengan skema Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU) dengan Pertamina sebagai Penanggung Jawab Pembangunan Kilang (PJPK).
“Kami mengundang kemarin kalau bisa membangun kilang dengan skema KPBU di Arun atau Bontang, dan mereka kelihatan tertarik, jadi sedang didiskusikan cukup detail,”ujar Wiratmaja pada Selasa (24/2) di Hotel Ritz Carlton Kuningan Jakarta.
Wiratmaja menyebut dana investasi untuk pembangunan satu kilang dengan kapasitas 300.000 barel mencapai US$ 8 miliar.
Sementara itu jika kilang dibangun dengan pabrik petrokimia maka dana investasi yag dibutuhkan mencapai US$ 14 miliar.
“Mereka sepertinya ingin dengan petrochemical, itu yang lagi dibahas sekarang. Target kami kan groundbreaking kilang tahun depan, sekarang lagi diskusi secara detail,”ujar Wiratmaja.
Sudirman Said mepertegas bahwa kerja sama dibicarakan dalam pertemuan antara Kementerian Energi dan delegasi Iran di Bogor kemarin. Badan usaha lokal seperti PT Pertamina (Persero), PT PGN (Persero) Tbk, dan PT Medco Energi Internasional Tbk juga diundang. Perusahaan migas milik pemerintah Iran juga turut menghadiri pertemuan.
“Ada 9-10 peluang kerja sama yang bisa di-eksplore lebih jauh,” ujar Menteri Energi Sudirman Said di hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Rabu, 24 Februari 2016.
Namun, Iran meminta syarat kepada Indonesia agar membangun bank di sana. Tujuannya untuk kemudahan pembayaran. Terkait dengan ini, Sudirman mengatakan presiden sudah mengimbau Bank Indonesia untuk menindaklanjuti permintaan Iran.
Meskipun demikian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengemukakan rencana kerja sama sektor minyak dan gas bumi dengan Iran menemui titik terang. Kesepakatan dikebut pascapencabutan sanksi ekonomi awal tahun lalu. (Republika.co.id/CNNIndonesia.com/Tempo.co/Invfovesta.com/TGR)
Facebook Comments