» Bila Tidak Ada Visi, G-20 Merupakan Penjara Bagi Indonesia » PKS, Kita, dan Perkembangan Terbaru di Syria » Rontoknya Teori Polisi Dunia! (Bag-2/Habis) » Rontoknya Teori Polisi Dunia! (Bag-1) » Mengkaji Hubungan Strategis Rusia – Indonesia dari Perspektif Geopolitik (Bag-3/Habis)
Join With Us at :

   Terpopuler
Perbandingan Kekuatan Militer Korea Selatan Versus Korea Utara
Cermati Tiga Kekuatan Militer Baru di Asia Pasifik: Cina, Jepang dan India
Sistem Pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia -Bagian 4
Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa dan Tumpah darah Indonesia - Bagian 6
Kelas Kilo, Jenis Kapal Selam Yang Tepat Bagi Indonesia
Yang Tersirat di Balik Konflik Budaya Indonesia-Malaysia
Mengintip Kekuatan Angkatan Bersenjata Amerika dan NATO
Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa dan Tumpah Darah Indonesia - Bagian 5
Rusia Tawarkan Rudal S-300 Tuk Rontokkan Pesawat Australia
Peran TNI-AD Dalam Melindungi Segenap Bangsa Dan Tumpah Darah Indonesia- Kesimpulan Bagian 7
Read More »

Jejak Pendapat
Benarkah perseteruan sengketa Laut Cina Selatan menjadi pemicu bergesernya konflik global Amerika Serikat versus Cina-Rusia ke Asia Tenggara?
Sangat Benar
Benar
Tidak Benar
Tidak Tahu
   


Links

Departemen Luar Negeri RI
PBNU
IRIB
Selamatkan Indonesia
Kajian Timur Tengah
Magister HI Unpad
World Future Online
KASKUS-The Largest Indonesian Community
Penerbit ImtiyaZ
Seminar Kapitulasi Jepang
Bayt al-Hikmah Institute
Global Research

Analisis
20-05-2013
Bila Tidak Ada Visi, G-20 Merupakan Penjara Bagi Indonesia

Pendahuluan

Globalisasi adalah sebuah versi mutakhir sistem dominasi ekonomi dunia yang mengintegrasikan sistem kapitalisme dan liberalisme yang tidak ingin terikat oleh peraturan negara manapun. Yakni mewujudkan sebuah sistem pasar bebas yang menembus batas-batas negara, yang bertujuan mengakhiri kedaulatan negara-bangsa. Gejala tersebut bisa dilihat secara kasat mata dengan meningkatnya dominasi kelompok lintas negara seperti G-7, EU, NATO, OPEC, ASEAN, APEC, NAFTA, WTO, IMF, World Bank, dan lain sebagainya.



Artikel Terkait
» Mengkaji Hubungan Strategis Rusia – Indonesia dari Perspektif Geopolitik (Bag-3/Habis)
» Mengkaji Hubungan Strategis Rusia – Indonesia dari Perspektif Geopolitik (Bag-2)
» Mengkaji Hubungan Strategis Rusia – Indonesia dari Perspektif Geopolitik (Bag-1)
» Mencermati Geliat G-20 dari Perspektif Kolonialisme
» Indonesia-Rusia Harus Kerjasama Dorong Pembiayaan Pembangunan Infrastruktur oleh Negara-Negara G-20
» Kemitraan Lintas Pasifik (TPP): Menyeret Indonesia Masuk Dalam Persekongkolan Rahasia antara Pejabat Pemerintah dan Pelaku Bisnis
» Melacak Western Hemisphere: Doktrin (Kolonialisme) Kuno, Kemasan Baru!


18-05-2013
PKS, Kita, dan Perkembangan Terbaru di Syria

Silangsengkarut informasi terkait kasus korupsi PKS membuat saya menyimpulkan satu hal: kita umumnya memang hanya mau mendengar apa yang ingin kita dengar; bukan mendengar apa yang memang benar. Saya seorang facebooker. Teman facebook saya yang berjumlah 5000 orang, berasal dari berbagai kalangan. Dan ini memberikan keuntungan bagi saya sebagai penulis. Di newsfeed saya terpampang ribuan postingan dari sudut pandang yang sangat beragam. Untuk kasus PKS, para pendukung PKS sejak kemarin  memposting link-link berjudul "AF minta maaf kepada PKS" atau "mengapa televisi menghentikan tayangan live setelah AF memberi kesaksian yang menunjukkan ketidakbersalahan LHI". Sebaliknya, mereka yang kontra, akan memberikan link berita yang tidak disebut-sebut oleh para simpatisan PKS, misalnya rekaman pembicaraan LHI dan AF soal perempuan dan uang. Padahal, rekaman itu diputar dalam sidang yang sama, di hari yang sama. Seorang facebooker bahkan menulis ulang pernyataan-pernyataan elit PKS yang tadinya mengaku tidak kenal AF, akhirnya di persidangan terbukti mereka semua pernah berhubungan dengan AF.


17-05-2013
Rontoknya Teori Polisi Dunia! (Bag-2/Habis)

Melanjutkan tulisan sederhana ini, pertanyaan yang timbul ialah: sejak kapan “polisi dunia” sebagai teori yang dikembangkan AS terlihat melemah? Tidak banyak artikel, atau barangkali tidak akan ditemui satu literatur pun sengaja mencatat pelemahan operasional ‘teori polisi dunia’. Tetapi menyimak fakta lapangan, proses kerontokan itu dimulai ketika Paman Sam aktif menjalankan US Military Roadmap (peta jalan perang) yang dinilai sebagai desain global penaklukan dunia ---dimana salah satunya menyerbu Iran--- tidak tanggung-tanggung, “peta” tersebut terpampang di Pentagon sejak pertengahan 1990-an (Baca: Prof Michel Chossudovsky, Mempersiapkan Perang Dunia III, Target Iran, 1 Agustus 2010, www.globalresearch.ca).


13-05-2013
Rontoknya Teori Polisi Dunia! (Bag-1)

Masih ingat “Teori Dominasi”-nya Jean Bricmont? Ini bunyinya: “setiap sistem dominasi tergantung kekuatan militer, tetapi selalu membutuhkan pembenaran ideologis”. Menyimak hal di atas, sekurang-kurangnya ada dua unsur pokok dalam sistem tersebut. Pertama, kekuatan militer. Kedua, pembenaran ideologis. Selanjutnya ulasan atas simbiosis mutualisme kedua unsur tadi akan dibahas sepintas di awal catatan ini sebelum masuk ke materi inti sesuai judul di atas. Inilah uraiannya.


09-05-2013
Rusia-Indonesia
Mengkaji Hubungan Strategis Rusia – Indonesia dari Perspektif Geopolitik (Bag-3/Habis)

Mencari Titik Temu Dua Kepentingan Nasional

Dalam roundtable discussion (25/4/2013) yang digelar Global Future Institute (GFI) tercatat, bahwa peluang Rusia selain penyeimbang global juga persekutuan bersama Cina, India dan Afrika Selatan baik secara bilateral ataupun multilateral melalui forum BRICS (Brazil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan), SCO, dan lainnya cukup diperhitungkan, terutama oleh kelompok negara yang berseberangan baik pragmatis terutama lawan secara ideologis. Terpilihnya Azevedo dari Brazil menjadi Ketua WTO yang nota bene kelompok BRICS, semakin membuktikan bahwa geliat BRICS tengah memainkan peran signifikan dalam dinamika geo-ekonomi global. Dan peluang Rusia tadi ---dalam hal sebagai penyeimbang--- kelihatannya semakin dekat dengan (inti) kepentingan nasionalnya menjadi superpower.

 


06-05-2013
Mengkaji Hubungan Strategis Rusia – Indonesia dari Perspektif Geopolitik (Bag-2)

“Kebijakan Pragmatis dan Non Ideologis” ala Putin

Mencermati prospek hubungan antara Indonesia – Rusia, sebaiknya diurai dulu kekuatan dan kelemahan Beruang Merah sebagai pertimbangan kelak. Kendati masih punya kelemahan di satu sisi ---negara mana yang tak punya kelemahan?--- akan tetapi ia memiliki keunggulan daripada AS dan sekutu yang selama ini mendominasi “hubungan” dengan republik tercinta ini. Artinya selain militer, sejarah dan peradaban, ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya kedirgantaraan, kepemimpinan kuat di era Putin, sisi menonjol lain bahwa Rusia kini telah berubah menjadi net oil exporter serta autharky, yakni negara swasembada yang mampu mencukupi kebutuhan sendiri. Silahkan dibandingkan dengan para adidaya Barat yang rata-rata net oil importer. Apalagi AS yang kebutuhan minyaknya sekitar 20-an juta lebih barel/per hari sehingga setiap langkah politik luar negerinya cenderung mengembangkan pola kolonialisasi entah via hard power (simetris) ataupun smart power (asimetris), tetapi hakiki tujuannya semata-mata karena minyak, minyak dan minyak.


06-05-2013
Memuncaknya perang China melawan USA 2017

Politik praktis memang bukan apa yang tersurat, melainkan apa yang tersirat. Jika Bush berbicara soal hak azasi manusia, maka yang ia dimaksud adalah minyak dan gas alam (Pepe Escobar, Asia Times, 27/9,2007).


04-05-2013
Hubungan Strategis Rusia – Indonesia
Mengkaji Hubungan Strategis Rusia – Indonesia dari Perspektif Geopolitik (Bag-1)

(Tanggapan Makalah: “Saatnya Menoleh ke Rusia bagi Kepentingan Strategis Indonesia” oleh Santos Winarso Dwiyogo, Kepala Divisi Masalah Bilateral dan Hubungan Internasional, Set Wapres RI dalam Roundtable Discussion di Global Future Institute, Kamis 25 April 2013, Jakarta)


02-05-2013
Perempuan Sebagai Pelopor Revolusi

Pengantar Redaksi: artikel ini merupakan makalah Dina Y Sulaeman pada seminar nasional yang mengusung tema "Indonesia, Perempuan, dan Jati Diri Bangsa" yang berlangsung pada Rabu, 1/5/13, 09.00-14.00 di Aula Syahida Inn Kampus II UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Berikut isi makalahnya:


29-04-2013
Armada Ke-5 Angkatan Laut AS, Proposal Penggabungan Saudi-Bahrain, Dan Isu Konflik Sektarian

Proposal Penggabungan Saudi-Bahrain

Berdasarkan laporan terbaru, Arab Saudi berusaha bergabung dengan Bahrain sesuai dengan rencana menyatukan enam negara Arab anggota Dewan Kerjasama Teluk-Persia (P-GCC). Pada Desember 2011, Raja Abdullah menyerukan kepada negara-negara anggota P-GCC untuk bergerak melampaui tahap kerja sama dan menuju ke tahap penyatuan tersebut, meski menuai banyak protes dan demonstrasi.


24-04-2013
Mencermati Geliat G-20 dari Perspektif Kolonialisme

The Group of Twenty (selanjutnya disebut G-20) ialah golongan negara atau kelompok 20 ekonomi utama yang terdiri atas 19 negara perekonomian besar plus Uni Eropa. Istilah lain G-20 adalah Finance Ministers and Central Bank Governors. Ia dibentuk tahun 1999 sebagai forum yang diharapkan mampu menghimpun kekuatan ekonomi negara maju dan negara berkembang terkait isue-isue ekonomi global. Keanggotanya terdiri atas Afrika Selatan, Amerika Serikat (AS), Arab Saudi, Argentina, Australia, RRC, Brasil, Britania Raya, India, Indonesia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Turki, Perancis, Rusia dan Uni Eropa.




123456   NEXT


Advance Search

   Isu Hangat »
Malaysia, Sarang Baru Perdagangan Narkoba di Asia Tenggara?
Terbetik kabar, Malaysia sekarang jadi sarang jual beli narkoba di Asia Tenggara. Karakterisitiknya maupun pencitraannya sebagai negara Religius Islam, sepertinya jadi samaran yang sempurna buat dijadikan ...

BRICS, G-2O, dan IMF

Mengkaji Hubungan Strategis Rusia – Indonesia dari Perspektif Geopolitik (Bag-1)

Saatnya Menoleh ke Rusia Bagi Kepentingan Strategis Indonesia

Bom Boston dan Aksi Destabilisasi AS di kawasan Heartland dan Caucasus

Indonesia, Rusia dan Cina Harus Galang Kerjasama Bendung Skema TPP Amerika Serikat di Asia Pasifik

Lihat lainya »
   Arsip
Segera Terbit: The Global Review Quarterly Edisi Ketiga, Mei 2013

Tulisan The Global Review Membuat Banyak Negara Berpikir Ulang Atas Tatanan Negaranya

Laporan Pemilu 2013 di Pakistan

Tips Menulis

Bila Tidak Ada Visi, G-20 Merupakan Penjara Bagi Indonesia

Departemen Keuangan AS Cabut Sanksi Terhadap Bank Irak

Indonesia Siap Ambil Alih Teknologi-Manajemen Inalum

Awal Mei, Anak Gajah Sumatera Mati di Aceh dan Riau

Upaya Cina Bongkar Kejahatan Perang AS

Bom Beruntun Guncang Irak, Puluhan Tewas

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang : Dina Y. Sulaeman
PRAHARA SURIAH

“Hasil perang ini tidak hanya berpengaruh bagi masa depan Suriah. Situasi di Suriah telah membagi dua dunia. Ini adalah konflik internal yang membawa konsekuensi global.”

Demikian narasi sebuah film dokumenter Rusia karya Proddubniy, dkk. Konflik Suriah melibatkan sangat banyak ‘pemain’, mulai dari Sekjen PBB, para presiden dari AS, Inggris, Prancis, Turki, raja-raja Arab, pasukan Suriah, pasukan jihad, hingga para pengguna internet. Inilah era Facebook, Twitter, dan blog. Kelompok oposisi Suriah membuat sangat banyak rekaman video amatir dan disebarluaskan di internet. Para blogger antiperang pun memberikan ‘serangan’ balasan. Informasi bertaburan dan bersilangsengkarut. Ibarat menyusun puzzle, inilah puzzle yang terlihat rumit. Posisi masing-masing kepingannya sulit diidentifikasi.

Buku ini telah menyusun kepingan puzzle itu, supaya kita semua dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari konflik Suriah. Karena, kejelian dan kecerdasan dalam mencermati konflik akan menghindarkan bangsa Indonesia dari perang saudara atau konflik yang tak perlu.

Lihat Lainnya »