» Asia Pasifik dalam Pusaran Kekuatan-kekuatan Global » Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea » Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points » Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia » Berebut Kedaulatan Spratly, Memicu Ketegangan Baru di Asia Tenggara Pada Era Donald Trump
Join With Us at :

   Terpopuler
DAMPAK PERTIKAIAN GLOBAL: SIKAP POLITIK DAN REVOLUSI INDUSTRI DI INDONESIA (Sebuah Telaah Geopolitik)
Rusia Tawarkan Rudal S-300 Tuk Rontokkan Pesawat Australia
Dibalik Pedasnya, Cabe Memiliki Manfaat bagi Kesehatan
Beberapa Alasan Strategis Kesiapsiagaan Perang Rusia Untuk Mempertahankan Crimea dan Beberapa Wilayah Perbatasan Ukraina
Sistem Pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia -Bagian 4
Makna Strategis Kunjungan Presiden Putin Ke Indonesia
Cermati Tiga Kekuatan Militer Baru di Asia Pasifik: Cina, Jepang dan India
Mengintip Kekuatan Angkatan Bersenjata Amerika dan NATO
Mengawasi Asia Tenggara Lewat Indonesia
Perbandingan Kekuatan Militer Korea Selatan Versus Korea Utara
Read More »

Jejak Pendapat
Benarkah perseteruan sengketa Laut Cina Selatan menjadi pemicu bergesernya konflik global Amerika Serikat versus Cina-Rusia ke Asia Tenggara?
Sangat Benar
Benar
Tidak Benar
Tidak Tahu
   


Links

Departemen Luar Negeri RI
PBNU
IRIB
Kajian Timur Tengah
Magister HI Unpad
World Future Online
KASKUS-The Largest Indonesian Community
Penerbit ImtiyaZ
Seminar Kapitulasi Jepang
Bayt al-Hikmah Institute
Global Research
Indopetronews

Intelijen
30-01-2015
Dubes AS Temui SBY di Cikeas, Tanda Jokowi Tak Lagi Dipercaya?

Pada Rabu (28/01/2015), ketika situasi sosial-politik di Tanah Air sedang kisruh, mantan Ibu Negara Ani Yudhoyono lewat akun Instangram-nya mengunggah foto kedatangan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, HE Robert O Blake, ke Cikeas. Dalam keterangan foto itu, Ani Yudhoyono menulis kedatangan Blake untuk menjaga persahabatan kedua bangsa.


08-01-2015
Jokowi: 343 Media Massa Dipantau Intelijen
Presiden Joko Widodo mengingatkan jajarannya dalam Kabinet Kerja agar dalam bekerja juga memperhatikan sorotan media massa. Menurutnya sudut pandang media massa melalui pemberitaan akan mempengaruhi persepsi masyarakat.

05-12-2014
Perlu Kepala BIN Ultra-Nasionalis, Profesional dan Non-Parpol

Entah kenapa, pengunjung warung kopi Mas Kampret kini ramai bicara soal intelejen, masalah pelik yang sulit dipahami kaum awam. Bahkan kaum intelektual pun belakangan ini juga geleng-geleng kepala melihat gejala dan tingkah laku lucu badan intelejen maupun orang-orang yang mengaku sebagai anggota intel.


17-11-2014
Sekolah Manajemen dan Analisis Intelijen Angkatan I
Panglima TNI Ingin Cetak Master Intelijen Hebat dan Diakui Dunia

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko berkeinginan mencetak Perwira TNI sebagai Master Intelijen yang memiliki kemampuan hebat dan diakui dunia. Hal tersebut disampaikan Panglima TNI saat membuka Sekolah Manajemen dan Analisis Intelijen angkatan pertama di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (17/11/2014).


13-11-2014
Menjaring Calon Kepala BIN
“Dalam menjaring calon Kepala Badan Intelijen Negara yang mumpuni,  salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan adalah kemampuan calon tersebut untuk mengelola ranah senyap dan tidak ember”,  kata Susaningtyas, Pengamat Intelijen.

12-11-2014
Sipil Sanggup Menjadi Kepala BIN?

Sampai saat ini Presiden Jokowi belum menunjuk Kepala Badan Intelejen Negara (BIN). Masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan sipil, ormas dan kepemudaan berharap Presiden Jokowi dapat menunjuk sosok kepala BIN, yang mampu mengubah citra BIN. Dalam konteks ini, Kepala BIN yang berasal dari kalangan sipil dapat menjadi terobosan penting untuk mengkondisikan BIN dengan melakukan pendekatan human intelijen. Sebab, jika kepala BIN dari kalangan sipil yang memimpin, BIN tidak lagi menakutkan rakyat, justru bisa memberi rasa aman kepada negara dan rakyatnya. Sebagai contoh sederhana, para teroris, kaum sparatis, dan penganut ideologi selain Pancasila yang sudah tertangkap maupun yang dalam pengejaran aparat, tidak bisa serta merta dilakukan tindakan kekerasan terhadap mereka. Tetapi mereka juga harus diberi fasilitasi oleh negara untuk memperoleh pekerjaan yang layak demi menghidupi keluarganya.


12-11-2014
Menyigi Kursi Pejaten Satu?

Tarik-menarik yang cukup panjang di dalam Pemerintahan Jokowi - JK dalam menentukan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) tampaknya sedemikian rumit dan sulit. Pemimpin yang baik itu bukan pemimpin yang menyenangkan semua pihak melainkan yang mampu mengambil keputusan yang cepat, tegas dan tepat.


18-08-2014
Petunjuk Baru, Perancis Terlibat dalam Konflik Papua

Dua jurnalis asing asal Perancis, yaitu Thomas Charles Tendies (40) yang bekerja di ARTE Televisi Perancis dan Louise Marie Valentine Burort yang bekerja sebagai salah satu Jurnalis di Media Online Perancis tertangkap tangan melakukan karya jurnalistik di Papua menggunakan paspor turis. Keduanya diitangkap aparat Polres Jayawijaya (7/8/2014) di sebuah hotel di Wamena, bersama tiga anggota OPM (Organisasi Papua Merdeka) berinisial JW, 24 tahun, LK (17), dan DD (27) yang diketahui sebagai anak buah Puron Wenda dan Enden Wanimbo yang beroperasi di wilayah Lanny Jaya.


22-07-2014
Satu dari Empat Diduga Agen CIA Diketahui Membawa Senpi

Empat orang warga negara asing (WNA) berkewarganegaraan Amerika Serikat diketahui masih berada di Provinsi Aceh. Informasi dari sumber Aktual.co menyebutkan keempatnya diketahui merupakan rombongan mantan presiden Amerika Serikat Bill Clinton yang melakukan kunjungan ke Aceh pekan lalu. Namun, ke empatnya tidak ikut kembali dengan rombongan ke Singapura.


07-07-2014
Pemilu Indonesia 2014
Apa yang Salah dengan BIN?
PEMILIHAN presiden (Pilpres) yang digelar 9 Juli mendatang, banyak isu diangkat kepermukaan. Mulai dari tudingan yang ditujukan ke pasangan capres-cawapres hingga tudingan ke lembaga negara hingga kementerian. 



PREVIOUS   1234567   NEXT


Advance Search

   Isu Hangat »
Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia
Pada 2014 lalu, Global Future Institute sempat menyorot secara khusus etnis Tatar yang bermukim di Crimea. Waktu itu, beberapa tokoh etnis Tatar dari seluruh dunia berkumpul ...

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Dalam Konflik Luat Cina Selatan, Indonesia Mampu Memainkan Peran Sebagai The Honest Broker (Penengah Yang Jujur)

Menghidupkan Kembali WE FEELING Afrika Kepada Indonesia Dalam Rangka Mengaktualisasikan Kembali Politik Luar Negeri RI Yang Bebas-Aktif

Perlu Mempertimbangkan Rusia Sebagai Sekutu Strategis Indonesia Dalam Mengaktualisasikan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif

Lihat lainya »
   Arsip
Titik-Titik Strategis dan Kritis atas Takdir Geopolitik Indonesia yang Harus Disikapi

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Uji Coba Rudal Jarak Menengah Korea Utara Semakin Meningkatkan Eskalasi Konflik di Semenanjung Korea

Geoposisi Silang dan Fee pada Choke Points

Tiga Negara Ajukan Pertemuan Darurat untuk Bahas Rudal Balistik Korut

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Benarkah Kebebasan Pers Makin Memburuk?

Menyimak Konflik Sosial di Indonesia

Menjaga dan Merawat Kerukunan Beragama di Papua

Membendung Radikalisme dan Mempertahankan Keutuhan NKRI

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »