» Zijin Mining Group Company Limited, Perusahaan Cina Yang Siap Mengambil Alih Freeport Indonesia? » Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah » Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh? » Turki Kembali Mempolitisasi Islam dan Isu Tatar Untuk Kepentingan Ukraina » Indonesia Harus Desak Dewan Keamanan PBB Mengusut Serangan Rudal AS ke Pangkalan Udara Shayrat, Suriah
Join With Us at :

   Terpopuler
DAMPAK PERTIKAIAN GLOBAL: SIKAP POLITIK DAN REVOLUSI INDUSTRI DI INDONESIA (Sebuah Telaah Geopolitik)
Rusia Tawarkan Rudal S-300 Tuk Rontokkan Pesawat Australia
Dibalik Pedasnya, Cabe Memiliki Manfaat bagi Kesehatan
Beberapa Alasan Strategis Kesiapsiagaan Perang Rusia Untuk Mempertahankan Crimea dan Beberapa Wilayah Perbatasan Ukraina
Sistem Pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia -Bagian 4
Makna Strategis Kunjungan Presiden Putin Ke Indonesia
Cermati Tiga Kekuatan Militer Baru di Asia Pasifik: Cina, Jepang dan India
Mengintip Kekuatan Angkatan Bersenjata Amerika dan NATO
Mengawasi Asia Tenggara Lewat Indonesia
Perbandingan Kekuatan Militer Korea Selatan Versus Korea Utara
Read More »

Jejak Pendapat
Benarkah perseteruan sengketa Laut Cina Selatan menjadi pemicu bergesernya konflik global Amerika Serikat versus Cina-Rusia ke Asia Tenggara?
Sangat Benar
Benar
Tidak Benar
Tidak Tahu
   


Links

Departemen Luar Negeri RI
PBNU
IRIB
Kajian Timur Tengah
Magister HI Unpad
World Future Online
KASKUS-The Largest Indonesian Community
Penerbit ImtiyaZ
Seminar Kapitulasi Jepang
Bayt al-Hikmah Institute
Global Research
Indopetronews

Analisis
10-04-2017
Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia
Dari perspektif asymmetric warfare atau peperangan nirmiliter, tudingan Trump ini istilahnya 'isu'. Trump lagi menabur isu. Kenapa? Karena usai isu ditabur, niscaya akan ada langkah terkait 'tema dan/atau agenda' serta 'skema' yang hendak didorong kemudian. Begitu urutannya: Isu - Tema - Skema. Pertanyaannya, "Apa tema berikutnya?" Ini yang mutlak didefinisikan, dianatomi, di-breakdown, dll. 

08-04-2017
Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan
Membandingkan warna dan kiprah rezim selama Indonesia merdeka sejak 17 Agustus 1945, cermatan sekilas penulis baik pada forum akademis, melalui media baik mainstream maupun nonmainstream, media sosial, ataupun di forum informal seperti cangkruk’an di warung kopi, dan sebagainya ada kecenderungan opini bahwa Orde Baru dianggap rezim paling tirani, brutal lagi otoriter dibanding dengan rezim-rezim lain. Betapa tidak, selama 30-an tahun berkuasa, ia memberangus kebebasan, menyeragamkan pemikiran, penembakan-penembakan misterius, ataupun mampu memenjarakan orang tanpa proses peradilan, dll. Inilah stigma buruk atas kiprah Orde Baru tempo doeloe. Pun sejatinya tak semuanya buruk, cuma sebagian masyarakat lupa, justru pada zaman Orde Baru kestabilan politik dan keamanan sangat terkendali, harga-harga terjangkau, swasembada pangan, pernah menjadi net oil exporter, bahkan nilai tukar dolar Amerika berkisar dua ribuan rupiah, dan lain-lain.

05-04-2017
Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida
Menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping di Florida Kamis dan Jumat mendatang, Program Nuklir dan Rudal Balistik antarbenuar Korea Utara nampaknya akan menjadi salah satu isu pembahasan yang cukup krusial  antara AS dan Cina. Berita terkini yang dilansir oleh BBC pada 5 April 2017, Korea Utara kembali meluncurkan rudal balistiknya ke Laut Jepang dari pelabuhan timurnya di Sinpo. Kementerian Pertahanan Korsel menyebut, rudal milik Korut tersebut terbang sekitar 60 km atau 40 mil. 
 

04-04-2017
Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Pendahuluan

Sebagaimana sudah diprediksi oleh kami dari Global Future Institute (GFI), eskalasi konflik di Semenanjung Korea antara Korea Utara dengan Korea Selatan semakin memanas dari waktu ke waktu. Merujuk pada serangkaian artikel yang kami tulis sebelumnya terkait krisis Korea, faktor pemantiknya antara lain adalah terkait Program Nuklir dan uji coba rudal balistik antar benua yang dilakukan oleh Korea Utara (Korut).


04-04-2017
Mengapa China Bersemangat Membangun Infrastruktur di Indonesia?

Sebelum kebijakan One Belt One Road (OBOR)-nya XI Jinping terbit, tak boleh dielak, embrionya adalah String of Pearls, yaitu strategi China guna mengamankan jalur ekspor-impornya terutama suplai energi (energy security) dari negara dan/atau kawasan asal hingga ke kawasan tujuan. Target jalur yang diincar ialah bentangan perairan dari pesisir Laut Cina Selatan, Selat Malaka, melintas Samudera Hindia, Laut Arab, Teluk Persia, dan lainnya sehingga bila dibaca dalam peta, terlihat seperti untaian mutiara atau gambar kalung (Pearls).


24-03-2017
Memberi Makna Baru tentang Motif Politik Di Balik Pembunuhan Presiden Panama Omar Torrijos
Waktu buka-buka lagi file lama di perpustakaan pribadi maupun di kantor tentang terbunuhnya Presiden Panama, Omar Torrijos pada 1981, ada perspektif baru di balik kematian Torrjos dalam kecelakaan pesawat terbang tersebut.

21-03-2017
Membaca Langkah Trump dari Perspektif The Power of Oil

Mungkin di Era Donald Trump, Pentagon bakal meninggalkan Military Roadmap-nya di Kawasan Jalur Sutra. Ini asumsi awal tulisan ini. Selanjutnya, singkat penjelasan perihal Military Roadmap ialah petualangan dan/atau peta jalan perang Amerika Serikat (AS) berupa penaklukan secara militer terhadap negara-negara di Jalur Sutra mulai dari Irak, Syria, Lebanon, Libya, Iran, Somalia dan Sudan. Itulah data yang terpampang di Pentagon sejak 1990-an, tulis Prof Michel Cossudovsky dari Central Reseach of Globalization, Kanada.


13-03-2017
Membaca IORA dari Sisi Lain Geopolitik

Hingga kapanpun. Lautan Hindia (Indian Ocean) akan terlihat sexy, terutama di mata pelayaran dunia. Kenapa? Tesis pakar kelautan Amerika Serikat (AS), Laksamana Alfred T. Mahan (1840-1914) yang konon telah menjadi doktrin Angkatan Laut (AL) AS menyatakan: "Siapa pun yang mencapai supremasi maritim di Lautan Hindia akan menjadi pemain (kunci) yang menonjol di kancah internasional."


10-03-2017
KTT IORA 2017
Indonesia dan Geopolitik Samudra Hindia

(Beberapa Catatan Penting Terkait KTT IORA 2017 di Jakarta)

Melepaskan Diri dari Belenggu Mata-Rantai The British Geopolitics

Meskipun Global Future Institute (GFI) menyambut baik keberhasilan Indonesia memprakarsai terselenggaranya sebuah pertemuan strategis antar negara-negara di kawasan Samudra Hindia,  Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara anggota Indian Ocean Rim Association atau Assosiasi Kerjasama Lingkar Samudra (IORA), dengan memanfaatkan momentum Program Poros Maritim Global yang dicanangkan Presiden Jokowi, namun ada hal yang penting yang kiranya  perlu disorot.  Khususnya ketika Selasa (07/03/2017) lalu Indonesia telah berhasil mendorong sebuah kesepakatan bersama dari seluruh anggota IORA yang bersifat strategis melalui sebuah kesepakatan yang disebut Jakarta Concord.

 


04-03-2017
Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Sebenarnya para olahragawan dan olahragawati yang “ketangkap basah” menggunakan doping, bukan hal baru terjadi di dunia olahraga. Ketika olahraga dewasa ini semakin erat kaitannya dengan prestise dan martabat bangsa dari negara-negara adikuasa, maka persoalan penggunaan doping sangat berpotensi untuk dijadikan alat politik.




PREVIOUS   1234567   NEXT


Advance Search

   Isu Hangat »
Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina
Dalam beberapa bulan belakangan ini, Presiden AS Donald Trump dengan sengaja membesar-besarkan ancaman senjata nuklir dan serangkaian uji coba rudal jarak menengah Korea Utara (Korut) meskipun ...

Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Lihat lainya »
   Arsip
Nahdha Project Iringi Naiknya Morsi Menjadi Presiden Mesir

Presiden Lantik 9 Pengarah dan Kepala UKP PIP

Beroperasinya Sistem Pertahanan Anti-Rudal THAAD AS di Korea Selatan Sebenarnya Ditujukan Terhadap Cina

Embargo dan Isolasi Qatar, Tahapan Awal Aksi Destabilisasi Inggris-AS di Timur Tengah

7 Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Qatar

Perdana Menteri Malaysia Resmikan Siaran TV Digital

KPK Tetapkan 6 Tersangka Kasus Suap DPRD Jatim

Kemana Isu Qatar Hendak Berlabuh?

Lima Negara Arab Putuskan Hubungan Diplomatik

Presiden Ajak Seluruh Elemen Bangsa Jaga Pancasila

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »