» Korut Sama Sekali Tidak Gentar Menghadapi Serangan Amerika Serikat » Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) » Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia » Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan » Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida
Join With Us at :

   Terpopuler
DAMPAK PERTIKAIAN GLOBAL: SIKAP POLITIK DAN REVOLUSI INDUSTRI DI INDONESIA (Sebuah Telaah Geopolitik)
Rusia Tawarkan Rudal S-300 Tuk Rontokkan Pesawat Australia
Dibalik Pedasnya, Cabe Memiliki Manfaat bagi Kesehatan
Beberapa Alasan Strategis Kesiapsiagaan Perang Rusia Untuk Mempertahankan Crimea dan Beberapa Wilayah Perbatasan Ukraina
Sistem Pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia -Bagian 4
Makna Strategis Kunjungan Presiden Putin Ke Indonesia
Cermati Tiga Kekuatan Militer Baru di Asia Pasifik: Cina, Jepang dan India
Mengintip Kekuatan Angkatan Bersenjata Amerika dan NATO
Mengawasi Asia Tenggara Lewat Indonesia
Perbandingan Kekuatan Militer Korea Selatan Versus Korea Utara
Read More »

Jejak Pendapat
Benarkah perseteruan sengketa Laut Cina Selatan menjadi pemicu bergesernya konflik global Amerika Serikat versus Cina-Rusia ke Asia Tenggara?
Sangat Benar
Benar
Tidak Benar
Tidak Tahu
   


Links

Departemen Luar Negeri RI
PBNU
IRIB
Kajian Timur Tengah
Magister HI Unpad
World Future Online
KASKUS-The Largest Indonesian Community
Penerbit ImtiyaZ
Seminar Kapitulasi Jepang
Bayt al-Hikmah Institute
Global Research
Indopetronews

Sosial Budaya
24-03-2016
Adji Subela, Cerpenis Betawi dari Ponorogo
TERLAHIR bukan sebagai orang Betawi, namun kecintaan dan ketertarikannya pada budaya dan tradisi Betawi tidak diragukan lagi. Bahkan, saking cintanya pada budaya penduduk asli Jakarta ini, mantan wartawan harian nasional ini menulis cerita pendek bergenre Betawi.
 
Cerpen-cerpen Betawinya dimuat di berbagai media nasional dan lokal, di antaranya Sinar Harapan, Waspada, Suara Karya, Terbit dan Majalah Idola.

24-03-2016
Pemerintah RI Menolak Melakukan Penelitian Mengenai Sejarah Agresi Belanda 1945-1950
Rekan-rekan yang budiman,
 
Saya forward ulang berita yang disampaikan oleh teman saya, sejarawati Belanda/Italia, Dr. Stef Scagliola, bulan Februari 2013. 
 
Dr. Stef Scagliola memberikan informasi, bahwa tiga lembaga penelitian sejarah terbesar di Belanda: NIOD (Nederlands Instituut voor Oorlogsdokumentatie/Institut Belanda untuk Dokumentasi Perang), KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde/Lembaga Kerajaan untuk Ilmu Bahasa, Negara dan Antropologi) dan NMH (Netherlands Institute for Military History) membuat proposal untuk melakukan penelitian yang sangat rinci mengenai berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia selama agresi militer Belanda antara tahun 1945 – 1950. Namun pemerintah Indonesia yang menolak.

08-03-2016
Geger Cina di Batavia

TAHUN 1730-1740-an terjadi pemberontakan orang-orang Cina di Batavia. Pada bukunya yang fenomenal, The History of Java, Thomas Stamford Raffles menyebutkan bahwa saat itu kota Batavia berada dalam tingkat kemakmuran yang sangat tinggi. Para pedagang berdatangan dari semua penjuru. Barang-barang yang diperdagangkan sangat melimpah. Hal ini mengundang kehadiran para budak.


24-02-2016
Rasialisme Anti-Tiong Hoa dan Percobaan Menjawabnya
Rasialisme anti-Tionghoa terbesar dan pertama kali terjadi pada 1740 jelas hasil permainan kekuasaan Kompeni alias VOC. Sumber-sumber otentik yang dipergunakan Jan Risconi dalam disertasinya Sja'ir Kompeni Welanda Berperang Dengan Tjina (1935) cukup jelas.
 
Sayang dissertasi yang membahas syair berbahasa Melayu aksara Arab ini ditulis dalam bahasa Belanda sehingga untuk masa sekarangan ini agak sulit menjadi sumber rujukan. Kasus 1740 adalah rasialiane anti Tionghoa dari pihak Kompeni, dari pihak kekuasaan orang Barat/Belanda.

22-02-2016
Sejarah Melayu
Menyatukan Bangsa Serumpun Melayu Nusantara yang Berserakan

Sebagian besar orang Jawa, Batak, Bali dan suku-suku lainnya di Indonesia tidak mengakui ataupun tidak menyadari bahwa dirinya sebenarya adalah bangsa Melayu. Mereka beranggapan bahwa Melayu itu hanya meliputi suku Melayu Banjar, Melayu Riau, Melayu Minang, Melayu Deli, Melayu Pontianak dan seterusnya. Padahal jelas sekali bahwa Jawa, Batak, Madura, Bali bahkan Papua Bagian Barat masuk dalam rumpun bangsa Melayu. Hanya katena entitas politik kesukuan dan diperparah oleh pecah belah kolonial belanda yang membuat kita yang serumpun ini menjadi asing sebagai satu rumpun Melayu Nusantara.


16-02-2016
Bahayanya Sindrom "Efek Lemming" Dalam Masyarakat Kita
Buat para pembaca surat kabar, pemirsa tv, maupun pendengar radio, sebaiknya mewaspadai kemungkinan jadi korban dari pengaruh psikologis yang dikenal sebagai "Efek Lemming."

15-02-2016
Membaca Teks Peradaban Besar Bangsa Nusantara (Bagian 4/Selesai)
5. Meruntuhkan Teori Klasik Cinaisasi dan Indianisasi
 
Selama ini para ahli telah lalai beranggapan bahwa budaya Asia Tenggara hanyalah cabang sekunder dari peradaban Asia daratan di Cina dan India. Pandangan yang cenderung meremehkan data-data kuno itu tentu secara tidak langsung telah menghilangkan khazanah kesejarahan suatu bangsa besar yang selama ini ditenggelamkan oleh feodalisme akademik.  

15-02-2016
Membaca Teks Peradaban Besar Bangsa Nusantara (Bagian 3)
4. Persebaran Budaya Nusantara di Afrika, Benua, Australia, Amerika, Arab, Vietnam dan Cina
 
Dalam cacatan Reid (2008), Oppenheimer (2010) yang diulas dari sumber data yang berlimpah sepakat menyebutkan bagaimana kapal-kapal bercadik orang-orang Nusantara dengan ilmu navigasi12 yang canggih dan didukung oleh tubuh yang kuat dengan perawakan langsing berisi dengan tatapan mata tajam, mereka orang-orang Nusantara tegar melawan badai dan ombak besar berlayar mengarungi ribuan mil samudera sehingga sampai menyentuh dan menjadi pemberi pengaruh primer dalam kebudayaan afrika yang dapat dilihat pada masa kini. Reid menyebutkan bahwa persebaran budaya tangible Nusantara terlihat dari penggunaan bahasa bantu yang  telah mencapai wilayah afrika Timur, Tengah, dan Selatan seperti di Kamerun, Mozambik, Uganda, Sudan Selatan, Somalia, Burundi, Kongo, Angola, Tanzania, Oman, Republik Afrika Tengah dan Afrika Selatan. Walaupun antara Reid dan Oppenheimer tidak bersintesis dalam penelitiannya terkait dengan bahasa Bantu tersebut namun keduanya menyepakati bahwa  bahasa bantu memiliki tipe bahasa aglutinatif sebagaimana bahasa-bahasa Nusantara, dimana bahasa tersebut berdiaspora secara masif sejak ribuan tahun yang lalu di Horn of Afrika

14-02-2016
Membaca Teks Peradaban Besar Bangsa Nusantara (Bagian 2)
2. Asal Bangsa Nusantara 
 
Terkait dengan tanah asal bangsa Nusantara terdapat beberapa pandangan atau perspektif dari berbagai kajian keilmuan. Beberapa pandangan tersebut berasal dari kajian linguistik, antropologi, arkeologi dan genetika atau bahkan pandangan gabungan dari dua kajian keilmuan seperti kajian antropolinguistik, genolinguistik, linguistik historis komparatif dll. 

14-02-2016
Peradaban Nusantara
Membaca Teks Peradaban Besar Bangsa Nusantara (Bagian 1)

Bangsa Nusantara adalah sebuah entitas sebuah bangsa besar yang telah eksis sejak puluhan ribu tahun yang lalu. Berdiam di sebuah wilayah yang dikenal dengan berbagai sebutan antara lain: Nusantara, Melayu, Austronesia/Polynesia. Bangsa Nusantara  dikenal sebagai pelaut tangguh dengan keahlian navigasi yang baik dan didukung oleh teknologi kapal yang canggih sehingga mampu menyentuh sebagian besar tanah Afrika, Amerika dan benua Oseania asumsi ini  didasarkan pada temuan unsur kesamaan bahasa bertipe aglutinatif yang tersebar di benua-benua tersebut. 

Kritik pedas datang dari Oppenheimer (2010) terkait subordinasi Nusantara oleh Cina dan India, ia menilai bahwa para ahli selama ini telah lalai menganggap bahwa budaya Asia Tenggara hanyalah cabang sekunder dari peradaban Asia daratan di Cina dan India. Pandangan yang cenderung meremehkan data-data kuno itu tentu telah menghilangkan khazanah kesejarahan suatu bangsa besar yang selama ini ditenggelamkan oleh feodalisme akademik.  




PREVIOUS   12345678910   NEXT


Advance Search

   Isu Hangat »
Waspadai Ukraina Mempolitisasi Etnis Muslim Tatar di Forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI)
Pada 25 April 2017 forum Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Organization of Islamic Cooperation (OIC) akan menyelenggarakan Senior Official Meeting (SOM) membahas aplikasi Ukraina untuk menempatkan ...

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Laporan Penggunaan Doping Olahragawan Kelas Dunia Berpotensi Dijadikan Alat Politik untuk Menghancurkan Reputasi Olahrawan Negara Pesaing

Etnis Tatar Tetap Dimainkan Negara-Negara Blok Barat untuk Aksi Destabilisasi terhadap Rusia

Kalau ASEAN Satu Misi dan Satu Suara, Bisa Mengalahkan Amerika Serikat dan Eropa

Merevitalisasi Peran Aktif Indonesia di Forum OKI Sebagai Mediator Berbagai Konflik yang Terjadi di Timur-Tengah dan Negara-Negara Lain

Lihat lainya »
   Arsip
Ini Sikap AS Terkait Serangan Ke Suriah

China Kembalikan Batu Bara asal Korea Utara

Malala Utusan Perdamaian PBB untuk Pendidikan Perempuan

Membaca "Tudingan Curang"-nya Trump terhadap Indonesia

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Plutokrasi: Tirani akan Menimbulkan Perlawanan

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Program Nuklir Korea Utara Akan Jadi Perang Diplomasi Antara Presiden Trump dan Presiden Jinping di Florida

Panglima TNI: Generasi Penerus TNI Harus Sensitif Terhadap Isu Global

Reunifikasi Menuju Penyelesaian Krisis Korea Harus Melibatkan Enam Negara (Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Rusia dan Jepang)

Lihat lainya »
   Bedah Buku
Pengarang :
Isu-isu Sensitif Diletupkan Supaya Negara-negara Imperialis Bebas Mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia

Judul:
Perang Asimetris dan Skema Penajajahan Gaya Baru
Penulis:
M. Arief Pranoto dan Hendrajit
Penerbit:
Global Future Institute
Cetakan:
I, Desember 2016
Tebal Buku: 234 Halaman

Lihat Lainnya »