“Salam Maria” Trump Mimpi Buruk Sang Arsitek Keamanan Nasional AS

Bagikan artikel ini

Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton membuat “proyek” AS di Timur Tengah mencoba dan menyelamatkan apa yang tersisa dari rencana jangka panjangnya untuk membalkanisasi Suriah dan menggulingkan Presiden Bashar al-Assad setelah penarikan pasukan oleh Presiden Trump.

Apa yang bermula sebagai Salam Maria politik untuk Trump telah menjelma menjadi semacam medan kebijakan luar negeri Bolton dan para neokonservatif pendukung perang yang ia jadikan sebagai ujung tombaknya.

Bolton pertama kali bertemu sesama penjahat perang Benjamin Netanyahu untuk mengumumkan kondisi mereka di mana pasukan AS akan meninggalkan Suriah. Pasukan Demokrat Suriah (SDF), yang telah menjadi kekuatan proksi AS dalam mengamankan bagian Suriah Timur Sungai Eufrat untuk Rencana Masa Depan harus berhadap-hadapan dengan Irak dan Iran.

AS dengan menarik pasukan dari Suriah adalah satu-satunya tempat yang mustahil untuk ditempatkan di Turki, yang tidak bisa lagi menjamin kelangsungan hidup Kurdi dari perjanjian Minsk II di Ukraina.

Ini adalah satu kebohongan besar lagi oleh kelompok neo konservatif seperti Bolton yang membeo sejak pengumuman Trump. Mereka putus asa untuk meyakinkan bahwa misi mereka di Suriah adalah misi kemanusiaan. Suku Kurdi adalah casus belli mereka saat itu, yang dirancang demi tujuan melakukakn intervensi.

Sejak pengumuman Trump, kami memiliki gagasan bahwa Turki akan datang dan membantai setiap Kurdi di Suriah jika AS menarik diri. Ini adalah pernyataan Pompeo kepada juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki Hami Aksoy yang balik mengatakan bahwa Pompeo menunjukkan “kurangnya pengetahuan yang mengkhawatirkan” tentang situasi di Suriah, karena Turki saat ini menampung lebih dari 300.000 pengungsi Kurdi Suriah dari pertempuran yang gelorakan AS.

Ini adalah kelanjutan dari cerita yang benar-benar terbantahkan dan salah bahwa Assad adalah seorang jagal, Putin hanya ada di sana untuk saluran pipa gas dan Amerika sebenarnya melawan ISIS.

ISIS, kelompok teroris yang memang dipersenjatai membantu AS untuk menggulingkan presiden Assad.

Kami berada di sana karena alasan kemanusiaan, dengan cara yang sama kami mendukung perang Saudi di Yaman, mempertahankan zona larangan terbang, sementara orang-orang yang tinggal di sana kelaparan.

Dan semua yang dipikirkan atau dipedulikan John Bolton hanyalah teori Kekuatan Besar dan cara menghancurkan Heartland sebagaimana didefinisikan oleh Makinder seabad yang lalu.

Sementara di sisi yang lain, rencana Bolton tentang Iran tidak pernah benar-benar berlaku di Pentagon, di mana para pejabat tidak secara resmi ditugaskan dengan misi baru selain operasi melawan Negara Islam tersebut. Para pejabat militer juga melihat ekspansi Iran ke Suriah sebagai masalah, tetapi mereka skeptis tentang kurangnya pembenaran hukum yang jelas yang akan diperlukan untuk tindakan militer ofensif terhadap pasukan yang didukung Iran.

Namun, yang patut menjadi catatan di sini terkait penarikan pasukan AS dari Suriah adalah bahwa Trump tidak menentang operasi Suriah dan tidak mendapatkan untung atas investasi untuk Amerika. Jadi, hanya pada neraca laba dan rugi yang ada dalam pikiran Trump dan merasa buntung sehingga misi Suriah AS dinilainya sia-sia dan karenanya pasukan bisa ditarik dari negara tersebut.

Namun Trump bisa menggunakan cara lain, seperti sanksi dan ancaman bagi sekutu, seperti Iran demi kepentingannya di Timur Tengah bersama Israel dengan membongkar posisi Iran di Asia Tengah.

Tapi, itu adalah fantasi seperti rencana psychedelic Skyton-Picton milik Bolton. Karena cukup jelas bagi siapa pun yang mengamati situasi ini bahwa koalisi Pro-Suriah – Rusia, Iran, Hizbullah dan Cina – hanya menjalankan permainan gesekan terhadap Bolton dan Pompeo juga Netanyahu.

Solusinya menjadi fokus. Turki tidak dapat memenuhi janjinya kepada Rusia atas situasi di Idleb, membatalkan perjanjian di antara mereka karena zona demiliterisasi telah gagal.

Israel tidak bisa lagi secara efektif menyerang Suriah dan harus menggunakan serangan pengecut menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia. Dan AS tidak bisa lagi mempertahankan posisinya di al-Hasakah dan Deir Ezzor jika SDF mengusir mereka pergi.

Entah bagaimana, John Bolton berpikir bahwa 2000 orang tidak hanya bisa mengukir Kurdistan yang didukung AS secara permanen dengan penerimaan Turki di sepanjang perbatasannya dengan Suriah, memaksa semua pasukan Iran dan dukungan dari Suriah dan menggulingkan Assad.

Bolton berkeliling Timur Tengah dan hanya menemukan Israel sementara semua orang memandangnya seperti, “Buddy”, si tua yang berusia 70-an. Kumisnya sudah ketinggalan zaman seperti pandangannya tentang peran Amerika di Timur Tengah. Sayangnya, Trump tidak dalam posisi politis untuk memecatnya.

Sudarto Murtaufiq, peneliti senior Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments