Serangan AS ke Iran, Bakal Menyulut Api Peperangan ke Seluruh Kawasan Timur-Tengah

Bagikan artikel ini

Ditembak jatunhya pesawat siluman AS Drone RQ-4 Global Hawk yang harga per unitnya sebesar 176 juta dolar AS, bukan sekadar memalukan reputasi AS sebagai negara adikuasa di bidang industri dan teknologi. Tapi juga menunjukkan kedigdayaan kemampuan militer Iran yang selama ini dianggap enteng oleh negara-negara besar. Setelah berhasil merontokkan pesawat Drone AS itu, Iran semakin diperhitungkan di kawasan Timur-Tengah dan kawasan Teluk.

Lebih daripada itu, faksi garis keras Gedung Putih yang dimotori oleh penasehat keamanan nasional John Bolton dan menteri luar negeri Mike Pompeo, nampaknya sangat terkejut dengan keberanian Iran menembak jatuh pesawat Drone AS tersebut. Sebab hal itu memperlihatkan kesiapsiagaan Iran untuk menghadapi kemungkinan terburuk, yaitu kemungkinan pecah perang  militer terbuka dengan AS. Bukan tidak mungkin, ditembaknya pesawat Drone AS itu, karena Iran mengetahui misi rahasia penerbangan Drone itu untuk tujuan operasi intelijen. Sebagai langkah pendahuluan jika pada akhirnya nanti AS terpaksa menerapkan opsi serangan militer ke Iran, jika skenario sanksi ekonomi dan tekanan diplomatik AS gagal memnaksa Iran melucuti program senjata nuklirnya.

Secara simbolik, pesawat tempur siluman Drone RQ-4 Global Hawk, memang aset strategis kebanggaan Pentagon. Melebihi pesawat tempur jenis F-35A yang hargannya hanya sebesar 89 juta dolar AS. Jauh lebih murah daripada Drone AS tersebut.

Tentu saja bukan soal perbedaan harga yang bikin reputasi kedigdayaan teknologi militer AS jatuh berkeping-keping. Lebih dari itu, pemerintahan Presiden Donald Trump jadi mikir dua kali, apakah kebijakan agresif kepada Iran baik melalui tekanan maksimum melalui jalur diplomasi maupun sanksi ekonom akhirnya akan berhasil memaksa Iran tunduki. Dan kalau tidak mau tunduk, sehingga  pada perkembangannya kemudian AS akan memilih opsi perang militer terhadap Iran, akhirnya akan dimenangkan AS?

Padahal, jika kita cermati sebelum terjadinya insiden penembakan terhadap Drone AS itu, Presiden Trump menerapkan strategi memaksa Iran menaati perjanjian senjata nuklir dengan ancaman akan dikenakan sanksi ekonomi. Dan kemungkinan aksi militer secara langsung ke Iran seperti ketika AS menginvasi Afghanistan pada 2001 atau Irak pada 2003.

Namun ditembak jatuhnya pesawat Drone AS itu oleh Iran, skenario ini sepertinya gagal total. Bahkan ketika  sempat beredar kabar adanya rencana persiapan serangan militer balasan AS ke Iran sebagai reaksi terhadap penembakan Drone AS, namun akhirnya serangan itupun  dibatalkan oleh Presiden Trump.

Menurut analisis Salman Rafi Sheikh, research-analyst of International Relations and Pakistan’s foreign and domestic affairs, dalam artikelnya berjudul:

The US got Itself Caught in the Gulf ,

nampaknya Washington pelan-pelan mulai menyadari bahwa implikasi serangan AS ke Iran, bisa lebih berbahaya daripada ketika AS menyerang Afghanistan dan Irak. Sehingga pada perkembangannya serangan AS ke Iran malah bisa membangkitkan kekuatan-kekuatan yang mana AS tidak sanggup mengendalikannya.

Selain itu, serangan AS ke Iran pada perkembangannya telah memicu kekhawatiran sekutu-sekutu AS di negara-negara Timur-Tengah. Ditembak jatunya pesawat Drone AS, Iran juga telah menyampaikan pesan tersirat kepada salah satu negara sekutu AS di Timur-Tengah, yaitu Uni Emirat Arab. Bahwa sebelum ditembak jatuh jatuh oleh Iran, pesawat Drone AS itu lepas landas dari Uni Emirat Arab.

Uni Emirat Arab menyadari betul, jika pecah perang AS versus Iran, Uni Emirat Arab berada dalam radar jarak tembak peluru kendali Iran.

Memang benar bahwa Iran sama sekali tidak mengancam Uni Emirat Arab. Namun Sekretaris Jenderal Hizbollah Hasan Nasrullah, menegaskan dalam salah satu pidatonya,  bahwa jika perang AS-Iran meletus, tidak hanya berada di lingkup wilayah Iran saja, melainkan akan menyulut api peperangan ke seluruh kawasan Timur-Tengah.

Alhasil, seluruh kekuatan dan kepentingan strategis AS di Timur-Tengah, akan hancur berantakan. Termasuk jaringan Yahudi di Israel dan kroni-kroni kerajaan Arab Saudi.

Adapun di Uni Emirat Arab itu sendiri, semua fasilitas minyak dan gas, termasuk infrastrukturnya akan menjadi target utama untuk dihancurkan jika AS bersikeras untuk melancarkan agresi militer kepada Iran. Hal ini masuk akal, karena selama ini dan hingga kini, wilayah territorial Uni Emirat Arab merupakan basis operasi dan pangkalan militer AS di Timur-Tengah.

Menurut berita yang dilansir oleh Jerusalem Post, di ring satu Gedung Putih sepertinya mulai menyadari bahwa keputusan Presiden Trump membatalkan secara sepihak perjanjian nuklir AS-Iran yang ditandatangani semasa pemerintahan Obama dan pemerintahan Rouhani di Iran, pada perkembangannya malah memotivasi Iran untuk menyerang pasukan AS dan kepentingan negara Paman Sam di Timur-Tengah.

Dengan demikian, apa yang kemudian digulirkan isu sebagai Ancaman Iran di kawasan Teluk, sejatinya dipicu oleh penghentian sepihak perjanjian senjata nuklir Iran semasa pemerintahan Obama, oleh pemerintahan Trump.

Yang lebih krusial lagi, strategi Trump melalui kombinasi sanksi ekonomi dan tekanan diplomatik, yang dimaksudkan untuk cipta kondisi menuju pergolakan politik di dalam negeri Iran, ternyata gagal total. Selain itu, Iran juga menolak tunduk pada tekanan diplomatik AS  melalui meja perundingan maupun melalui sanksi ekonomi.

Sialnya lagi , Trump juga tidak mau memilih opsi menyerang Iran sebagaimana saran dari para penasehatnya yang berhaluan keras dan maniak perang seperti John Bolton dan Mike Pompeo. Trump menyadari betul jika dalam kampanye presiden pada 2020 nanti, rakyat AS memandang dirinya sebagai calon presiden yang dikelilingi orang-orang yang maniak perang.Kesimpulannya, melalui serangan terhadap Drone AS, Iran berhasil mematikan kartu truf Presiden Trumnp.

Dioolah dari situs :

https://journal-neo.org/2019/06/24/the-u-s-is-self-embarrassingly-caught-in-the-gulf/ 

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments