AS Siap Serang Iran Agustus Ini?

Bagikan artikel ini

SUMBER BERITA: US Ready to Strike Iran in August

ABC Australia melansir sebuah berita yang cukup mengejutkan. Pasukan AS akan segera menyerang fasilitas-fasilitas senjata nuklir Iran pada Agustus mendatang. Bahkan Inggris dan Australia secara aktif terlibat dalam operasi intelijen mengindentikasi target-target yang akan jadi sasaran serangan militer AS.

 

Memang hubungan bilateral AS dan Iran semakin memanas dan genting menyusul ancaman Iran untuk memblokade Selat Hormuz pada awal Juli lalu.

 

Apalagi melalui twitter-nya, Presiden AS Donald J Trump mengancam akan merespon melalui secara kekerasan jika Iran tidak menghentikan retorika anti permusuhan dan anti AS.

 

Niat Iran untuk memblokade Selat Hormuz memang bisa menghancurkan kepentingan-kepentingan strategis AS dan sekutu-sekutunya. Meskipun pada saat yang sama menguntungkan para produsen minyak dan gas, karena harganya pasti akan semakin meroket.

Lebih celakanya lagi, jika Selat Hormuz diblokde Iran, pasokan minyak dan gas ke AS dan Eropa akan terganggu, karena 20 persen pengiriman harus melewati Selat Hormuz. Apalagi 50 persen import minyak dan gas berasal dari Teluk Persia.

 

Pada sisi lain, blockade terhadap Selat Hormuz juga akan menghantam perekonomian Cina, sehingga berpotensi terjadinya resesi ekonomi.

 

Laporan ABC Australia bisa jadi benar kalau menelisik kesejarahan yang sama pada 1953, ketika AS dan Inggris melalui sebuah operasi intelijen, berhasil menggulingkan Perdana Menteri Mossaddegh karena bermaksud menasionalisasi perusahaan minyak Inggris British Petroleum. Bedanya kali ini AS akan menggunakan serangan militer untuk menjatuhkan pemerintahan Republik Islam Iran yang mulai berkuasa sejak 1979.

 

Apalagi Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo beberapa waktu lalu menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan Iran yang berkuasa saat ini.

 Will Next Steps on Iran Point towards a New ‘Big Three’ or World War III?

Namun menurut beberapa perhitungan strategis,AS tidak akan semudah menyerang Irak dan Afghanistan. Angkatan Darat dan Marinir AS tidak akan begitu saja dengan gampang memasuki wilayah kedaulatan Iran dan menguasai infrastruktur-infrasturkut vital yang menjadi target utama serangan AS.

 

Besar kemungkinan AS lebih memprioritaskan untuk menguasai Selat Hormuz seraya menguasai daerah-daerah perbatasan antara Iran dan Irak. Dan melumpuhkan gudang-gudang persenjataan nuklir Iran. Juga melumpuhkan angkatan udaranya dan pusat-pusat komando angkatan bersenjata Iran.

 

The Madness Gripping Washington

 

 

 

Dalam skenario serangan AS ke Iran ini, pangkalan militer Arab Saudi dan Uni Emirat Arab besar kemungkinan akan digunakan Angkatan Udara AS. Beberapa pesawat pembom B-2 akan didatangkan dari Diego Garcia.

 

Namun demikian, serangan militer yang bertumpu pada angkatan udara, menurut perhitungan AS belum tentu bisa mencapai apa yang jadi sasaran strategis dari serangan tersebut, yaitu mengganti pemerintahan Republik Islam Iran. Apa yang disebut sebagai Specia Operation Forces (SOF) mungkin saja bisa melumpuhkan pasokan sistem pertahanan udara S-300 dari Rusia, maupun fasilitas-fasilitas nuklir Iran. Namun secara geografis sama sekali tidak berpihak pada tentara AS sebagai pihak penyerang. AS harus mengandalkan Israel dalam melancarkan operasi intelijen/rahasia(Covert Operations).

 

Perang urat syaraf(Information Warfare) yang dilancarkan untuk mendorong timbulnya perlawanan berbagai elemen masyarakat Iran, nampaknya yang lebih dibutuhkan pemerintah AS saat ini. Dan operasi intelijen ini nampaknya saat ini sedang berlangsung.

 

Mei lalu, AS dan Israel membentuk satuan tugas dengan misi untuk mengumandangkan tekanan terhadap Iran. Khuzestan, salah satu provinsi di Iran yang mayoritas penduduknya adalah Islam Shia berkebangsaan Arab, telah dijadikan sasaran utama propaganda anti pemerintah Iran. Khuzestan merupakan daerah penghasil minyak utama yang terpisah dari daerah-daerah Iran lainnya, karena dipisahkan oleh pegunungan Zagros.

 

Dalam perhitungan strategis AS, menguasai provinsi Khuzestan yang merupakan jantung perekonomian Iran, maka tentara AS tidak perlu menguawsai daerah-daerah Iran lainnya. Namun bagaimanapun juga dalam prakteknya serangan militer ke wilayah ini pun tak semudah dibayangkan.

 

Lagi pula, tidak gampang juga untuk meyakinkan warga masyarakat Khuzestan bahwa mereka membutuhkan bantuan AS untuk perbaikan taraf kehidupannya.

 

Selain Arab Shia Iran di Khuzestan, suku Kurdi Iran juga jadi sasaran propaganda anti pemerintah Iran yang dilancarkan AS. Apalagi suku Kurdi Iran ini bermukim di daerah berbatasan dengan Irak. Caranya dengan mengeksploitasi memburuknya perekonomian Iran sebagai prakondisi untuk membangun rasa ketidakpuasan yang meluas di kalangan masyarakat.

 

Itulah sasaran strategis AS di balik kebijakan embargo dan sanksi ekonomi kepada Iran. Yaitu menciptakan prakondisi menuju ketidakpuasan sosial yang meluas di dalam negeri Iran.

 

Namun seperti pemaparan awal tadi, SOF yang mengandalkan serangan udara ke Iran, Suriah bakal menjadi medan tempur darat yang cukup sengit. Sehingga bisa membuat serangan AS malah menimbulkan komplikasi. Sebab bukan tidak mungkin kekuatan-kekuatan pro Iran di Irak akan ikut melancarkan serangan balasan terhadap tentara AS.

 

Dengan kata lain, Perang Proxy yang melibatkan kekuatan-kekuatan militer pro Iran di negara-neara lain di luar Iran, pada perkembangannya akan menguntungkan Iran. Menjadi kredit poin buat Iran.

 

Jika benar-benar serangan Iran pada Agustus mendatang jadi sebuah kenyataan, lantas apa sasaran strategis AS sesungguhnya? Bisa jadi sasaran sesunggunya adalah untuk mengondisikan serangan Suriah dengan dalih untuk menyerang Iran. Sehingga diharapkan akan melumpuhkan pemerintahan Suriah pimpinan Presiden Bashar al-Assad tanpa harus mengambil resiko terjadinya benturan bersenjata dengan Rusia.

 

Nampaknya pemerintahan AS di Washington tidak punya niat untuk menciptakan stabilitas dan perdamaian di Suriah dengan Presiden Assad. Maka menyerang kekuatan-kekuatan militer Iran di Suriah menjadi opsi satu-satunya untuk menggagalkan proses perundingan damai yang saat ini sedang berlangsung. Seraya menggagalkan prakarsa Rusia dalam memimpin proses perdamaian di Astana yang bermuara pada terciptanya perdamaian di Suriah namun tetap mempertahankan pemerintahan Assad.

 

Agustus 2018 nampaknya akan menjadi bulan yang paling panas dan genting di tahun 2018.  

 

 

 

 

Facebook Comments