Siapa Menabur Ideologi Terorisme?

Bagikan artikel ini

M Arief Pranoto, Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan Global Future Institute (GFI)

Telaah Singkat Geopolitik

Bila agama (samawi) itu dianalogikan pohon yang akarnya menjulang ke langit, dan tak akan roboh ditiup badai sekencang apapun, maka terorisme ibarat pohon yang akarnya tertancap di bumi. Artinya, ia (terorisme) bisa tumbang bahkan tercerabut bila diterpa angin puyuh.

Memang tidak elok dan kurang pantas membandingkan antara agama dan terorisme, kendati “ruh”-nya serupa tetapi tak sama yaitu “keyakinan.” Ibarat rel kereta api di awal pararel, namun di ujung keduanya justru berpisah dan bertolakan. Ya. Seperti juga perbandingan ilmu tauhid dan sihir. Sekilas terlihat sama tetapi sejatinya bertolak-belakang.

Sekali lagi, tak pantas menyandingkan antara agama dan terorisme. Pada catatan ini, penulis hanya ingin menekankan bahwa nilai-nilai agama itu ajaran langit berasal dari Tuhannya, sedang teroris sebagai ideologi adalah ajaran bumi. Hasil buah (cipta) pikir manusia.

Jadi, menanggulangi terorisme jangan cuma diberantas atau dicabut hingga ke akarnya saja, ia akan tumbuh dan tumbuh lagi karena basisnya memang bumi, tetapi yang lebih urgen justru harus ditelusuri, dicari dan selanjutnya ditemukan si penanam dan/atau penabur ideologi tersebut. Lalu dimusnahkan! Kenapa begitu, sebab aksi-aksi terorisme selama ini senantiasa dikaitkan bahkan dituduhkan sebagai ajaran agama tertentu. Atau distigmakan memiliki irisan dengan kelompok atau komunitas tertentu dalam koridor agama (Islam). Siapapun orang, golongan, kelompok, dan lain-lain apapun agamanya, tak akan rela, geram — bahkan marah bila agama (ajaran Tuhan)-nya dikaitkan dengan aksi terorisme yang cenderung biadab. Mengutip pendapat Robert Pape, pakar terorisme Amerika, “Hubungan antara terorisme bunuh diri dan fundamentalis Islam sangat kecil, atau dengan agama manapun. Semua serangan teroris bunuh diri adalah bagian dari strategi sekuler untuk mencapai tujuan”.

Nah, poin yang boleh diambil atas statement Pape adalah, bahwa: “Terorisme merupakan bagian dari strategi sekuler”. Titik.

Maka deradikalisasi oleh negara cq aparat yang berkompeten selama ini, selain potret dari kesungguhan upaya pemerintah guna menghilangkan potensi, benih dan/atau akar terorisme, meski dalam praktik, deradikalisasi masih belum akurat, karena kasus-kasus terorisme tak kunjung reda. Artinya, perlu dicarikan kiat-kiat yang lebih jitu lagi oleh negara manapun. Mengapa demikian, betapa aksi terorisme kini telah dipolitisasi —ditunggangi— oleh kelompok kepentingan tertentu untuk tujuan-tujuan (politik) yang lebih besar. Inilah yang kini tengah berproses.

Merujuk pengalaman empirik pada dinamika geopolitik global, terorisme sejatinya hanya “alat” belaka atau sarana —istilahnya geostrategi— dari sebuah negara kolonialis guna menancapkan kuku imperialismenya terhadap negara (target) lain. Ya, nantinya dengan dalih marak terorisme misalnya, mereka —para negara kolonialis— melakukan intervensi baik langsung maupun tak langsung bahkan kerap kali masuk melalui (invasi) militer dan/atau nirmiliter (silent invasion) ke dalam kedaulatan negara lain, berujung penancapan hegemoninya.

Dalam modus asymmetric war (perang nirmiliter) yang berpola ITS (Isu – Tema/Agenda – Skema). Contoh, isunya adalah terorisme – tetapi agendanya intervensi/serbuan militer berdalih memerangi teroris – sedang skemanya justru menguasai geoekonomi (pangan dan energi) negara target. Ini sudah jamak di dunia geopolitik global terutama di negara-negara sepanjang Jalur Sutra (The Silk Road) khususnya Asia Tengah/Timur Tengah hingga Afrika Utara.

Tak dapat dipungkiri, bahwa di lintasan Jalur Sutra yang kaya kandungan hydrocarbon, ada lahir, tumbuh dan berkembang kelompok-kelompok teroris seperti Jabhal al Nusra di Suriah misalnya, atau Boko Haram di Nigeria, ataupun ISIS di Irak, Al Qaeda di Afghanistan, dan lain-lain. Biasanya, di kawasan “orang-orang bersujud” dimana hydrocarbon berlimpah, kerap kali istilah teroris dijadikan semacam industri. Pertanyaannya sederhana saja, “Seandainya negara-negara di sepanjang Jalur Sutra hanya penghasil jambu mente atau buah korma, apakah akan subur ideologi terorisme?”

Hukum karma (qisas) berkata, siapa menabur akan menuai!

Terima kasih.

Facebook Comments