Sikap Tidak Flexible AS Terkait THAAD, Pemicu Gagalnya Kesepakatan Damai Trump-Kim Jong un

Bagikan artikel ini

Pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un yang digelar akhir Februari lalu telah gagal mencapai kesepkatan dalam bidang denuklirisasi. Pihak Korea Utara menyalahkan sikap Amerika Serikat yang menyebabkan gagalnya kesepakatan.

Menariknya, pihak Korea Utara mengungkapkan bahwa penyebab kegagalan adalah ketika Kim mengajukan proposal penghancuran fasilitas nuklirnya di Yongbyon, dengan imbalan pihak AS mencabut sanksi ekonomi yang dianggap merugikan rakyat Korea Utara.

Namun menurut telaah Global Future Institute, penyebab sesungguhnya gagalnya kesepkatan Trum dan Jong-un bukan soal desakan Kim agar AS mencabut sanksi ekonomi. Sikap pemerintah Cina yang menentang pemasangan dan penempatan Sistem Pertahanan anti-rudal  Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) oleh Amerika Serikat di Korea Selatan, nampaknya penyebab utama di balik gagalnya kesepakatan Trump-Jong un.

Sebagai sekutu strategis Korea Utara sejak berakhirya Perang Dunia II, Cina sangat khawatir dengan pemasangan dan penempatan THAAD di Korea Selatan. Bukan soal karena THAAD mengancam kedaulatan dan integritas territorial Korea Utara, melainkan karena THAAD sejeatinya dimaksudkan AS untuk menetralisir kekuatan angkatan bersenjata Cina, khususnya di wilayah perbatasan Korea-Cina.

Hanya saja, pihak pemerintah Cina menyamarkan alasan kegagalan kesepakatan Trump-Jong un karena isu nuklir Korea Utara tidak bisa diselesaikan dalam waktu semalam. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lu Kang mengatakan, “Tetapi saya selalu berharap bahwa setiap orang dapat menyadari bahwa masalah nuklir di Semenanjung Korea telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan pemecahannya jelas bukan sesuatu yang dapat dicapai dalam waktu semalam,” kata Lu dalam konferensi pers.

Memang benar. Salah satu isu krusial dalam pertemuan kedua kepala negara tersebut adalah tentang isu senjata bermuatan  nuklir. Bukan saja terkait diuji-cobakannya Rudal Balistik Antar Benua (ICBM) yang dilancarkan pemerintah Pyongyang. Tapi juga terkait pemasangan dan penempatan Sistem Pertahanan anti rudal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) oleh Amerika Serikat di Korea Selatan, sebagai dalih untuk menangkal serangan Korea Utara terkait beberapa kali uji coba rudal antarbenua ICBM yang dilakukan Korea Utara.

Apa keberatan dan kekhawatiran Cina yang paling substansial di balik keberadaan THAAD di Korea Selatan? Masalah krusial yang nampaknya memicu kegagalan kesepakatan Trump-Jong un adalah kemampuan THAAD dalam mencegat dan mengantisipasi serangan rudal dari pihak musuh.

Nah di sinilah inti pokok kekhawatiran Cina. Sebagai sistem pertahanan anti rudal yang sangat mumpuni untuk mendukung kinerjanya dalam mengantisipasi dan mengcegat serangan rudal dari pihak musuh, THAAD juga dilengkapi dengan radar yang mumpuni dan yang berkemampuan terbaik yaitu Army/Navy Transportable Radar Surveillance (AN/TPY-2).

Apa keunggulan radar jenis ini yang melekat dalam sistem pertahanan anti rudal THAAD itu? Kapasitas THAAD yang dilengkapi rada Army/Navy Transportable Radaqr Surveillance inilah yang nampaknya mengundang kegusaran dan kekhawatiran pemerintah Republik Rakyat Cina.

Sebab pihak Cina memandang penempatan dan pemasangan THAAD di Korea Selatan, sejatinya bukan manuver militer AS dan Korea Selatan untuk menangkal serangan militer Korea Utara, melainkan untuk mendeteksi dan memonitor manuver militer Cina di wilayah perbatasan antara Cina dan Korea.

Baca juga tulisan kami sebelumnya:

Menghentikan Penempatan THAAD di Korea Selatan, Tolok Ukur Keberhasilan Pertemuan Trump-Kim Jong-un

Sehingga angkatan bersenjata AS di Asia Pasifik mampu mengetahui ancaman jarak jauh dan dapat memberikan solusi perlindungan dari ancaman tersebut.

Dukungan dari kemampuan frekuensi Xband semakin memberikan radar ini peningkatan yang dapat membedakan seberapa besar ancaman yang akan datang dari pihak musuh. Selain itu, THAAD sebagai sebuah sistem pertahanan anti rudal merupakan salah satu sarana pertahanan yang paling direkomendasikan untuk memberikan kemampuan bertahan bagi penggunanya. Yang dalam hal ini tentunya adalah dua negara musuh utama Cina dan Korea Utara. Yaitu Korea Selatan dan AS.

Dengan estimasi jarak hingga 3000km, kapasitas radar dari AN/TPY-2 dengan X-band-nya radar tersebut sudah dengan mudah dapat melacak persenjataan Cina secara langsung meskipun tidak secara keseluruhan.

Menurut perhitungan strategis Cina, dengan estimasi jarak deteksi dari radar THAAD wilayah bagian timur dan utara Cina, maka akan menjadi wilayah yang masuk dalam cakupan radar THAAD, sementara wilayah ini merupakan wilayah yang strategis sebagai lokasi dari sistem pertahanan dan penempatan perangkat-perangkat militer dari Cina.

Wilayah-wilayah seperti Nanjing dan Shenyang merupakan salah satu daerah yang menjadi daerah cakupan radar dari THAAD, sementara daerah tersebut merupakan bagian dari penempatan-penempatan perangkat militer dari Cina, bagian dari angkatan darat, udara, laut, bahkan pengembangan rudal jugal ada di daerah ini.

Namun THAAD bukan satu-satunya factor pemicu kegagalan kesepaktan Trump-Jong un. Meskipun isu di permukaan adalah soal gagalnya kesepakatan denuklirisasi Korea Utara, namun pemicu kegagalan lainnya adalah sikap kaku dan tidak flexible AS untuk menarik mundur 28 ribu personil tantaranya di Korea Selatan.

Maka itu, di tengah semakin memanasnya persaingan global AS versus Cina di Asia Pasifik utamanya di Semenanjung Korea, pertemuan babak kedua Trump-Jong un ini memang patut disayangkan.

Bukan saja untuk segera mengakhiri konflik berkepanjangan antara Korea Selatan dan Korea Utara sejak berakhirnya Perang Dunia II. Melainkan juga dalam menciptakan perdamaian dan stabilitas politik di Semenanjung Korea khususnya , dan Asia Pasifik pada umumnya.

Sayangnya, pihak AS mengartikan isu denuklirisasi Korea Utara yang adalah untuk mendesak Kim Jong un melalui meja perundingan (gunboat diplomacy) untuk menghentikan program nuklir  berupa tes uji coba Rudal Balistik Antar Benua (ICBM) yang dilancarkan pemerintah Pyongyang.

Padahal bagi Kim Jong un, uji coba peluncuran ICBM sejatinya dimaksudkan untuk membela diri menghadapi kemungkinan serbuan militer berskala luas yang dilancarkan AS maupun kedua sekutunya yaitu Korea Selatan dan Jepang terhadap Korea Utara.

Menyusul gagalnya kesepakatan AS-Korea Utara, berarti terciptanya perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea maupun Asia Pasifik pada umumnya, masih memakan waktu yang cukup lama.

Hendrajit, Pengkaji Geopolitik,  Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments