Suku Buton Memilih Huruf Hangeul

Bagikan artikel ini

Rusman, Pengiat Sosial Budaya

Lembaga riset Hunminjeongeum Korea baru-baru ini mengumumkan bahwa sebuah suku di kota Bau-Bau di pulau Buton, Sulawesi Selatan menerapkan huruf bahasa Korea, Hangeul untuk menulis bahasa asli mereka yang disebut ‘bahasa Cia-Cia’. Ternyata tidak semua penduduk Indonesia menggunakan Bahasa Indonesia sebagai sarana tulis menulis.

Menurut profesor dari Seoul National University Lee Ho-Young, Suku Cia-Cia sebenarnya dapat berbicara dalam Bahasa Indonesia. Namun suku tersebut buta huruf sehingga tidak bisa menulis.

Sejak 21 Juli 2009, Lee mengajarkan huruf Hangeul kepada anggota suku  Cia-Cia tersebut. Tujuannya, agar suku Cia-Cia dapat memelihara bahasa aslinya meski menulis dengan huruf  Korea. Lee juga membantu menciptakan buku pelajaran bahasa Korea ini bagi sekolah dasar. Para murid pun dapat belajar bahasa Korea selama 4 jam per minggunya.

Ini merupakan kali pertama abjad bahasa Korea digunakan oleh masyarakat di luar Korea.

Lee berharap berharap huruf Hangeul dapat membantu suku-suku yang tidak punya huruf sendiri untuk melestarikan identitas dan budaya mereka.

Sejarah Bahasa Hangeul 

Hangeul (diucapkan sebagai [han geul]) merupakan alfabet asli yang digunakan untuk menulis bahasa Korea (dibandingkan dengan sistem Hanja yang dipinjam dari bahasa Tionghoa).

Menurut sejarahnya Hangeul diciptakan oleh Sejong Daewang (Raja Besar Sejong) pada tahun 1443. Setiap tanggal 9 Oktober diperiganti sebagai ‘Hari Hangeul’.

Meskipun tulisan Hangeul terlihat seperti tulisan ideografik (tulisan dalam bentuk ‘simbol’, misalnya bahasa Tionghoa), Hangeul sebenarnya merupakan aksara fonetik. Setiap blok huruf Hangeul terdiri dari beberapa dari 24 huruf (jamo)— 14 huruf mati (konsonan) dan 10 huruf hidup (vokal). Secara sejarah, alfabet Hangeul sebenarnya masih mempunyai 3 konsonan dan 1 buah huruf vokal.

Sumber: Radio Korea dan wikipedia

Facebook Comments