Tentang “The Battle for West Papua”.. (ada kekuatan Cina dibelakangnya?)

Bagikan artikel ini

Seorang Jurnalis Ben Bonahe, yang pro Papua Merdeka menuliskan banyak hal dari sudut kepentingan kelompok Papua Merdeka.

Ben Bohane adalah jurnalis foto berbasis di Vanuatu yang meliput Pasifik, yang telah melaporkan Papua Barat selama 25 tahun terakhir. Dia adalah satu-satunya orang asing yang berada di tiga wilayah Komando paling aktif dari OPM yang beroperasi di Papua Barat.

Tulisannya di Battle of West Papua yang diterbitkan tanggal 18 Januari 2019 ini tidak hanya provokatif dan ikut berperan memanaskan suasana Papua sejak lama, tetapi dipandang dari sudut kepentingan Indonesia malah membuka pandangan baru mengapa Papua Barat bergolak saat ini.

http://www.jpolrisk.com/the-battle-for-west-papua/

Lepas dari tulisan provokatifnya ini maka ada rahasia yang terungkap bahwa dukungan kekuatan Cina di kawasan pasifik ini diharapkan akan (atau bahkan sudah?) membantu kelompok Papua Merdeka untuk mencapai tujuannya.

Bahkan mungkin membuat kelompok ini menjadi makin percaya diri seperti yang dituliskan oleh Meaghan Tobin dalam media Cina South China Morning Post
https://www.scmp.com/…/chinese-support-pacific-nations-shap…

Apa poin poin penting yang jadi titik perhatian dari tulisan provokatif dan berbahaya ini sehingga bisa diantisipasi dari sudut kepentingan Indonesia ini?

Menurut Ben Bonahe:

  1. Para pemimpin Papua Barat berharap Cina memiliki rencana untuk membantu membebaskan Papua Barat dan dengan demikian menyediakan tempat perlindungan bagi komunitas Tionghoa yang dianiaya di Indonesia.
  2. Jika Cina mendukung kemerdekaan Papua Barat, maka ia akan mendapat dukungan dari sebagian besar orang Papua dan memberi Cina tidak hanya akses ke kekayaan mineral yang besar, tetapi juga pijakan strategis di selatan, Laut Cina Selatan, dan pintu gerbang utama antara India dan India. Samudera Pasifik.
  3. Itu juga akan memenangkan hati dari banyak negara kepulauan Pasifik yang merasa AS dan Australia belum membela kepentingan kepulauan Pasifik semuanya karena keserakahan satu perusahaan AS.
  4. Pendirian pangkalan militer di Pulau Manus PNG untuk pasukan AS dan Australia akan memungkinkan proyeksi angkatan laut dan udara AS dan Australia ke Laut Cina Selatan dan sekitarnya, sekali lagi memperkuat posisi strategis Papua Barat di sebelahnya. Bila Cina memperkuat basis nya di Papua Barat maka proyek sekutu akan bisa digagalkan. Dalam tulisannya ini Ben Bonahe juga mengungkap keterlibatan Cina untuk mencegah Prabowo Subianto menjadi Presiden RI yang dia katakan dibantu kelompok Islam Radikal.
  5. Cina juga telah mengantisipasi kepresidenan Prabowo di Indonesia tahun ini, yang mereka anggap sebagai aset CIA, yang dianggap didukung oleh kelompok-kelompok Islam garis keras, dan yang akan memusuhi komunitas Cina di sana. Dan tidak hanya memusuhi Cina, tetapi Australia dan Pasifik juga.
  6. Seorang Prabowo disamakan dengan orang kuat seperti Duterte yang mungkin menyebabkan gesekan dan ancaman bagi orang Kristen Melanesia Papua Barat demi mengamankan kebebasan mereka sebagai bagian dari keluarga Pasifik.
  7. Bila Prabowo memimpin Indonesia maka, menurut Bongahe kemungkinan akan mencegah pijakan Cina di Pasifik Selatan.
  8. Antisipasi terhadap Prabowo ini juga akan mencegah perluasan kekuatan jihadis Indonesia ke wilayah ke timur ke Pasifik.
  9. Juga mengamankan udara “sea gap” untuk Australia dengan mengamankan perbatasan antara Muslim Asia dan Pasifik Kristen, dan dengan demikian memenangkan kekaguman dan kesetiaan dari komunitas pulau Pasifik lainnya tepat pada saat mereka sedang didekati secara agresif oleh Cina.
  10. Kecuali jika perjuangan jangka panjang ini diselesaikan segera, Papua Barat akan segera menjadi medan pertempuran utama antara pasukan Indonesia termasuk jihadis dan gerilyawan Papua yang didukung oleh Cina. Menurut keterangan Bonahe, Cina saat ini telah berhasil main dua kaki di kasus pembelian saham Freeport.
  11. Kebijakan AS telah lama dipandu oleh kepentingan komersial Freeport (dibantu oleh anggota dewan terkemuka seperti Henry Kissinger dan mantan Presiden Ford), tetapi itu sekarang tidak ada artinya dibandingkan dengan kalkulus strategis ketika Tiongkok bergerak.
  12. Selain itu, Freeport kini kehilangan kendali – pada bulan Desember dan akhirnya menerima kesepakatan baru dengan Jakarta kehilangan kepemilikan mayoritas atas tambang dan deposit Carstenz.
  13. Freeport sekarang telah dikurangi menjadi 49% kepemilikan. Tentu saja Cina memainkan kedua sisi pagar – tebak siapa yang menyediakan dana bagi Jakarta untuk meningkatkan ekuitasnya?

Berdasar pandangan provokatif ini maka saya berharap para pemangku kepentingan dapat makin mengerti dan bisa mengantisipasi semua pandangan dan titik perhatian musuh yang turut mengipasi pergolakan di dalam negeri ini.

Dengan tulisan Ben Bonahe ini, juga menjadi terang benderang pula bahwa ada peran Cina yang cegah Prabowo naik jadi Presiden RI (benarkah?)

Apakah terbakarnya kantor KPU Papua pada kerusuhan sehingga ludesnya dokumen ini jadi bagian dari kepentingan itu? aku tak berani menuduh, tapi “bau” nya ada.

Tentang kerusuhan ini ternyata sebagian orang asli Papua merasa ditipu oleh kelompok pro Papua Merdeka. Bahkan orang orang Papua ini juga merasa menyesal ikut demo yang merusak ini. Dan mereka takut dampaknya. https://nasional.okezone.com/…/pedemo-di-papua-tak-mau-aksi…

Ini menegaskan kembali bahwa upaya provokasi ini bukanlah inisiatif rakyat Papua sendiri, tetapi gosokan kelompok-kelompok itu.

Sekian

Adi Ketu

Facebook Comments