Trump Versus Iran

Bagikan artikel ini

Kawasan Teluk kembali tegang. Kali ini tidak tanggung-tanggung, yang geger bukan antar negara Arab, tapi negara adidaya Amerika versus Iran. Kapal tanker Amerika yang lewat di Teluk Oman (13/6) mendapat serangan dari entah siapa. Arab Saudi menuduh Iran di balik itu yang kemudian disusul Amerika dengan tuduhan yang sama. Terhadap kejadian itu, Donald Trump marah dan berencana menyerang Iran. Rusia dan Cina angkat bicara dan mengatakan akan konsekuensi yang fatal manakala melakukan itu.

Pihak Iran membantah tuduhan itu. Warga Iran geram dan mengatakan bahwa Amerika tidak tahu Iran sehingga berani mengancam menyerang mereka. Warga Iran melalui jejaring medsos balik menantang dan mengatakan bahwa warga Iran adalah keturunan pejuang yang menjadikan Mati Syahid atau martyrdom sebagai impian. Mereka mengutip ucapan Hassan Nasrullah, Sekjen Hizbullah, milisi Syiah Libanon, akan semangat itu dan bahwa mereka yang memusuhi Iran adalah semata karena mereka tidak mengenal siapa dan bagaimana sesungguhnya bangsa Iran. Rangkaian respon warganet Iran bergemuruh menyambut ancaman Trump. Kira-kira kalau kata orang Betawi: “Lu jual gua beli”.

Ketegangan antara kedua negara sebenarnya bukanlah hal baru. Semenjak jatuhnya Shah Reza Pahlevi penguasa Iran oleh revolusi Ayatollah Khumaini pada 1979, permusuhan Amerika atas Iran menjadi seolah abadi. Hal ini lantaran bahwa Pahlevi adalah anak kesayangan Amerika di Timur Tengah selain Israel pada saat itu. Saking sayangnya, seperti halnya Israel, Iran dibuatkan proyek sumber daya Nuklir. Jerih payah Amerika untuk sang buah hati (Iran) agar menjadi agen Amerika di kawasan sirna seiring suksesnya revolusi Khumaini. Jadilah instalasi nuklir itu mangkrak hingga masa kepresidenan Ahmadinejad, ia dihidupkan kembali. Melalui perundingan yang alot, akhirnya pada presiden Amerika Barrack Obama, proyek nuklir itupun diizinkan dengan tujuan terbatas atau sumber energi saja. Bukan dikembangkan sebagai persenjataan militer. Perbedaan watak kebijakan Obama dan Trump yang bertolak belakang, mendorong Trump untuk membatalkan izin tersebut dan ketegangan bergeliat kembali antara keduanya.

Obama dalam kebijakan dalam dan luar negerinya mengedepankan pandangan kearifan sebagai wujud peradaban manusia yang tinggi atau yang disebut dengan Wisdom Era. Pandangan ini, seperti disampaikan oleh Dalia Mogahed, penasehat Obama keturunan Mesir, mendorong munculnya kebijakan yang rela mengalah demi kepentingan yang luas. Kepentingan Amerika tidak boleh merugikan kepentingan orang lain. Peran Amerika dalam misi kemanusiaan khususnya dalam menampung para pengungsi konflik Syria adalah contoh kebijakan yang mewakili Wisdom Era. Hal ini juga ditunjukkan Obama dalam kebijakan Nuklir Iran di mana pada akhirnya disepakati perizinannya asalkan tidak untuk tujuan pembuatan senjata pemusnah massal.

Sementara Trump justru mengusung pandangan yang menekankan kepentingan dalam negeri dan mengabaikan nasib atau dampaknya atas negara lain. Atau pandangan yang fanatik terhadap kepentingan nasional. Persetan dengan nasib umat Islam yang sedang merintih akibat ISIS yang membantai rakyat Suriah biar itu diurus sendiri oleh dunia Islam. Tidak usahlah mereka difikirin sampai harus ditampung dan diterima kehadiran 17.000 pengungsi Suriah di Amerika seperti rencana Obama. Pembatalan penerimaan pengungsi Suriah adalah awal kebijakan Trump saat baru diangkat presiden. Sikap keras serupa juga dia tunjukkan dalam menolak kehadiran imigran gelap melalui Meksiko. Tidak tanggung-tanggung, dia berambisi membuat tembok perbatasan yang tinggi demi kepentingan nasional nirkemanusiaan.

Dalam kasus Nuklir Iran, meski dalam perundingan multilateral antara Iran, Amerika dan Uni Eropa membatasi izin untuk keperluan terbatas, namun oleh Trump ia dianggap keputusan yang bodoh. Baginya, sulit diharapkan Iran berhenti pada batas nuklir sebagai sumber energi. Iran pasti mengarahkan izin itu untuk pengembangan senjata militer demi menguasai kawasan teluk. Arab Saudi dan Israel yang selama ini menjadi rival Iran mencak-mencak oleh kelonggaran untuj Iran dalam proyek nuklir itu. Ketidakpercayaan atas Iran menjadi dasar kebijakan Trump. Sementara Obama, meski Amerika memiliki sejarah kelam dengan Iran, dia tidak serta merta menuruti emosi permusuhan dengan Iran. Kesadaran akan perkembangan peradaban manusia yang condong pada perdamaian diyakini juga dimiliki oleh Iran.

Potensi ‘fasisme’ Trump inilah yang menjadikan mutual Trust yang menjadi dasar perundingan antar negara, Iran-Amerika, hilang. Dia serta merta menuduh Iran sebagai pelaku penyerangan terhadap dua kapal minyak yang lewat di Teluk Oman pada 13 Juni baru-baru ini. Iran meski telah menolak tuduhan itu, Trump tetap melakukan serangan drone yang berhasil digagalkan Iran. Serangan cyber pun dilancarkan namun lagi-lagi berhasil digagalkan. Akankah Trump terus memerintahkan penyerangan ataukah berhenti sampai di sini? Yang pasti, melawan Iran tidak semudah melawan Irak pada Perang Teluk 1 (1990) dan 2 (2003) yang berhasil menangkap Sadam Hussein dan menumbangkan kekuasaannya. Loyalitas warga Irak dalam membela Saddam dipertanyakan sementara warga Iran tidak demikian halnya. Loyalitas mereka terhadap negara dan otoritas agama sangatlah tinggi, sehingga Amerika harus berhitung seribu kali untuk berperang melawan negeri para Mullah ini.

Achmad Murtafi Haris, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

Facebook Comments