Untuk Tetap Bercokol di Chagos Islands Inggris Galang Persekutuan Abadi Dengan AS, Australia dan Israel

Bagikan artikel ini

Inggris yang sempat berjaya sebagai negara penjajah sejak abad ke-18 hingga berakhirnya Perang Dunia II pada 1945, nampaknya masih berusaha agar tetap mempertahankan mantra lamanya sebagai matahari yang tak pernah terbenam, sebagai negara penjajah terbesar di dunia. Melebihi Prancis, Italia, Belanda dan Jerman. Ada masa daerah jajahan Inggris membentang dari Asia, Afrika, Timur-Tengah hingga Pasifik. Salah satu yang mana Inggris masih bercokol adalah di Chagos Islands, yang dulunya menyatu denga  Mauritius, juga negara jajahan Inggris.

Namun baru-baru ini Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, telah melancarkan teguran keras terhadap Kerajaan Inggris terkait upayanya untuk terus mempertahankan wilayah jajahannya Chagos Islands. Dan mendesak Inggris untuk menyerahkan Chagos Islands kepada Mauritius.  Keputusan Majelis Umum PBB tersebut didukung 116 negara, 6 negara menentang, dan 56 negara abstain. Berarti, muncul desakan internasional agar Inggris membuka jalanb bagi berlangsung proses dekolonisasi di Chagos Islands. Namun kepentingan persekutuan empat negara Inggris, AS, Australia dan Israel, untuk mempertahakan pangkalan militer AS di Diego Garcia, sepertinya lebih penting daripada dekolonisasi Chagos Islands kepada Mauritius.

Bandingkan dengan  artikel menarik Wayne Madsen yang bertajuk: 

Fighting for Colonial Footprints: a Very British Thing

Chagos Islands semula terintegrasi dalam negara yang juga merupakan jajahan Inggris yaitu Mauritius. Namun pada 1965, Chagos Islands dipisahkan dari Mauritius oleh Inggris, oleh sebab Inggris bermaksud memberikan Chargos Islands untuk dijadikan pangkalan militer oleh Amerika Serikat di pulau Diego Garcia. Chagos Islands merupakan hasil dari persekongkolan antara London dan Washington, dalam membentuk British Indian Ocean Territory (BIOT). Adapun persekongkolan pura-pura antara Inggris-AS ini dimaksudkan sebagai operasi politik terselubung untuk membeli Chagos Islands dari Mauritius pada 1966 seharga 3 juta pounsterling.

Kemudian Inggris menyewakan Diego Garcia kepada AS untuk jangka waktu 70 tahun. Alhasil, sepak-terjang AS dalam memperlakukan masyarakat di Diego Garcia persis seperti negara jajahan. Sebelum membangun pangkalan militernya di Diego Garcia, Amerika telah menggusur warga masyarakat Diego Garcia pindah ke Mauritius atau  Seychelles.

Keputusan Inggris untuk memisahkan Chagos Islands dari Mauritius pada 1965 tidak dilakukan dalam kerangka Mauritius merdeka. Melainkan kepada Dewan Menteri, yang merupakan perpanjangan tangan dari pemerintahan colonial Inggris di Mauritius yang mana keberadaannya baru berakhir pada saat Mauritius merdeka pada 1968.

Sebenarnya selain mengincar Chagos Island AS juga berkeinginan menguasai Aldabra, Farquhar dan Desches, yang  termasuk pulau luar dari Seychelles, yang dulunya juga sempat jadi daerah jajahan Inggris.

 

US bombers on Diego Garcia in the Chagos Islands

 

Dalam resolusi yang dikeluarkan oleh Majelis Umum PBB pada 22 Mei lalu, mendesak Inggris mengembalikan Chagos Islands kepada Mauritius dalam jangka waktu 6 bulan. Hal ini juga diperkuat oleh Internatioanl Court of Justice yang menyatakan bahwa Inggris secara ilegal telah mengalihkan Chagos Islands sebagai wilayah kedaulatan Mauritius ketika sedang berlangsung proses dekolonisasi di Mauritius pada 1960-an.

Namun demikian Inggris maupun AS yang termasuk dalam 6 negara yang menolak resolusi Majelis Umum PBB tersebut, nampaknya tetap bertekad untuk tidak menyerahkan pangkalan militer Diego Garcia hingga tahun 2036 mendatang. Batas waktu berakhirnya masa sewa AS kepada Inggris .

Apalagi dalam klaausul kesepkatan yagn dibuat Inggris ketika memisahkan Chagos Islands dari Mauritius pada 1965, menegaskan bahwa Chagos Islands akan diserahkan kepada Mauritius jika Inggris tidak membutuhkannya lagi untuk tujuan-tujuan militer.

Nampak jelas Inggris sedari awal memang berniat untuk mempertahankan daerah jajahannya di Chagos Islands dengan berbagai alasan. Duta Besar Inggris untuk PBB Karen Pierce menegaskan sikap Inggris yang tidak berubah secara substansial sejak 1965. Bahwa Diego Garcia saat ini masih dibutuhkan untuk tujuan pertahanan.

Karen Pierce merujuk pada pentingnya Diego Garcia untuk mengontrol Selat Malaka di sebelah Timur, dan Teluk Aden di sebelah barat, sebagai jalur lalu-lintas perdagangan maupun sebagai transit kapal-kapal kargo.

Dalih yang digunakan Inggris adalah bahwa Inggris maupun AS perlu mempertahanakn fasilitas pertahanannya di wilayah yang mereka sebut British Indian Ocean Territory. Sebab merupakan wilayah yang cukup strategis dalam mengamankan kepentingan AS dan Inggris. Dalih yang mereka kemukakan yaitu adanya ancaman terorisme, narkoba dan bajak laut.

Menariknya, India yang merupakan eks negara jajahan Inggris dan tergabung dalam Common Wealth, termasuk yang mendukung dikembalikannya Chagos Islands kepada Mauritius. Saat ini India telah memperluas kehadiran angkatan lautnya di Samudra Hindia (Indian Ocean). Seraya membangun pangkalan militernya di Seychelles dan Madagaskar.

Membaca konstelasi negara-negara yang mendukung bercokolnya AS dan Inggris di Chagos Islands adalah Israel dan Australia. Pemerintahan sayap kanan Israel pimpinan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu, punya kepentingan untuk mencegah diberikannya kedaulatan Palestina atas Tepi Barat dan Jerusalem Timur. Adapun Australian punya kepentingan untuk mempertahankan Norfolk Islans, Cocos (Keling) Islands, dan Christmas Islands.

Inilah jejak-jejak penjajahan Inggris yang nampaknya hingga kini tetap menjadi landasan kebijalan luar negeri Inggris untuk tetap bertahan sebagai negara colonial di kawasan Pasifik.

Dengan begitu, bersikukuhnya Inggris bercokol di Chagos Islands ternyata berakar dan bertautan erat dengan masalah Palestina. Cocos Islands, Christmas Islands dan Palestina. Sehingga persekongkolan mempertahankan Chagos Islands, bukan saja melibatkan AS, melainkan juga Australia dan Israel.

Diolah oleh Hendrajit, Pengkaji Geopolitik Global Future Institute (GFI)

Facebook Comments