Program Kimia-Biologi Departemen Pertahanan Amerika Serikat ternyata memiliki Misi Global. Bisakah dikatakan bahwa aktivitas laboratorium biologi-militer merupakan bagian dari Pertahanan Nasional AS yang diperluas sehingga bersifat agresif dan ofensif?
Program Pertahanan Kimia dan Biologi, atau CBDP, dalam alasan resminya, dibentuk untuk menjaga keselamatan prajurit dari penyakit menular dan agen kimia adalah upaya Departemen Pertahanan yang membutuhkan berbagai kemampuan, mulai dari pengawasan biologis global dan respons cepat hingga penanggulangan medis serta kolaborasi antarlembaga dan internasional.
Masalah krusial dari fakta tersebut, mungkinkah hal itu menjadi celah bagi pemerintah AS khususnya Pentago, untuk menghidupkan kembali laboratorium biologis bagi kepentingan strategi pertahanan AS ala NAMRU-2 yang terbongkar aktivitasnya di Indonesia sebagai sarang intelijen Angkatan Laut AS pada 2008?
Untuk itu, perlu disorot secara tajam apa aktivitas sesungguhnya dari the US. Army Medical Research Directorate (USAMRD). Sebab seperti diutarakan melalui salah satu tugas pokoknya, Program Pertahanan Kimia dan Biologi, atau CBDP bertugas mengkoordinasikan pengembangan alat dan kemampuan yang membantu para prajurit mencegah, melindungi diri dari, menanggapi, dan pulih dari ancaman dan dampak kimia-biologis. Sampai di sini, masih cukup masuk akal, karena program tersebut masih bersifat defensif.
Baca: US bio-labs overseas: Time to open the doors
Namun bagaimana jika Program Pertahanan Kimia dan Biologi beroperasi di bawah naungan Pentagon tersebut kemudian berkembang dan diperluas ruang lingkupnya menjadi program yang bersifat offensif, ketika kemudian Angkatan Bersenjata AS mengadakan aktivitas laboratorium biologi-militer di negara-negara di luar wilayah teritorial AS seperti NAMRU-2 AS?
Dalam konteks inilah, keberadaan USAMRD dalam memfasilitasi pengembangan yang lebih offensif dari program Pertahanan Kimia dan Biologi Pentagon, patut dicermati dan diwaspadai secara lebih mendalam.

usia menyerukan pertemuan Dewan Keamanan PBB untuk membahas dugaan program senjata biologis yang didukung AS di Ukraina. Foto: VCGSebab seperti diutarakan oleh Dr Christian Hassell sebagai wakil menteri pertahanan untuk pertahanan kimia dan biologi yang ditugasi memimpin program ini pada 2016, program tersebut diorganisir sebagai tim fisik dan tim medis tergantung apakah untuk menghadapi ancaman internal atau eksternal.
Dari penyataan Dr Christian Hassel itu terkesan kuat bahwa Program Pertananan Kimian dan Biologi Pentagon tersebut sewaktu-waktu dapat berubah dari bersifat defensif menjadi offensif.
Apalagi alat yang sedang dikembangkan adalah peralatan yang dapat berfungsi pengawasan biologis global menggunakan arsitektur teknis yang mencakup teknologi diagnostik, deteksi, manajemen informasi, dan analitik canggih. Berdasarkan fakta tersebut, sangatlah potensial untuk membuat senjata kimia-biologis dalam pelbagai jenis.
Mengapa USAMRD penting untuk disorot? Sebab sebagai Direktorat Penelitian Medis Angkatan Darat Amerika Serikat, merupakan Kegiatan Luar Negeri Khusus dari Institut Penelitian Angkatan Darat.
USAMRIID atau bisa juga Institut Penelitian Medis Penyakit Menular Angkatan Darat Amerika Serikat ( USAMRIID), merupakan lembaga dan fasilitas utama Angkatan Darat AS untuk Penelitian Pertahanan dalam penanggulangan Perang Biologis, bermarkas di Fort Detrick, Maryland, tidak jauh dari Washington DC. Yang krusial adalah, USAMRIID juga berlokasi di luar Amerika Serikat seperti di kawasan Afrika dan Indo-Pasifik atau Asia Pasifik dalam perspektif geopolitik negara-negara yang berada di kawasan Asia.
Baca juga:
Jejak Misterius Penelitian Militer Amerika di Indonesia
Keberadaan USAMRIID di Afrika, Indo-Pasifik dan bisa jadi kemudian berkembang di pelbagai kawasan lainnya, sangatlah rawan mengingat fakta bahwa beberapa laboratorium biologi militernya telah dilengkapi peralatan-peralatan untuk mempelajari virus-virus yang sangat berbahaya untuk Keamanan Hayati.
Apalagi ketika USAMARIID berfokus dalam riset penyakit menular, pengawasan terhadap kesehatan masyarakat (public health), dan pertahanan kesehatan untuk menghadapi ancaman-ancaman biologis.
Memang kalau kita merujuk pada kasus timbulnya wabah Ebola di Afrika Barat, USAMARIID mengklaim hanya sebatas menguji vaksin tiga strain yang mengandung strain Ebola Zaire yang menyebabkan wabah di Afrika Barat, strain virus Ebola Sudan, dan virus Marburg, virus mematikan lainnya dalam kelompok filovirus yang sama dengan Ebola.
Namun dalam aktivitas Disease Surveillance, atau pengawasan terhadap penyakit menular yang mencakup beberapa aktivitas yang berpotensi digunakan sebagai operasi intelijen. Seperti melalui monitoring(pemantauan), deteksi, dan pemetaan terhadap penyebaran patogen seperti Ebola, Marburg, Malaria, dan Zika. Pihak Pentagon dengan mudah dapat berdalih bahwa aktivitas tersebut bertujuan untuk melindungi dan menyelamatkan para personil militer yang dikerahkan ke pelbagai negara yang mengoperasikan USAMARIID, maupun Komunitas Global.
Baca:
US criticized for clandestine bio-military activities
Modus Operandi lainnya yang bisa digunakan sebagai sarana terselubung aktivitas bio-military AS adalah melalui Medical Counter Measure Development (pengembangan penanggulangan medis). Istilah ini merujuk pada proses riset, pengujian, dan produksi produk-produk kesehatan (seperti vaksin, obat antivirus/antibiotik, dan alat diagnostik) yang digunakan untuk mendiagnosis, mencegah, atau mengobati penyakit dalam kondisi darurat kesehatan masyarakat (seperti pandemi atau serangan agen biologis).
Nah, justru di sinilah segi rawannya. Frase kata yang dipakai “Pencegahan Penyakit dalam Kondisi Darurat Kesehatan yang mencakup adanya serangan agen biologis,” merupakan formulasi yang berpotensi untu dimanipulasi untuk pengembangan program-program kesehatan yang bersifat ofensif terhadap negara-negara lain di luar wilayah kedaulatan AS.
Selain itu melalui aktivitas Medical Countermeasure Development berupa penelitian dan tes uji coba vaksin, diagnostic, dan proses penyembuhan-pemulihan-pengobatan (therapeutic) terhadap penyakit menular di negara-negara beriklim tropis, juga sangat rawan digunakan sebagai aktivitas bio-militer AS yang berada dalam kendali Pentagon.
Dan seiring dengan itu, keberadaan laboratorium biologis-kimia militer dapat merekrut para agen-agen proksi di negara-negara mana USAMARDII beroperasi, melalui proyek Biosecurity Capacity Building. Sebuah proyek kegiatan dalam upaya sistematis untuk memperkuat ketrampilan, pengetahuan, dan sistem suatu organisasi atau negara agar mampu mencegah, mendeteksi, dan merespons ancaman biologis seperti patogen dan penyakit menular.
Sebab melalui skema proyek kegiatan Biosecurity Capacity Building, Pentagon di negara mana USAMARDII beroperasi dapat bermitra dengan kementerian kesehatan dengan dalih untuk meningkatkan standardisasi laboratorium untuk keselamatan dan perlindungan dari ancaman biologis seperti patogen dan penyakit menular. Selain dengan dalih untuk aktivitas pengembangan kemampuan diagnostik, maupun dalam merespon munculnya wabah penyakit.
Namun seturut terbongkarnya Laboratorium bio-militer NAMRU-2 AS pada 2008 lalu, misi dan keberadaan sesungguhnya laboratorium biologi militer, termasuk yang saat ini berada dalam naungan Angkatan Darat AS dan Pentagon, menjadi kontrovesial. Mengundang pro dan kontra.
Pemerintah AS mengklaim bahwa fasilitas-fasilitas tersebut murni bersifat defensif, transparan (terbuka), dan beroperasi sesuai dengan perjanjian internasional dengan negara tuan rumah, yang mana laboratorium bio-militer tersebut beroperasi. Pemerintah AS pun mengklaim bahwa semua aktivitas biologis yang berada dalam naungan Pentagon terikat secara hukum atau legally bound kepada the Biological Weapons Convention (BWC). Yang mana BWC telah melarang pengembangan, produksi dan penyimpanan agen-agen biologis sebagai peralatan untuk perang atau operasi militer.
Jejak-jejak aktivitas laboratorium bio-militer ala NAMRU-2 AS inilah yang kemudian memicu ketegangan geopolitik antar-negara. China dan Rusia sudah berulangkali melayangkan pengaduan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menengarai adanya lokasi-lokasi yang secara rahasia digunakan untuk membangun senjata biologis yang sangat berbahaya.
Pada 2023 lalu, misalnya, aktivitas bio-militer AS di luar negeri, sempat masuk dalam sorotan Dewan Keamanan PBB, khususnya terkait laboratorium biologinya di Ukraina. Begitu pula China, beberapa analisnya mengatakan kecurigaan telah lama muncul mengenai asal-usul COVID-19 di laboratorium AS di dalam dan luar negeri, yang gagal dijelaskan oleh AS, dan kredibilitas AS semakin terkikis karena tidak mengakui penelitiannya di Ukraina tetapi malah merilis informasi yang membingungkan. Mereka mendesak AS untuk memberikan penjelasan yang terbuka dan transparan kepada dunia.
Juga, yang tak kalah penting untuk dijelaskan oleh pemerintah AS, indikasi adanya upaya yang secara selektif menargetkan susunan genetik unik atau varian DNA ( Ethnic genotype) yang secara statistik lebih sering ditemukan pada kelompok etnis (bangsa atau suku bangsa) tertentu. Ini mencakup kombinasi gen yang diwariskan dari leluhur dan dipengaruhi oleh asal-usul geografis populasi tersebut. Bukankah hal ini secara potensial berbahaya jika kegiatan itu didasari motif-motif geopolitik?
Memang benar pemerintah AS dan negara-negara sekutunya mengklaim bahwa kerja sama pengoperasian laboratorium-laboratorium bio-militer yang berada di bawah Angkatan Darat dan Pentagon hanya dirancang untuk mencegah penyebaran penyakit yang muncul dan menyebar secara alami pada populasi manusia dan hewat, tanpa adanya campur tangan manusia (seperti rekayasa genetika atau senjata biologis), dan mencegah adanya terorisme biologis (bio-terrorism).
Sayangnya, hingga kini klaim pemerintah AS tersebut tidak disertai dengan menyajikan data-data yang kuat, valid dan meyakinkan. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Ibu Siti Fadilah Supari, untuk menghentikan kegiatan Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2) di Indonesia sejak Oktober 2009, merupakan bukti nyata bahwa aktivitas laboratorium bio-military AS di luar negeri yang mengancam kedaulatan nasional suatu negara bukan sekadar omong kosong atau halusinasi belaka. Bahkan dalam kasus Indonesia, seperti diutarakan Ibu Supari, keberadaan NAMRU-2 AS telah mengganggu kedaulatan nasional Indonesia.
Namun seperti dilansir oleh situs berita detikcom terbitan Selasa, 12 April 2022, pada 2016, muncul kembali penelitian oleh tentara Angkatan Laut Amerika Serikat di Indonesia yang diduga ilegal. Berdasarkan dokumen yang diperoleh detikcom berupa nota dinas Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan. Isinya, menemukan adanya aktivitas ilegal yang dilakukan tenaga medis tentara Angkatan Laut Amerika Serikat. Tindakan terlarang itu terselip dalam agenda Pacific Partnership 2016, yang digelar 16-31 Agustus 2016 di Kota Padang, Sumatera Barat.
Penelisikan detikcom selanjutnya, Pacific Partnership 2016 merupakan misi kemanusiaan dan persiapan tanggap bencana multilateral tahunan terbesar yang dilakukan di Indo-Asia-Pasifik. Mereka membawa kapal Angkatan Laut Amerika Serikat (USNS) Mercy (T-AH-19). Saat merapat di Padang, tenaga medis mereka memberikan pelayanan medis berupa operasi terhadap 23 pasien di kapal tersebut. Tindakan tersebut tanpa koordinasi dengan Kementerian Kesehatan.
Selain itu, Angkatan Laut Amerika Serikat kedapatan membawa tiga anjing di Padang yang terjangkit rabies. Ini dilakukan tanpa izin ke pemerintah Indonesia. Padang merupakan daerah endemik virus rabies dengan populasi hewan penular tertinggi di Sumatera Barat.
Temuan lain, bukan hanya operasi, tenaga medis Angkatan Laut Amerika Serikat juga mengambil sampel puluhan pasien secara rahasia.
Kesimpulan dalam lembaran dokumen tersebut: tentara Amerika Serikat telah melakukan pelanggaran undang-undang dan peraturan di Indonesia. Tindakan mereka membahayakan Indonesia dan harus diberi peringatan.
Terlepas data tersebut masih harus didalami dan diverifikasi validitas dan soliditasnya, namun disebut-sebutnya kawasan Indo-Pasifik, kiranya harus diwaspadai sebagai lonceng tanda bahaya. Bahwa aktivitas laboratorium bio-militer ala NAMRU-2 AS, sudah seharusnya dipantau dan dicermati dengan penuh kewaspadaan.
Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)