Salah satu aspek yang mengkhawatirkan seiring meletusnya perang terbuka AS-Israel versus Iran sejak akhir Februari lalu adalah semakin meningkatnya proliferasi persenjataan nuklir bukan saja di pelbagai kawasan Asia, Afrika, dan Timur Tengah, melainkan di kawasan Eropa itu sendiri. Sebuah laporan baru mengungkapkan bahwa Ukraina memiliki cukup plutonium untuk membangun ratusan hulu ledak nuklir untuk bom-bom sederhana yang mirip dengan senjata atom pertama yang dijatuhkan AS di Jepang pada tahun 1945. Mengerikan bukan?
Lebih mengejutkannya lagi, dengan mengutip sebuah dokumen yang hasil investigasi The Times, sebuah lembaga pemikir non-pemerintah yang merupakan mitra kementerian pertahanan Ukraina, telah menguraikan bagaimana Kiev dapat mengembangkan bom atom sederhana jika AS menarik bantuan militernya.

Foto: Zelenskiy / ResmiMeskipun kemudian Kiev membantah adanya rencana untuk membangun bom nuklir, dan tetap berkomitmen pada Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir), namun berkembangnya informasi sepeti itu tetap saja kemungkinan semacam itu cukup mengkhawatirkan, bahkan bagi negara yang termasuk adikuasa seperti Rusia sekalipun. Sebab jika benar Ukraina saat ini memiliki persediaan plutonium yang cukup memadai untuk membuat ratusan hulu ledak nuklir yang cukup kuat, meskipun hal ini masih perlu verifikasi, kiranya untuk menghancurkan pangkalan militer Rusia.
Baca:
Zelensky’s doomsday nuke option: How Ukraine could go nuclear on Putin and has enough plutonium to make HUNDREDS of nuclear warheads powerful enough to destroy Russian military bases
Namun terlepas bantahan dari pihak Ukraina, jika menelisik gambaran sekilas kondisi Ukraina saat memisahkan diri dari Uni Soviet pada 1991 lalu, Ukraina tercatat memiliki persenjataan nuklir terbesar ketiga di dunia, termasuk sekitar 1.900 hulu ledak strategis, 176 rudal balistik antarbenua (ICBM), dan 44 pesawat pembom strategis.
Pada tahun 1996, Ukraina telah mengembalikan semua hulu ledak nuklirnya ke Rusia sebagai imbalan atas bantuan ekonomi dan jaminan keamanan, dan pada Desember 1994, Ukraina menjadi negara non-senjata nuklir yang terikat pada Perjanjian Nonproliferasi Nuklir ( NPT ) tahun 1968. Akan tetapi mengingat situasi genting sejak 2022 ketika meletus konflik militer Rusia-Ukraina, spekulasi ihwal kemampuan membangun dan mengembangkan senjata nuklir, kembali mengundang kekhawatiran menguatnya kembali proliferasi nuklir di kawasan Eropa Barat maupun Eropa Timur.
Sebuah artikel yang ditulis oleh Daryl G. Kimball, dari Arms Control Association, Ukraina menandatangani Protokol Lisbon pada 23 Mei 1992. Protokol tersebut bertujuan untuk mengembalikan senjata nuklir di Belarus, Kazakhstan, dan Ukraina ke Rusia. Semua negara harus bergabung dengan START dan NPT.
Namun, di dalam Ukraina, tidak ada tanda-tanda kalau Ukraina berkomitmen meratifikasi START, bergabung dengan NPT, maupun program denuklirisasi secara keseluruhan. Protokol tersebut mensyaratkan Ukraina untuk mematuhi NPT secepat mungkin, tetapi memberi negara itu waktu hingga tujuh tahun untuk melaksanakannya.
Baca juga:
Ukraine, Nuclear Weapons, and Security Assurances at a Glance
Pengamatan Daryl G. Kimball memang cukup beralasan untuk bersikap skeptis terhadap itikad baik Ukraina. Sebab dalam lanskap politik nasional Ukraina pada 1992, dalam parlemen Ukraina ada arus kuat yang menginginkan negara yang baru memisahkan diri dari Uni Soviet setahun sebelumnya itu, mempunyai senjata nuklir. Dan berhak berstatus negara pemilik senjata nuklir.
Bahkan pada 1993, ambisi Ukraina untuk memiliki senjata nuklir semakin menguat ketika 162 politisi Ukraina menandatangani pernyataan untuk menambahkan 13 prasyarat untuk ratifikasi START, yang menghambat proses ratifikasi. Prasyarat tersebut mensyaratkan jaminan keamanan dari Rusia dan Amerika Serikat, bantuan luar negeri untuk pembongkaran, dan kompensasi untuk material nuklir. Selain itu, mereka menyatakan bahwa Ukraina hanya akan membongkar 36 persen dari kendaraan pengirimannya dan 42 persen dari hulu ledaknya, sisanya tetap berada di bawah kendali Ukraina.
Jadi kalau mencermati kesejarahannya, sangat masuk akal jika muncul pandangan bahwa Ukraina saat ini sedang mengembangkan senjata nuklirnya. Dan bukan omong kosong jika saat ini Ukraina dengan plutonium dan menggunakan teknologi serupa, akan mampu membuat bom nuklir seperti yang pernah dijatuhkan tentara Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945.
Dengan demikian, dunia internasioal tetap menaruh kekhawatiran terhadap kemampuan nuklir Ukraina. Sebab meskipun negara pecahan Uni Soviet tersebut telah melepaskan persenjataan nuklirnya pada tahun 1996, namun Kiev masih masih mengendalikan sembilan reaktor operasional dan memiliki keahlian yang cukup diandalkan tentang cara membangun senjata tersebut.
Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, Global Future Institute (GFI)